Ketika "Makan Bergizi Gratis", Menormalisasi Makanan Tidak Bergizi

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Sebuah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengunggah video hamparan donat dan roti pabrikan besar ber-topping krim warna-warni. Keterangan unggahan itu berbunyi: “MBG spesial untuk adik-adik libur Lebaran.”

Unggahan ini memicu kontroversi. “Ini ahli gizinya kerja nggak sih?” tulis seorang warganet. Komentar lain mencoba membela, “Nggak apa-apa walaupun mungkin nggak ada gizinya, yang penting anak-anak bisa ngerasain.” Sementara itu, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) itu menjawab, "Satu anak satu donat."

Percakapan itu sebenarnya menggambarkan perdebatan yang lebih luas mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam berbagai unggahan dari dapur-dapur SPPG di berbagai daerah, menu yang muncul sering kali memperlihatkan pola yang sama, yaitu sosis, nugget, mi, hingga roti dan biskuit pabrikan.

Apa yang disajikan negara kepada anak-anak akan dianggap sebagai standar resmi tentang makanan sehat.

Jenis makanan seperti ini lazim dikategorikan sebagai pangan ultra-olahan, produk industri yang umumnya tinggi gula, garam, lemak, dan mengandung berbagai zat aditif. Konsep ini berasal dari sistem NOVA food classification, yang mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat pengolahannya.

Tidak semua akademisi sepakat dengan penggunaan istilah tersebut. Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Eni Harmayani, menilai diskursus tentang makanan ultra-olahan sering disalahpahami dalam debat publik.

“Tidak bisa kita melihat pangan hanya dari satu sudut ekstrem. Sistem pangan modern membutuhkan teknologi pengolahan,” ujarnya dalam diskusi mengenai menu MBG, dalam rilis pada 13 Februari 2026.

Menurutnya, penggunaan istilah UPF yang terlalu luas dapat menimbulkan kerancuan. Ia bahkan mengusulkan agar istilah tersebut diganti dengan istilah yang lebih netral seperti “pangan olahan”.

Dalam sistem pangan modern, proses pengolahan memang diperlukan untuk memperpanjang umur simpan makanan dan memungkinkan distribusi dalam skala besar. Namun perdebatan terminologi dari akademisi bidang teknologi pangan ini tidak boleh mengaburkan masalah utama terkait risiko kesehatan.

Baca JugaMakanan Ultra-olahan Meningkatkan Risiko Penyakit Kronis, Bahkan dalam Jumlah Kecil

Apa pun istilahnya, UPF atau pangan olahan, substansi persoalannya tetap sama. Banyak menu yang muncul dalam dapur-dapur SPPG kerap memperlihatkan karakteristik makanan tinggi gula, garam, dan lemak serta mengandung berbagai zat aditif.

Makanan seperti ini umum ditemukan dalam produk industri seperti sosis, nugget, mi instan, roti manis, atau biskuit. Terlepas dari perdebatan definisi, makanan dengan komposisi seperti itu tidak seharusnya menjadi bagian utama dari program yang dilabeli “makan bergizi.”

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Sejumlah penelitian ilmiah dalam satu dekade terakhir menunjukkan hubungan kuat antara konsumsi makanan ultra-olahan dan berbagai masalah kesehatan.

Sejumlah penelitian ilmiah dalam satu dekade terakhir menunjukkan hubungan kuat antara konsumsi makanan ultra-olahan dan berbagai masalah kesehatan. Salah satu studi terbesar dipublikasikan dalam jurnal medis The BMJ pada 2019 oleh tim peneliti yang dipimpin Bernard Srour dari Sorbonne Paris Nord University. Penelitian yang melibatkan lebih dari 100.000 responden tersebut menemukan bahwa peningkatan konsumsi makanan ultra-olahan berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung.

Berbagai penelitian juga menemukan bahwa konsumsi tinggi makanan ultra-olahan berkaitan dengan meningkatnya risiko kematian dini. Yang menjadi perhatian para ahli kesehatan adalah sifat makanan ultra-olahan yang biasanya mengandung kombinasi tinggi gula, garam, lemak, serta zat aditif, tetapi rendah serat dan mikronutrien penting.

Baca JugaMengonsumsi Makanan Olahan Merugikan Otak

Ketika pola konsumsi seperti ini terbentuk sejak usia dini, dampaknya dapat berlangsung sepanjang hidup. Di sinilah ironi muncul. Program yang menyandang nama “makan bergizi” justru sering menampilkan makanan yang nilai gizinya dipertanyakan.

Lebih berbahaya lagi, label “bergizi” yang dilekatkan pada makanan tersebut dapat membentuk persepsi keliru di benak anak-anak tentang apa itu makanan sehat. Jika setiap hari mereka melihat roti manis, nugget, atau biskuit pabrikan sebagai bagian dari program gizi negara, maka makanan itulah yang mereka anggap sebagai standar “makanan bergizi”.

Padahal dalam banyak negara, makan siang sekolah justru dirancang sebagai sarana pendidikan gizi.

Serial Artikel

Makanan Ultra-olahan Direkayasa untuk Membuat Kita Kecanduan

Industri makanan telah merancang produk makanan ultra-olahan dengan cara yang dapat memicu pola konsumsi kompulsif dan kecanduan sebagaimana efek rokok.

Baca Artikel
Bukan hanya asal makan

Program makan sekolah telah lama digunakan banyak negara sebagai alat kesehatan publik. Namun tujuannya bukan hanya memberikan kalori kepada anak-anak. Ia juga membentuk kebiasaan makan sehat.

Di Jepang, misalnya, makan siang sekolah dikenal sebagai Kyūshoku. Menu biasanya terdiri dari karbohidrat, daging atau ayam, sayuran, dan sup. Anak-anak bahkan belajar tentang asal bahan makanan dan pentingnya pola makan seimbang. Makanan kerap disajikan panas, karena dapur umumnya berada di dekat sekolah.

Brasil bahkan melangkah lebih jauh melalui Programa Nacional de Alimentação Escolar, yang mewajibkan sebagian bahan makanan sekolah dibeli dari petani lokal. Pedoman gizi negara tersebut secara eksplisit menyarankan masyarakat mengurangi konsumsi makanan ultra-olahan.

Baca JugaJangan Biarkan Makanan Olahan Ultra Mendominasi Pangan Kita

Di banyak negara itu, menu sekolah lebih menyerupai masakan rumah tangga daripada makanan industri. Sup sayur, nasi, ikan, telur, atau kacang-kacangan lebih lazim dibandingkan makanan instan. Makan di sekolah bukan sekadar bagi-bagi makanan asal kenyang, namun mengajari anak bagaimana makan dengan benar.

Kritik terhadap penggunaan makanan ultra-olahan dalam program MBG di Indonesia telah berulangkali dilakukan dari kalangan kesehatan publik. Laporan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menilai penggunaan produk ultra-proses dalam program ini berpotensi kontraproduktif terhadap tujuan peningkatan gizi anak.

Founder organisasi tersebut, Diah Saminarsih, mengingatkan bahwa kombinasi beberapa makanan kemasan dalam menu dapat menyumbang gula dalam jumlah besar bagi anak. Dalam analisis mereka tahun 2025, dua makanan kemasan saja dapat menyumbang sekitar 18 gram gula, atau sekitar 72 persen dari batas konsumsi gula harian anak menurut pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Paparan dini terhadap makanan ultra-olahan, menurut berbagai penelitian, berkaitan dengan meningkatnya risiko obesitas serta penyakit tidak menular seperti penyakit jantung di kemudian hari. Data juga menunjukkan, angka di Indonesia terus meningkat, dan sebagian besar disumbangkan oleh pola konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak.

Sebenarnya Badan Gizi Nasional (BGN) pernah menyampaikan bahwa makanan ultra-olahan tidak seharusnya menjadi menu dalam program MBG. Misalnya dalam Surat Edaran Nomor 8 Tahun 2025 tentang pelayanan MBG pada periode libur akhir tahun disebutkan, paket makanan MBG tidak boleh berupa produk pabrikan ultra-processed food. Makanan yang dibagikan harus diolah oleh dapur SPPG dan memenuhi standar gizi seimbang.

Baca JugaParadoks Gizi Anak akibat Makanan Ultraproses, Anak Kenyang tetapi Malanutrisi

Namun dalam praktiknya, menu seperti ini tetap muncul di berbagai dapur penyedia makanan. Pertanyaan mendasar kemudian muncul. Jika aturan sudah ada, mengapa menu seperti ini terus muncul? Mengapa roti pabrikan atau nugget pabrikan tetap muncul dalam menu yang disebut bergizi?

Selera generasi sedang dibentuk

Ada satu aspek yang jarang dibicarakan dalam diskusi tentang MBG, yaitu pembentukan selera makan. Program makan sekolah tidak hanya memberi makan hari ini. Ia juga membentuk budaya makan generasi berikutnya. Preferensi makan yang terbentuk sejak kecil juga akan memengaruhi sistem pangan di masa depan.

"MBG memberi makan anak setiap hari. Jika pola makan salah itu diberikan tiap hari, maka kebiasaan itu akan terbawa sepanjang hidup," kata Said Abdullah, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP).

Padahal, menurut Riset Kesehatan Dasar, 1 dari 3 masyarakat di Indonesia mengalami obesitas. Selain itu, 1 dari 5 anak-anak di Indonesia mengalami kelebihan berat badan. Persentase obesitas terus meningkat dalam satu dekade terakhir, yakni dari 8 persen pada 2007 menjadi 21,8 persen pada 2018. Tingginya angka obesitas ini sejalan dengan meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular.

Selain soal kesehatan, menu MBG juga memunculkan persoalan lain yang jarang dibahas, yaitu ketergantungan pada bahan pangan impor, terutama gandum. Hampir seluruh kebutuhan gandum nasional yang saat ini sudah melebihi 10 juta ton per tahun berasal dari impor. Namun banyak makanan olahan yang mudah diproduksi secara massal, terutama industri, bergantung pada bahan baku ini.

Padahal Indonesia memiliki keragaman pangan lokal yang jauh lebih kaya dan bergizi. Jika program makan sekolah menggunakan bahan-bahan lokal tersebut, manfaatnya akan berlipat Sebaliknya, jika menu didominasi bahan impor, kita sedang membangun selera anak pada pangan yang tidak bisa diproduksi sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi memperbesar ketergantungan impor pangan.

Program makan sekolah pada akhirnya bukan sekadar kebijakan gizi. Ia adalah keputusan tentang masa depan sistem pangan sebuah negara. Apa yang disajikan negara kepada anak-anak akan dianggap sebagai standar resmi tentang makanan sehat. Jika menu yang sering muncul adalah roti, biskuit, manis, nugget, atau sereal hingga minuman bermanis, maka anak-anak akan belajar bahwa itulah bentuk makanan bergizi.

Karena itu pertanyaan yang muncul di media sosial tadi sebenarnya sangat sederhana, tetapi juga sangat mendasar. Jika program ini disebut “makan bergizi”, maka masyarakat berhak bertanya di mana gizinya?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perluas Program Bedah Rumah, Pramono Tergetkan 633 Hunian di Jakarta Direnovasi di 2026
• 1 jam laludisway.id
thumb
BRI Super League: Persija Gagal Kalahkan Dewa United, Mauricio Souza Gusar Lagi dengan Kondisi Lapangan JIS
• 3 jam lalubola.com
thumb
Menimbang Daya Tahan APBN terhadap Efek Perang
• 7 jam lalukatadata.co.id
thumb
Ahmad Luthfi Lepas 325 Bus Mudik Lebaran Gratis untuk Warga Jateng dari TMII
• 4 jam laludetik.com
thumb
Pemkot Banjarmasin Berangkatkan Ratusan Warga Lewat Program Mudik Gratis Lebaran 2026
• 18 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.