Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus disiram air keras oleh orang tidak dikenal. Perwakilan KontraS, Jane Rosalina mengatakan, serangan terhadap Andrie tidak bisa dipandang sebagai kekerasan biasa.
Ia menilai cara pelaku menyerang dengan menyiramkan cairan kimia berbahaya ke bagian tubuh vital korban menunjukkan adanya perencanaan.
“Serangan ini menunjukkan indikasi kuat sebagai tindakan yang direncanakan dan dilakukan secara terorganisir,” kata Jane dalam konferensi pers di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta, Senin (16/3).
Menurut dia, pelaku menyiramkan cairan asam secara langsung ke wajah dan area pernapasan korban. Cara tersebut dinilai berpotensi mengancam nyawa korban atau setidaknya menyebabkan cacat permanen.
Oleh karena itu, KontraS memandang peristiwa tersebut sebagai dugaan percobaan pembunuhan berencana yang harus diusut secara serius oleh aparat penegak hukum.
Terkait pengusutan kasus ini polisi telah melakukan penyelidikan. beberapa petunjuk telah didapatkan untuk mengungkap pelaku penyiraman air keras tersebut.
Berikut upaya yang telah dilakukan polisi:
Temukan Helm Milik Terduga PelakuPolisi mengungkapkan, helm milik pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, telah diamankan. Penyidik menemukan helm tersebut terjatuh di Jalan Salemba 1 yang mengarah ke RSCM, Jakarta Pusat, setelah insiden terjadi pada Kamis (12/3).
"Kemudian dari penelusuran sepanjang Jalan Salemba 1 didapat barang bukti yang diduga milik pelaku di Jalan Salemba 1 menuju RSCM," ucap Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Reynold Hutagalung saat memberikan keterangan pers di Polda Metro Jaya, Senin (16/3).
Reynold menegaskan, helm ini valid milik pelaku, sesuai dengan rekaman CCTV yang menunjukkan bahwa pelaku menggunakan helm tersebut.
"Ini bersesuaian dengan rekaman CCTV bahwa pelaku yang mengendarai menggunakan helm tersebut," ucap Reynold.
Helm tersebut kini telah diserahkan ke Bareskrim Polri untuk diselidiki lebih lanjut. Penyelidikan atas helm ini, kata Reynold, telah dilakukan sejak Minggu (15/3).
"Pada tanggal 15 Maret 2026 melakukan pengiriman barang bukti helm yang diduga milik pelaku ke Pusinafis (Pusat Indonesia Automatic Fingerprint Identification System) Bareskrim Polri untuk mendapatkan sidik jari," tutur Reynold.
Selain itu, Reynold mengungkapkan, helm juga diserahkan ke Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri untuk diperiksa DNA-nya.
Periksa 7 SaksiPolisi telah memeriksa tujuh saksi terkait kasus ini. Mereka dibagi jadi dua klaster, yang pertama ada empat saksi di lokasi tempat Andrie Yunus disiram air keras.
"Penyidik telah melakukan interview terhadap saksi-saksi yang mengetahui, mendengar, dan berada di sekitar TKP sebanyak empat orang," ucap Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Reynold Hutagalung saat memberikan keterangan pers di Polda Metro Jaya, Senin (16/3).
Reynold mengatakan para saksi tersebut merupakan pemilik CCTV, yang menolong Andrie Yunus, hingga yang sempat berusaha mengejar pelaku di TKP, Jalan Salemba 1, Jakarta Pusat saat peristiwa terjadi pada Kamis (12/3).
Sementara itu, klaster kedua saksi ini berjumlah tiga orang. Ketiga orang ini merupakan petugas polisi, yakni Ipda Dede Saepudin sebagai pelapor kasus ini, Brigadir Redho Feris sebagai tim identifikasi Polres Metro Jakarta Pusat, dan Aipda Faisal yang menemukan helm Andrie.
Diikuti Sejak di Kantor YLBHIPolisi menduga Andrie telah diikuti oleh empat pelaku sejak dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang berada di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (12/3).
"Dari LBH Jakarta (YLBHI) rekan-rekan sekalian, sudah mulai para pelaku mengikuti korban ketika korban selesai acara di LBH Jakarta (YLBHI). Mengikuti terus pergerakan korban," ungkap Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imannudin saat memberikan keterangan pers di Polda Metro Jaya, Senin (16/3).
Iman mengatakan, setelah Andrie selesai mengisi siniar (podcast) dari Kantor YLBHI, ia sempat mengisi bahan bakar kendaraannya di SPBU Cikini Raya. Pada kesempatan ini, Iman mengungkapkan para pelaku menunggu Andrie di depan KFC Cikini.
"Korban ini tidak langsung menuju ke tempat kejadian perkara, namun sempat mengisi bahan bakar dulu di SPBU Cikini Raya. Dan diikuti oleh pelaku," kata Iman.
"Selanjutnya, diduga empat orang terduga pelaku yang menggunakan dua sepeda motor, menunggu korban di depan KFC Cikini," imbuhnya.
Setelah itu, Iman mengatakan, Andrie berputar balik menuju Jalan Pangeran Diponegoro dan melaju ke Jalan Salemba I. Sepanjang jalan ini, Andrie terus diikuti hingga kemudian terjadi penyiraman terhadapnya.
Analisis 86 CCTVSebanyak 86 titik kamera pengawas (CCTV) yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta, dianalisa penyidik untuk mengungkap pelaku.
"Ada 7 titik kamera pengawas atau CCTV yang diambil dari sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) elektronik tilang. Kemudian ada 27 titik yang kami ambil dari Diskominfo, kemudian ada 8 titik yang kami ambil dari Dinas Perhubungan. Kemudian ada 44 titik CCTV dari warga," ujar Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imannudin saat jumpa pers di Polda Metro Jaya, Senin (16/3).
Dalam analisa yang dilakukan oleh penyidik, ada lebih dari 2 ribu gambar dan video berdurasi lebih dari 10 ribu menit.
"Dari 86 titik kamera pengawas yang kami analisa, ada 2.610 gambar dalam bentuk video dengan durasi 10.320 menit. Sehingga kami membutuhkan waktu cukup beberapa hari ini di dalam menganalisa digital terhadap video rekaman CCTV yang ada di sepanjang jalur yang dilintasi oleh pelaku," jelas Iman.
Analisa atas CCTV ini dilakukan setelah polisi mendapatkan informasi dan laporan mengenai peristiwa penyerangan Andrie. Selain CCTV, polisi melakukan analisa terhadap saluran komunikasi.
Berdasarkan analisa ini, polisi dapat mengetahui gerak keempat terduga pelaku yang menggunakan dua motor mulai dari sebelum mengikuti Andrie, saat Andrie diikuti hingga terjadinya penyiraman, sampai berpencarnya para pelaku.
Pelaku Punya KetenanganPolisi mengungkap, para terduga pelaku memiliki ketenangan saat menjalankan aksinya. Kesimpulan itu didapat polisi, saat mereka melakukan analisis digital saat kejadian berlangsung.
"Kemudian apakah jaringannya sudah terlatih? Selama beberapa hari kami melakukan analisa digital, kami melihat perjalanan para pelaku ini memang memiliki ketenangan," ucap Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imannudin, di Polda Metro Jaya, Senin (16/3).
Kata Iman, ketenangan ini nampak saat para pelaku berpindah dari satu titik ke titik yang lain, termasuk mengikuti Andrie dari YLBHI hingga aksi penyiraman dilakukan.
"Ketenangan dalam melakukan apa perjalanan dari mulai satu titik ke titik yang lain pada saat menjelang-menjelang kejadian," ujar Iman.
Namun, kata Iman, setelah melakukan aksinya, keempat terduga pelaku yang berada di dua motor melaju dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.





