5 Tradisi Unik Lebaran di Indonesia: Grebeg Syawal hingga Perang Topat

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bulan Ramadan segera berakhir, masyarakat Indonesia pun ramai-ramai menyambut hari kemenangan Idul Fitri. Jelang lebaran banyak tradisi unik yang menghiasi keberagaman daerah di Indonesia.

Biasanya, pawai obor takbiran jelang Hari Raya Idul Fitri menjadi tradisi yang paling mudah kita temui di perdesaan maupun di beberapa wilayah perkotaan Indonesia hingga saat ini. Namun, sebetulnya masih banyak tradisi-tradisi unik lainnya yang justru berhasil menjadi representasi masing-masing daerah di Indonesia.

Dosen Antropologi UI dan Peneliti, Irwan Martua Hidayana menjelaskan hubungan agama dengan tradisi lokal yang justru saling membentuk keselarasan.

"Di sini kita bicara tentang hubungan agama, tradisi dan budaya lokal. Antropologi melihat agama sebagai praktik sosial bukan yang dogmatik. Dalam praktiknya, agama selalu berinteraksi dengan konteks budaya setempat. Di antropologi disebut sebagai vernacular Islam atau Islam lokal. Ini adalah proses yang sudah berjalan sejak masuknya Islam ke Indonesia," jelas Irwan kepada kumparan, Senin (16/3).

Menurut Irwan, tradisi menjadi bagian penting dari mekanisme sosial manusia. Inilah yang menyebabkan berbagai tradisi terus dipelihara oleh masyarakat Indonesia.

"Tradisi seperti Grebeg Syawal, misalnya, bukan sekadar ritual tetapi juga mekanisme sosial. Tradisi lokal biasanya berfungsi memperkuat solidaritas komunitas, menegaskan identitas kolektif, memperbarui hubungan sosial, dan lain-lain. Meski secara teologis bisa diperdebatkan, secara sosial tradisi itu memiliki fungsi penting sehingga tidak mudah ditinggalkan," kata Irwan.

Lantas, ada apa saja tradisi unik menyambut lebaran lainnya yang tersebar di pelosok negeri?

Grebeg Syawal

Grebeg Syawal di Yogyakarta dikenal sebagai tradisi yang di dalamnya tumpukan menggunung hasil bumi yang diperebutkan banyak orang itu berhasil menjadi salah satu kearifan lokal yang dimiliki Yogyakarta. Tradisi ini pun akhirnya menjadi daya tarik kuat bagi wisatawan di luar Yogyakarta.

Grebeg Syawal merupakan bentuk rasa syukur dan doa atas nikmat, keselamatan, dan juga berakhirnya bulan Ramadan yang diperingati setiap 1 Syawal di lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tradisi ini memadukan nilai kebudayaan Jawa dan agama Islam.

Tak sebatas pada nilai spiritual yang terkandung dalam tradisi ini pada pemaknaan filosofisnya, Grebeg Syawal juga mencakup beberapa nilai lain, seperti sosial, ekologis, hingga budaya. Dari segi sosial, tradisi ini merupakan gambaran hubungan erat yang terbangun antara raja dan rakyat melalui simbol sedekah gunung.

Dosen Antropologi UI dan Peneliti, Irwan Martua Hidayana juga melihat tradisi sebagai cara masyarakat dalam memaknai agama mereka sendiri.

"Tradisi seperti itu juga bisa dilihat sebagai cara masyarakat memaknai agama. Gunungan dalam upacara Grebeg dianggap sebagai simbol berkah sehingga masyarakat berebut gunungan agar mendapatkan keberkahan secara kolektif," jelas Irwan.

Kemudian, dari nilai ekologis, Grebeg Syawal juga menjadi pengingat keselarasan antara manusia dan pentingnya menjaga alam. Dalam Akulturasi Budaya Hindu-Islam dalam Tradisi Upacara Grebeg di Jawa (2025) yang terbit di Maliki Interdisciplinary Journal (MIJ), melihat tradisi grebeg awalnya berasal dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-12.

Usai kerajaan itu runtuh, Sunan Kalijaga mencoba menghidupkan kembali tradisi tersebut sebagai alat untuk membantu penyebaran ajaran agama Islam. Ia memasukkan elemen-elemen Islam ke dalam tradisi Grebeg agar ajaran Islam bisa lebih mudah diterima masyarakat yang saat itu masih banyak menganut Buddha, Hindu, dan kepercayaan setempat.

Ronjok Sayak

Tradisi ini dilakukan di daerah Bengkulu. Ronjok Sayak merupakan tradisi membakar batok kelapa yang ditumpuk menggunung hingga ketinggian 1 meter dan dilakukan pada malam takbiran atau malam ke-27 bulan Ramadan.

Masyarakat setempat mempercayai api dari batok kelapa sebagai penghubung antara manusia dengan leluhur dan sebagai rasa syukur kepada Tuhan. Selama proses pembakaran, doa-doa juga dipanjatkan oleh mereka.

Pembakaran batok kelapa itu biasanya dilakukan di depan rumah masing-masing warga. Selain itu, terdapat beberapa nilai filosofis lain, seperti momen pembakaran Ronjok Sayak yang dimaknai sebagai kebersamaan yang dapat mempererat tali silaturahmi antarwarga. Selain itu, tradisi ini juga menjadi ungkapan rasa syukur atas kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa.

Festival Meriam Karbit

Tradisi ini dilakukan masyarakat Pontianak yang sudah berjalan bertahun-tahun lamanya. Meriam karbit merupakan meriam yang terbuat dari bambu besar dan diletakkan di pinggir Sungai Kapuas.

Menjelang malam saat takbiran, warga di Pontianak berkumpul di pinggir sungai untuk menyaksikan meriam-meriam tersebut dinyalakan. Warga pun dengan sukacita menyambut hari kemenangan setelah bulan Ramadan usai.

Berdasarkan laporan Kemendikbud, dahulu terdapat kerajaan di Pontianak yang menyalakan meriam sebagai tanda menyambut bulan puasa. Selain itu, meriam karbit dahulu juga digunakan sebagai alat perang melawan penjajah.

Tradisi tersebut mengalami pergeseran makna, kini meriam karbit dinyalakan untuk memeriahkan suasana malam takbiran jelang lebaran di Pontianak.

Meriam karbit terbuat dari bambu dan kayu jenis mabang atau meranti. Kayu tersebut memiliki diameter sekitar 50 sampai 70 sentimeter dengan panjang mencapai 5 hingga 6 meter. Meriam biasanya dibunyikan oleh laki-laki.

Ngejot

Umat Muslim yang tinggal di Bali punya tradisi unik dalam menyambut lebaran, yaitu Ngejot. Tradisi ini merupakan kegiatan yang dilakukan umat muslim. Mereka membagi-bagikan makanan kepada semua warga tanpa membedakan agama atau kepercayaan yang dianut.

Penyajiannya bisa berupa lontong ayam atau sayur atau aneka kue lebaran. Berdasarkan artikel Tradisi Ngejot: Makna dan Perilaku Keuangan (2022) yang terbit di Jurnal Manajemen STIE Muhammadiyah Palopo, arti kata ngejot sendiri adalah memberi.

Secara budaya, orang menganggap tradisi keagamaan mereka tidak lengkap jika mereka tidak pernah menghabiskan sebagian dari harta mereka. Pengertian ini lebih dikenal dengan istilah zakat, shadaqah, infak dan hibah.

Sebenarnya, tradisi Ngejot ini juga hasil dari akulturasi budaya Hindu yang mirip dengan tradisi Islam yang disebut Tahaawud yang artinya saling memberi hadiah. Tradisi Ngejot dijadikan sebagai simbol toleransi dan kerukunan umat beragama.

Perang Topat

Perang topat atau perang ketupat merupakan tradisi yang ada di Lombok. Biasanya, tradisi ini dilakukan saat hari ke-6 lebaran. Dalam Ritual Perang Topat: Membangun Harmoni dan Toleransi Antar Etnik dan Agama di Lombok (2024) yang terbit di jurnal JAWI, menyebut tradisi Perang Topat menjadi salah satu bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan yang melibatkan masyarakat Sasak dan juga Bali.

Ritual ini dimulai dengan prosesi mengelilingi sesaji yang terdiri dari makanan, buah, dan hasil bumi, sebelum memasuki puncak acara saat matahari mulai tenggelam. Selama Perang Topat, masyarakat Hindu dan Muslim saling melempar ketupat sebagai simbol persatuan.

Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang komunikasi antaragama, tetapi juga menciptakan suasana positif yang mempererat hubungan sosial di Lombok. Nilai ini menjadikannya sebagai contoh nyata toleransi dan moderasi beragama. Komunikasi ritual dalam Perang Topat menunjukkan bagaimana dua suku dengan latar belakang agama yang berbeda dapat bersatu dalam sebuah tradisi keagamaan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Larijani Endus Rencana Geng Epstein Gelar Operasi Mirip 9/11 untuk Kambinghitamkan Iran
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
[FULL] Kata Jusuf Kalla Diskusi dengan Komunikolog: Komunikasi Pemerintah & Rakyat Gak Nyambung
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Terpopuler: Suzuki Legendaris Jadi Street Fighter, MPV Keluarga Terlaris, Motor Listrik India Masuk RI
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Jumlah Penumpang Commuter Line Turun 29 Persen Imbas Kebijakan WFA Jelang Lebaran
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Pemudik di Ciwandan Beli Tiket dari Calo, Harga Lebih Mahal 2 Kali Lipat
• 2 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.