Era penggabungan usaha atau merger PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) atau Moratelindo dengan Grup Sinarmas melalui anak usaha PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), yakni PT Eka Mas Republik (MyRepublic) atau EMR resmi dimulai. Usai merger, MORA akan berganti nama menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk.
Dalam aksi korporasi ini, MORA akan menjadi perusahaan bertahan. Sementara MyRepublic Indonesia bergabung ke dalam entitas baru bernama PT Ekamas Mora Republik Tbk
Dalam aksi itu, pemegang saham EMR akan menerima saham baru yang diterbitkan MORA berdasarkan rasio konversi tertentu dari jumlah saham yang telah ditempatkan dan disetor di EMR sebelum merger. Dari perhitungan itu ditetapkan bahwa 1 saham EMR setara dengan 7.703,807548 saham MORA.
Berdasarkan rasio konversi tersebut, MORA akan menerbitkan 24.127.524.045 saham baru kepada para pemegang saham EMR. Penerbitan saham baru ini akan menyebabkan penurunan persentase kepemilikan (dilusi) pemegang saham MORA sekitar 50,50%.
Tak hanya itu, manajemen menetapkan harga pembelian kembali saham atau buyback sebesar Rp 432 per saham. Mengacu pada daftar pemegang saham per 31 Januari 2026, jumlah saham MORA tercatat 23,64 miliar saham. MORA akan buyback maksimal 10% dari modal ditempatkan atau sekitar 2,36 miliar saham, dengan total dana maksimal sekitar Rp 1,02 triliun.
Apabila nilai buyback melebihi batas tersebut, sisa saham akan dibeli oleh pihak ketiga. Adapun PT Innovate Mas Utama (IMU) akan bertindak sebagai pembeli siaga dan membeli kelebihan saham dari pemegang saham yang menolak merger. IMU juga telah menandatangani perjanjian pinjaman dengan DSSA pada 12 Januari 2026 dan berlaku hingga 12 Januari 2031.
Tak hanya itu, pemilik manfaat akhir PT Innovate Mas Utama (IMU) yakni konglomerat Franky Oesman Widjaja. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUSPLB) akan digelar pada 26 Maret 2026 mendatang.
“Menyetujui IMU sebagai pemegang saham pengendali dan Franky Oesman Widjaja dan Farida Bau sebagai pemilik manfaat akhir atas perusahaan yang menerima penggabungan,” tulis manajemen dalam prospektus ringkas, Selasa (17/3).
Setelah efektif merger, berikut jajaran dewan komisaris dan direksi yang baru:
Dewan Komisaris
- Komisaris Utama & Komisaris Independen: Arsjad Rasjid
- Komisaris: Marlo Budiman
- Komisaris: Handhianto S. Kentjono
Direksi
- Direktur Utama: Timotius M. Sulaiman
- Direktur: Yopie Widjaja
- Direktur: Hendra Gunawan
- Direktur: Edward Sanusi
- Direktur: Iman Syahrizal
- Direktur: Melanie Maharani
- Direktur: Edward Anwar
- Direktur: Jimmy Kadir
- Direktur: Genta A. Putra
- Direktur: Michael C. McPhail
- Direktur: Resi Y. Bramani
Namun susunan nama-nama tersebut masih dapat berubah sebelum maupun saat pelaksanaan RUPSLB MORA.
Di samping itu setelah efektif dengan asumsi tidak ada pemegang saham MORA dan MER yang akan menjual saham yang dimilikinya, maka struktur permodalan yang menerima penggabungan sebagai berikut.
Sebelumnya Direktur Utama dan CEO MyRepublic Indonesia, Timotius Max Sulaiman, dampak strategis, finansial, dan operasional dari merger ini akan memperkuat kapasitas entitas gabungan dalam meningkatkan kualitas layanan.
Ia mengaku penggabungan ini juga diharapkan dapat mempercepat dan memperluas pengembangan ekosistem digital di Indonesia, sekaligus menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelanggan, karyawan, negara, dan pemegang saham.
Senada, Presiden Direktur PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), Krisnan Cahya, menilai merger ini menjadi salah satu langkah strategis untuk mendorong agenda transformasi digital nasional.
Ia menilai penguatan jangkauan jaringan serta pengembangan layanan secara berkelanjutan akan mendukung percepatan dan pemerataan ekosistem digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.
Adapun Moratelindo merupakan penyedia akses jaringan (NAP) dan layanan internet (ISP) yang beroperasi sejak 2000, sekaligus salah satu pemilik jaringan tulang punggung serat optik terbesar di Indonesia.
Hingga September 2025, Moratelindo memiliki lebih dari 57 ribu kilometer kabel serat optik, enam pusat data berkapasitas 3,3 megawatt, melayani 16,8 ribu pelanggan korporasi, hampir 1 juta homepass, serta lebih dari 296 ribu pelanggan ritel.
Sementara itu, MyRepublic Indonesia, anak usaha DSSA, merupakan penyedia layanan fiber to the home (FTTH) terdepan di Tanah Air. Per September 2025, MyRepublic melayani lebih dari 1,52 juta pelanggan ritel, menyediakan layanan internet hingga 1 Gbps, dengan total jaringan serat optik lebih dari 58 ribu kilometer dan 8,7 juta homepass.




