Cerita Dadang, Sopir Bus yang Rayakan Lebaran di Jalan Selama Hampir 30 Tahun

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Di saat banyak orang merayakan Lebaran dengan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman, sebagian pekerja justru harus tetap menjalankan tugasnya di jalan.

Salah satunya adalah Dadang (50), sopir bus di Terminal Tanjung Priok, yang telah terbiasa melewatkan Idul Fitri jauh dari keluarga.

“Saya mah jarang di rumah kalau lebaran,” katanya saat ditemui di Terminal Tanjung Priok, Selasa (17/3/2026).

Baca juga: Arus Mudik Memuncak, Terminal Kalideres Dipadati Penumpang

Dadang telah menekuni pekerjaan sebagai sopir bus sejak 1998. Selama hampir tiga dekade, ia telah melintasi berbagai rute antarkota, terutama saat musim mudik Lebaran.

Rute yang ia jalani saat ini umumnya menuju Bandung. Namun, pada masa lalu, ia juga kerap mengemudi ke berbagai daerah di Pulau Jawa hingga Sumatera.

“Kalau dulu mah sebelum ada mobil khusus wisata itu, kadang ke Bukittinggi, kadang ke Sipirok, Pemalang, Pacitan,” ujarnya.

Sebagai sopir bus, Dadang hampir selalu absen dari tradisi berkumpul bersama keluarga saat hari raya. Bahkan, kondisi tersebut kini juga dialami oleh anak-anaknya yang mengikuti jejaknya menjadi pengemudi bus.

"Saya anak tiga laki semua. Dua tuh nyupir juga, bawa bis juga," ujarnya.

Ia mengungkapkan, momen berkumpul keluarga biasanya baru bisa dilakukan setelah arus mudik selesai, sekitar dua minggu setelah Lebaran.

"Jarang ngumpul. Nanti ngumpulnya dua minggu habis lebaran tuh ngumpul. Terus kami acara ke mana nih, begitu. Ke Anyer, ke Pangandaran, sekeluarga aja," ceritanya.

Meski sudah terbiasa, Dadang mengaku tetap merasakan kehilangan momen kebersamaan, terlebih ketika anak-anaknya juga harus bekerja di jalan saat Lebaran.

"Cuma ya sedihnya gitu. Orang-orang pada ngumpul, kami di jalan. Anak saya lagi ada yang ke Sipirok sekarang, itu nanti pulangnya H+7 lebaran," ungkapnya.

Baca juga: 892 Pemudik Berangkat dari Terminal Pulo Gebang Pagi Ini, Mayoritas ke Sumatera dan Jawa

Pekerjaan turun temurun

Meski dua anaknya kini bekerja sebagai sopir bus, Dadang menegaskan, ia tidak pernah secara khusus mengarahkan mereka mengikuti jejaknya.

“Sudah saya arahin jangan sampai lari ke mobil, eh ke mobil juga. Ya, takdir,” ucapnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Sebagai sopir berpengalaman, Dadang memahami betul berbagai risiko yang dihadapi di jalan. Hal itu pula yang membuat dia merasa khawatir terhadap anak-anaknya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Duel Kinerja Emiten Haji Isam PGUN dan TEBE, Laba Siapa yang Lebih Tebal?
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Dukung Kejagung Awasi Ketat Dana Desa, Sahroni: Bukan untuk Perkaya Kades!
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Prakiraan Cuaca di Jakarta Hari Ini Berawan Sepanjang Hari
• 12 jam lalukompas.com
thumb
Prediksi 18 Pemain yang Akan Tercoret dari Skuad Timnas Indonesia Menuju FIFA Series 2026
• 23 jam lalubola.com
thumb
IHSG Ditutup Meroket 1,20% ke Level 7.106
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.