Emisi Shell 1,12 Miliar Ton CO2 pada 2025, Melampaui Arab Saudi dan Mendekati RI

katadata.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

Raksasa energi dan petrokimia Shell plc mencatat total emisi gas rumah kaca sekitar 1,12 miliar ton CO2 ekuivalen pada 2025. Angka ini hanya turun tipis dibandingkan 1,14 miliar ton CO2 ekuivalen pada 2024, menurut laporan tahunan perusahaan.

Sebagai perbandingan, bila mengacu pada data Emissions Database for Global Atmospheric Research (EDGAR), total emisi gas rumah kaca Shell tak jauh beda dengan Indonesia 1,32 miliar ton CO2 dan Jepang 1,06 miliar ton CO2. Serta melampaui produsen besar minyak bumi Arab Saudi 838,88 juta ton CO2 dan Kanada 768,06 juta ton CO2. 

Sebagian besar emisi Shell berasal dari Scope 3, yakni emisi tidak langsung yang muncul ketika produk energi yang dijual perusahaan, seperti bensin atau solar, digunakan oleh konsumen. Pada 2025, kategori ini menyumbang sekitar 836 juta ton CO2 ekuivalen.

Selain dari penggunaan bahan bakar yang dijualnya, emisi Scope 3 Shell juga berasal dari berbagai aktivitas dalam rantai pasok. Di antaranya pembelian barang dan jasa sekitar 122 juta ton CO2 ekuivalen, aktivitas terkait energi dan bahan bakar sekitar 103 juta ton, serta transportasi dan distribusi di hilir sekitar 4 juta ton.

Sementara itu, emisi yang berasal langsung dari operasi perusahaan, yakni Scope 1 dan Scope 2, tercatat sekitar 53 juta ton CO2 ekuivalen pada 2025. Angka ini turun dibandingkan 58 juta ton pada 2024.

Jika dibandingkan dengan tahun dasar 2016, emisi Scope 1 dan 2 Shell telah turun sekitar 36 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh perubahan portofolio bisnis, proyek pengurangan emisi, serta penghentian sementara operasi di sejumlah fasilitas.

Beberapa perubahan portofolio yang memengaruhi angka emisi antara lain penjualan The Shell Petroleum Development Company of Nigeria Limited pada Maret 2025 dan pelepasan Shell Energy and Chemicals Park Singapore pada April 2025.

Di sisi lain, Shell juga mengakuisisi RISEC Holdings LLC, termasuk pembangkit listrik turbin gas siklus gabungan berkapasitas 609 megawatt pada Januari 2025.

Pengurangan emisi juga diperoleh dari sejumlah proyek transformasi energi di berbagai lokasi, seperti di Shell Energy and Chemicals Park Rheinland di Jerman, elektrifikasi kompresor di Kanada, serta peningkatan teknologi katalis di fasilitas perusahaan di Qatar.

Intensitas Karbon

Laporan tersebut juga mencatat perkembangan target transisi energi Shell melalui indikator Net Carbon Intensity (NCI), yaitu ukuran intensitas karbon dari energi yang dijual perusahaan. Pada 2025, NCI Shell tercatat 71 gram CO2 ekuivalen per megajoule, tidak berubah dibandingkan 2024.

Perusahaan menyatakan angka tersebut dipengaruhi oleh peningkatan penjualan listrik, termasuk listrik terbarukan, serta penurunan penjualan produk minyak. Namun, efek tersebut sebagian diimbangi oleh berkurangnya penggunaan kredit karbon.

Secara keseluruhan, intensitas karbon Shell telah turun sekitar 9 persen dibandingkan tahun dasar 2016, ketika NCI perusahaan masih berada di level 78 gram CO2 ekuivalen per megajoule. Capaian ini berada dalam kisaran target sementara Shell untuk menurunkan intensitas karbon sebesar 9-13 persen pada 2025.

Shell menargetkan NCI mencapai nol pada 2050 sebagai bagian dari strategi transisi energi perusahaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dugaan Perselingkuhan dengan Dokter Koas Viral, Dokter Maissy dan Suami Sudah Tak Tinggal Serumah
• 10 jam lalugrid.id
thumb
Video  Benjamin Netanyahu Saat di Kafe Kembali Terindikasi AI, Rusia hingga Iran Sebut Perdana Menteri (PM) Israel Itu Tewas
• 8 jam laluharianfajar
thumb
16,3 Juta Wajib Pajak Aktivasi Coretax, 8,12 Juta SPT Terlaporkan
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Balada Porter Pasar Senen: Penumpang Membeludak, Dompet Belum Tentu Menebal
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Masyarakat Diimbau Tak Sebarkan Foto Rekayasa AI Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
• 21 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.