Militer AS Kirim 10.000 Drone Interseptor, Lebih Hemat untuk Melawan Iran

erabaru.net
17 jam lalu
Cover Berita

Media melaporkan bahwa militer Amerika Serikat telah mengirim sekitar 10.000 drone interseptor “Merops” ke Timur Tengah untuk menghadapi drone dan rudal Iran. Drone ini sebelumnya telah digunakan dalam pertempuran di medan perang Rusia-Ukraina dan dianggap sebagai metode pertahanan dengan biaya lebih rendah.

EtIndonesia. Menurut laporan Bloomberg, setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, hanya dalam waktu lima hari drone-drone tersebut sudah dengan cepat dikirim ke medan perang.

Menteri Angkatan Darat AS Dan Driscoll menjelaskan bahwa drone “Merops” dikembangkan dalam proyek “Project Eagle”, yang juga mendapat dukungan dari mantan CEO Google Eric Schmidt. Drone ini mulai dikirim ke Ukraina pada tahun 2024, dengan harga sekitar 14.000 hingga 15.000 dolar AS per unit. Jika diproduksi secara massal di masa depan, biayanya bahkan dapat turun menjadi sekitar 3.000 hingga 5.000 dolar AS.

Sebagai perbandingan, drone “Shahed” buatan Iran diperkirakan setidaknya berharga sekitar 20.000 dolar AS per unit. Artinya, jika drone interseptor yang lebih murah digunakan untuk menembak jatuh drone tersebut, dari sisi biaya justru Iran yang akan lebih merugi.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa jika drone interseptor berbiaya rendah ini digunakan secara luas, cara pertahanan Amerika Serikat dan Israel kemungkinan akan berubah. Sebelumnya, untuk mencegat drone atau rudal sering digunakan sistem Patriot atau THAAD, sementara satu rudal pencegat dari sistem tersebut bisa mencapai harga sekitar 4 juta dolar AS.

Selain “Merops”, militer AS juga telah menempatkan beberapa peralatan anti-drone lainnya di Timur Tengah. Misalnya drone interseptor “Coyote” yang diproduksi oleh perusahaan RTX. 

Selain itu, Angkatan Darat AS juga mengerahkan drone quadcopter bernama “Hornet”, yang dapat membawa bahan peledak, melacak target, dan langsung menabrak drone musuh untuk menghancurkannya. Drone ini juga telah diuji di medan perang Ukraina.

Pada Januari lalu, Angkatan Darat AS juga melalui Satuan Tugas Gabungan Antar-Lembaga 401 yang baru dibentuk oleh Pentagon menandatangani kontrak sekitar 5,2 juta dolar AS untuk membeli sistem “Hornet”. Tugas utama satuan ini adalah mengembangkan, membeli, dan secepat mungkin mengerahkan berbagai peralatan anti-drone ke medan perang. (Hui)

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Selamat Sempurna (SMSM) Raih Laba Bersih Rp1,13 Triliun pada 2025
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Digugat Cerai Wardatina Mawa, Hubungan Insanul Fahmi dan Inara Rusli Kini Renggang
• 21 jam lalugrid.id
thumb
Mudik Gratis Presisi 2026 Targetkan 32 Ribu Peserta, Jatim Sediakan Kapal Angkut Kendaraan
• 17 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
PN Makassar Kabulkan Praperadilan Kekerasan Jurnalis, KAJ Sulsel: Jadi Yurisprudensi Baru
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Istana soal Penyiraman Air Keras Andrie Yunus: Presiden Minta Usut Cepat
• 48 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.