REPUBLIKA.CO.ID,TEHERAN — Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengeluarkan peringatan keras terkait adanya rencana Amerika Serikat (AS) untuk melancarkan operasi bendera palsu (false flag). Operasi ini disebut bertujuan mengambinghitamkan Teheran dalam insiden teror besar serupa serangan 11 September (9/11).
Melalui unggahan di akun X miliknya pada Ahad (15/3/2026), Larijani menegaskan posisi fundamental Republik Islam yang menolak segala bentuk terorisme. Ia juga menggarisbawahi bahwa Iran tidak memiliki permusuhan dengan rakyat Amerika, melainkan fokus pada pembelaan kedaulatan negara.
Baca Juga
Iran: 80 Persen Rudal Kami Hantam Pangkalan Udara AS
Jutaan Burung Besar Ikut Mengancam Pertahanan Tentara Zionis Israel dalam Perang
Waktunya Indonesia Pimpin 'Orkestra Global' Gempur Islamofobia
Larijani secara spesifik menyinggung adanya sisa-sisa kekuatan dari jaringan tertentu di Washington yang mencoba merancang provokasi mematikan. "Saya telah mendengar bahwa sisa-sisa tim Epstein telah menyusun plot untuk menciptakan insiden serupa 11 September dan menyalahkan Iran," tulis Larijani seperti dikutip dari kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
Peristiwa 9/11 terjadi ketika empat pesawat komersial dibajak sekelompok orang pada 11 September 2001. Dua diantaranya ditabrakkan ke Menara Kembar World Trade Center di New York dan satu lainnya ke markas pusat militer AS, Pentagon, di Washington.
/* Make the youtube video responsive */ .iframe-container{position:relative;width:100%;padding-bottom:56.25%;height:0 ;margin : 14px 0px 15px 0px}.iframe-container iframe{position:absolute;top:0;left:0;width:100%;height:100%} .rec-desc {padding: 7px !important;}
Satu pesawat lainnya tak berhasil diarahkan ke Gedung Putih di Washington karena perlawanan penumpang dan jatuh di Pennsylvania. Peristiwa tersebut merenggut nyawa lebih dari 3.000 warga AS. Sejak itu, dunia tak sama lagi. Gelombang Islamofobia terjadi di Amerika Serikat di tengah komando perang pimpinan Presiden George W Bush kepada Afganistan dan Irak.