Bisnis.com, JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI bersiap membangun kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD) dengan total 14 tower hunian di empat kota, yakni Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya.
Direktur Utama KAI, Bobhy Rasyidin menuturkan, melalui pengembangan kawasan berbasis stasiun ini, KAI ingin menghadirkan ekosistem kota yang lebih terintegrasi.
"[Ekosistem ini] menjadikan hunian yang dekat dengan transportasi publik, pemanfaatan lahan yang efisien, serta mobilitas yang lebih mudah bagi masyarakat perkotaan," ujarnya dalam Pencanangan Pembangunan Hunian Dalam Rangka Mendukung Program 3 Juta Rumah di Stasiun Manggarai, Senin (16/3/2026).
Khusus di Manggarai, Bobby memaparkan nantinya akan ada 8 tower dan dua blok, yakni F dan G, yang masing-masing nantinya memiliki 12 lantai. Total hunian yang tersedia direncanakan mencapai 2.200 unit.
Bobby berharap melalui pencanangan pada kuartal I/2026 ini, hunian dengan tipe unit 45 dan 52 tersebut dapat mulai ditempati pada awal tahun depan atau 2027.
“Waktu pengerjaannya akan segera kami mulai. Sehingga di awal 2027, kami sudah dapat melakukan penyerahan kunci dari unit-unit tersebut,” tambahnya.
Baca Juga
- KAI Mau Bikin TOD di Stasiun Gambir, Terhubung dengan KRL dan MRT Jakarta
- Apartemen TOD Dekat Stasiun MRT Banyak Diminati, Okupansi Capai 71,2%
- RI-Jepang Siap Bangun 3 Titik TOD di Blok M, Bekasi & Depok
Sementara terkait sumber dana pembangunan hunian vertikal ini, Bobby menyebut akan berasal dari KAI, pinjaman dalam negeri, dan Danantara.
Hunian yang tersebar di empat kota ini pula nantinya dibanderol dengan harga Rp500 juta untuk tipe 45, dan senilai Rp600 juta untuk tipe 52.
Melihat lokasinya yang berdekatan dengan Stasiun Manggarai, pemerintah juga berencana membangun akses langsung dari stasiun menuju tower.
Bobby menjelaskan, Stasiun Manggarai dipilih karena menjadi simpul transportasi yang disinggahi lebih dari 10 juta orang sepanjang 2025 lalu.
Selain di Stasiun Manggarai, peluncuran kawasan TOD di aset lahan milik KAI juga dilakukan di Stasiun Kiaracondong Bandung, kawasan Jl. Dr Kariadi di Semarang, dan Stasiung Gubeng di Surabaya.
Secara perinci, di Stasiun Kiaracondong, nantinya akan menempati lahan seluas 7.600 m2 dengan total gunian 753 unit hunian yang terdiri dari 2 tower.
Kemudian di Semarang, hunian vertical akan dibangun di bekas lahan rumah perusahaan seluas 12.805 m2. Total akan ada 1.042 unit di 2 tower dan total 42 lantai. Sementara di Surabaya, 2 tower dengan 52 lantai dan total 1.489 unit akan dibangun pada lahan 11.425 m2 yang saat ini masih berupa tanah kosong.
Sebelumnya, KAI mencatat keberadaan kawasan TOD di beberapa stasiun, berhasil mendongkrak jumlah penumpang kereta rel listrik (KRL).
Sejumlah stasiun yang telah dikembangkan menjadi kawasan TOD, seperti Tanjung Barat, Pondok Cina, Pondok Ranji, dan Rawa Buntu, menunjukkan tren pertumbuhan penumpang yang sangat signifikan. Khusus di Stasiun Tanjung Barat, bahkan lonjakan hingga lebih dari 100%.





