Direktur Utama PT KAI (Persero) Bobby Rasyidin buka suara terkait rencana penambahan 30 rangkaian baru KRL Commuter Line Jabodetabek. Program tersebut awalnya arahan Presiden Prabowo Subianto dengan dukungan anggaran sekitar Rp 5 triliun.
Kata Bobby, tambahan rangkaian KRL tersebut ditargetkan akan beroperasi pada akhir tahun 2026 ini.
“Akhir tahun ini (rangkaian baru beroperasi), semua,” kata Bobby saat ditemui usai Pencanangan Hunian Program Tiga Juta Rumah di Kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, Senin (16/3).
Seiring dengan rencana pengoperasian rangkaian baru tersebut, ia mengatakan saat ini KAI tengah meningkatkan kapasitas jalur di sejumlah stasiun. KAI juga melakukan penyesuaian sistem persinyalan di beberapa titik untuk mendukung operasional rangkaian kereta baru.
“Lagi kita bangun. Kita bangun sarana-prasarana. Jadi kalau prasarananya, kan nggak mungkin keretanya ditambah kalau jalurnya nggak ditambah, peron-nya nggak diperpanjang. Sekarang kita mulai peron-peron kita perpanjang,” tutur Bobby.
Bobby memastikan peningkatan kapasitas jalur dimulai dari Stasiun Bogor, kemudian dilanjutkan ke Stasiun Citayam.
“Sehingga nanti sistem pensinyalan-nya kita juga upgrade. Sehingga nanti baru bisa pakai kereta baru,” ucap Bobby.
Sebelumnya, Prabowo menyoroti penuhnya penumpang KRL saat jam sibuk pergi atau pulang kerja. Untuk mengurai kepadatan, dia minta PT KAI segera tambah rangkaian gerbong.
KAI sebenarnya sudah mengajukan penambahan anggaran pengadaan KRL Rp 4,8 triliun dengan asumsi satu gerbong USD 9 juta. Prabowo mengatakan siap memberikan anggaran Rp 5 triliun.
“Kalau kau bisa 6 bulan, oke. Tapi 1 tahun harus. Ini rakyat yang saksi ya? Jadi nanti ada tambahan 30 rangkaian baru,” kata Prabowo saat meresmikan Stasiun Tanah Abang Baru pada 4 November 2025.
Di luar dari padatnya penumpang KRL, Prabowo mengapresiasi KAI yang sudah menciptakan stasiun dan gerbong KRL yang nyaman bagi penumpang.





