SURABAYA, KOMPAS — Kepolisian Daerah Jawa Timur mengirim tim dari Detasemen Gegana untuk turut menyelidiki ledakan keras di Masjid Raya Pesona Alhabsyi Pesona Regency, Kelurahan Patrang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember.
”Kepala Polda Jatim (Inspektur Jenderal Nanang Avianto) juga telah ke lokasi untuk mengawasi olah tempat kejadian perkara,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jatim Komisaris Besar Jules Abraham Abast saat dikonfirmasi di Surabaya, Selasa (17/3/2026).
Menurut laporan dari Kepolisian Resor Jember, ledakan terjadi saat shalat Tarawih pada Senin (16/3/2026) sekitar pukul 19.30 WIB. Saat itu, jemaah sedang melaksanakan shalat ketujuh dari 23 rakaat yang akan dijalankan.
Tiba-tiba dari tempat wudu laki-laki terdengar ledakan keras. Ledakan mengagetkan dan mengguncang jemaah. Ledakan sampai membuat salah satu bagian dinding jebol dan merusak plafon di dekatnya.
Menurut Jules, seorang jemaah cedera atau terluka akibat ledakan. Posisi shalat korban terdekat dengan sumber ledakan. Korban sampai mengalami gangguan pendengaran akibat ledakan itu sehingga perlu ditangani di rumah sakit.
”Tim penyidik memeriksa sejumlah saksi mata kejadian,” kata Jules. Sejauh ini ada 9 saksi yang diperiksa untuk menyelidiki sumber ledakan dan benda apa yang meledak.
Jules melanjutkan, tim penyidik belum mendapat kesimpulan jenis sumber ledakan. ”Masih diselidiki, mohon waktu untuk tim bekerja,” ujarnya.
Sampai Selasa pagi, tim penyidik masih memeriksa seluruh area masjid dan kawasan sekitarnya. Mereka juga mengidentifikasi bagian-bagian yang rusak dan mengumpulkan barang bukti. Selama penyelidikan, masjid disterilkan.
Kepada tim penyidik, Ketua Takmir Masjid Raya Pesona Alhabsyi Muhammad Fadil mengatakan, ada dugaan ledakan berasal dari lemari terbengkalai dekat tempat wudlu. Di sini juga ada papan-papan yang belum digunakan.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Jember Ajun Komisaris Angga Riatma mengatakan, tim penyidik juga mencari dan memeriksa rekaman video kamera pengawas jika ada.
”Kami menyelidiki siapa saja orang yang dapat diduga menaruh sesuatu di lokasi sumber ledakan,” kata Angga.
Insiden di Jember itu menambah daftar kasus serupa di Jatim sejak awal tahun 2026. Sejumlah kasus setidaknya terjadi selama bulan Ramadhan tahun ini.
Penelusuran Kompas, Selasa (17/3/2026) dini hari atau jelang pukul 01.00 WIB, terjadi ledakan di bagian belakang mushala Dusun Tapan, Desa Bakung, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Ledakan diduga kuat dari racikan petasan sehingga mengakibatkan luka bakar serius terhadap dua pemuda berinisial MZF (16) dan MAP (19).
Sebelumnya, Minggu (1/3/2026) pukul 17.00 WIB, ledakan keras terdengar dari teras rumah seorang warga Dusun Cuwet, Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Ledakan menewaskan Rifai Kurnia Putra (16), putra pemilik rumah.
Selain itu, peristiwa itu melukai dua lelaki lainnya. Salah satunya Ahmad Fathoni (19), teman korban, yang meninggal dunia di RSUD Dr Harjono pada Kamis (5/3/2026). Rifai dan Fathoni meninggal dunia akibat ledakan dari bahan petasan yang mereka racik di depan pintu rumah.
Kepolisian Resor Ponorogo juga mengidentifikasi korban lainnya, yakni Hindar Agusta (28). Korban datang untuk mengembalikan sepeda motor kepada pemilik rumah. Apesnya, saat mendekat untuk melihat aktivitas racik petasan oleh Rifai dan Fathoni, Hindar turut terkena ledakan dan menderita luka bakar. Namun, setelah ditangani di RSUD Dr Harjono, Hindar berangsur pulih dan kini menjalani rawat jalan.
Menurut Kepala Polres Ponorogo Ajun Komisaris Besar Andin Wisnu Sudibyo, hasil penyelidikan menyimpulkan ledakan berasal dari aktivitas meracik petasan oleh kedua pemuda yang menjadi korban.
Kejadian serupa, Rabu (18/2/2026), ada di rumah seorang warga di Dusun Mimbo, Desa Sumberanyar, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Situbondo. Ledakan mengakibatkan kematian dua orang, yakni Supriyadi (50) dan Abdurrahman (15).
Menurut Kepala Polres Situbondo Ajun Komisaris Besar Bayu Anuwar Sidiqie, ledakan dari peracikan petasan berasal dari kediaman Kulsum (60). Ledakan menghancurkan rumah warga itu dan merusak 11 rumah tetangganya.
”Ledakan mengakibatkan dua warga meninggal dunia dan lima orang, termasuk pemilik rumah, dirawat karena luka serius,” kata Bayu.
Ledakan dari petasan itu menghasilkan cekungan di bagian dalam rumah Kulsum. Cekungan berdiameter 50 sentimeter (cm) dan kedalaman 6 cm. Cekungan menjadi bukti kuatnya ledakan petasan. Dari petasan tersisa yang belum meledak dan disita sebagai barang bukti, ukuran diameter 5 cm dan panjang 15 cm. Petasan yang meledak berukuran jauh lebih besar.
Meracik hingga bermain petasan telah menjadi kelaziman, bahkan membudaya, bagi sebagian warga selama bulan puasa. Padahal, insiden fatal akibat ledakan petasan terus berulang. Polri juga telah mengeluarkan permintaan, bahkan larangan peredaran bahan peledak untuk petasan mengingat risiko terhadap keselamatan nyawa.
Penggunaan petasan dan kembang api sebagai mainan kembali marak saat Ramadhan. Bahkan, di Surabaya dan sekitarnya, hampir setiap petang atau selepas buka puasa, anak dan remaja bermain petasan. Mereka mudah mendapatkan mainan ini karena dijual meskipun ada yang secara tersembunyi untuk menghindari razia dari petugas.





