Pengamat Sebut Bea Cukai Harus Direformasi Total, Mulai dari Pucuk Pimpinan

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta VIVA – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Prof. Telisa Aulia Falianty mengatakan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai tidak perlu dibubarkan. Bea Cukai, menurutnya, hanya perlu direformasi total.

Dia menyebut, reformasi Bea Cukai secara total harus dimulai dari pucuk pimpinannya.

Baca Juga :
KPK Sita Mobil dan Uang Tunai 78 Ribu Dolar Singapura di Kasus Korupsi Bea Cukai
Ketua Baznas: Prabowo Ingatkan Zakat Tak Boleh Digunakan untuk MBG

"Kalau dibubarkan siapa yang mengurus custom and tax-nya? Nanti lebih parah lagi. Kan sangat krusial juga peranan dari custom and tax itu. Untuk mengecek barang, kemudian mengendalikan arus barang keluar masuk, terus mengendalikan cukai untuk menekan eksternalitas negatif. Jadi reformasinya itu tidak boleh setengah-setengah," kata Telisa dalam keterangannya, dikutip Selasa, 17 Maret 2026.

Telisa menilai Bea Cukai selayaknya memang tidak dibubarkan karena negara memerlukan custom and tax, dan hal ini diperlukan di setiap negara. Namun bagaimana pola perekrutannya perlu diperbaiki agar Bea Cukai diisi oleh orang-orang yang berintegritas.

"Karena sangat tergantung dari integritas orang meskipun memang ada digitalisasi di berbagai sistem bea cukai, sistem yang digunakan itu juga sangat penting," ujarnya.

Dia juga menyerukan perlunya digitalisasi sistem kepabeanan dan cukai, untuk mengurangi kemungkinan terjadinya human-human error yang terkait dengan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh staf.

"Karena seperti kita tahu banyak kebocoran negara juga di sana. Transaksi cukai, transaksi perdagangan, masuk dan keluar barang itu juga sangat berpengaruh," ujar

Hal senada disampaikan Ekonom UKI Milko Hutabarat, menyebut Bea Cukai tidak perlu dibubarkan dan diganti dengan SGS, tapi perlu direformasi dengan lebih tegas, terukur dan transparan.

Menurutnya, Ditjen BC memiliki fungsi pengawasan, penegakan hukum, pelayanan-fasilitasi, serta optimalisasi penerimaan negara.

"Untuk itu reformasi perlu dilakukan dengan menghapus titik-titik korupsi, memiliki risk management yang kuat melalui Authorized Economic Operator (AEO), perbaikan kualitas SDM, adanya standar layanan yang jelas dan transparan kepada masyarakat, dan mempercepat proses integrasi data lintas instansi," tutur Milko.

Milko mengatakan, reformasi dapat mencakup penggantian personil, dari tingkat paling atas (Dirjen) sampai dengan paling bawah seperti staf.

"Dirjen Bea Cukai yang sekarang sebelumnya dari TNI, jadi masih belum memahami seluk beluk sistem di Bea Cukai. Mungkin ini jadi celah bagi oknum aparat untuk menghindar dari pengawasan," kaya Milko.

Baca Juga :
Prabowo Protes ke Hashim Gegara Progres Program 3 Juta Rumah Lambat
Komisi III DPR Sebut Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Bentuk Perlawanan ke Pemerintahan Prabowo
Ketua Komisi X: Serangan Air Keras ke Andrie Yunus Tak Layak Diterima

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Foto: Korut Tembakan Rudal Balistik Saat AS-Korsel Latihan Bareng
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Meniru Teknik Goebbels: Propaganda Emosional dalam Narasi Iran–Israel
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
KPK Sita Rp 1 Miliar dari Rumah Kepala Dinas PUPR Rejang Lebong
• 18 jam laluliputan6.com
thumb
Kuliner Kereta Hadirkan Berbagai Sajian Menu Baru di Angleb 2026
• 1 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Ngeri! 2 Perempuan Boncengan Motor Tewas Masuk Kolong Truk Tronton di Jombang
• 15 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.