Pengusaha Rokok Buka-bukaan Penyebab Penyusutan Produksi Akhir 2025

bisnis.com
14 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Pengusaha Rokok Putih Indonesia (Gapprindo) mengungkap alasan di balik produksi hasil tembakau yang turun akhir 2025. 

Untuk diketahui, penurunan produksi rokok akhir tahun lalu memicu penurunan setoran cukai hasil tembakau (CHT) ke negara awal 2026. Dampaknya terasa sampai dengan akhir Februari 2026 ketika penerimaan cukai keseluruhan hanya terealisasi Rp34,4 triliun atau turun 13,3% (yoy) dari Februari 2025. 

Ketua Umum Gapprindo Benny Wachjudi menjelaskan bahwa tarif CHT yang diputuskan tidak naik pada 2026 memicu produksi akhir tahun dari pabrikan melandai. 

"Setiap akhir tahun pembelian meningkat karena tahun depannya cukai akan naik dan pita cukai masih bisa dipakai untuk beberapa bulan ke depannya. Tetapi kali ini sudah diinformasikan bahwa CHT tahun 2026 tidak naik, sehingga mereka tidak perlu membeli cukai terlalu banyak di akhir tahun," terang Benny kepada Bisnis, dikutip Minggu (15/3/2026). 

Dengan demikian, hal itu juga yang dinilai Benny membuat produksi rokok naik baru pada awal 2026. Dia menyebut sejak Januari 2026 pembelian pita cukai naik karena tidak ada pita carry over tahun sebelumnya.

Di sisi lain, Benny mengungkap pabrikan juga mengantisipasi libur panjang selama Idulfitri mendatang. "Saya dengar katanya ada peningkatan pembelian cukai, CK-1. Kemungkinan pabrik rokok membeli lebih banyak menghadapi hari raya dan mengantisipasi libur panjang selama hari raya tersebut termasuk pembatasan angkutan," ungkapnya. 

Baca Juga

  • Pakar Ungkap Dua Syarat agar Penerimaan Cukai Rokok Capai Target 2026
  • Tren Produksi Rokok Mulai Naik, Sinyal Pemulihan Setoran Bea Cukai?
  • Kandungan Tar & Nikotin Dibatasi, Tembakau Berpotensi Dimanfaatkan Rokok Ilegal

Pada konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026, Rabu (11/3/2026), Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa penurunan produksi rokok sejak akhir 2025 menyebabkan tekanan ke penerimaan kepabeanan dan cukai pada Januari dan Februari 2026. 

Namun, dia menyebut kinerja produksi sudah meningkat sejak awal 2026 sehingga diyakini bisa memulihkan setoran ke APBN. 

"Informasi terakhir, data kemarin katanya sudah tumbuh lagi, Januari untuk cukai tumbuhnya sudah 7%. Jadi, ke depan kami masih mengharapkan target penerimaan dari bea cukai tercapai bahkan mungkin bisa melebihi," ujarnya dikutip Kamis (13/3/2026).

Secara terperinci, penerimaan kepabeanan dan cukai sampai dengan Februari 2026 terkumpul Rp44,9 triliun atau turun 14,7% (yoy) dari Februari 2025 sebesar Rp52,6 triliun. 

Penerimaan pada pos cukai selama dua bulan pertama 2026 itu terealisasi Rp34,4 triliun, atau turun 13,3% (yoy) dari periode yang sama pada 2025 yakni Rp39,7 triliun. 

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menyebut usai mengalami kontraksi akhir tahun lalu, terdapat potensi kenaikan atas penundaan cukai yang berasal dari kenaikan jumlah produksi masing-masing pada Januari-Februari 2026.

"Kami mulai lihat kenaikan jumlah produksi itu di awal 2026. Pita cukai itu bisa dilekatkan dalam dua bulan ke depan. Jadi kami akan lihat dalam dua bulan ke depan ini akan menjadi lebih baik untuk penerimaan cukai," terang Suahasil pada kesempatan yang sama. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terminal Kampung Rambutan perketat pemeriksaan bus saat arus mudik
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
LPSK Beri Perlindungan Darurat ke Aktivis KontraS Disiram Air Keras dan Minta Polisi Tangkap Pelaku
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
Harga Emas Antam Hari ini Turun Lagi: Makin Murah, Saatnya Borong!
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Polda Metro Jaya Buka Posko Aduan Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Aksi Sosial Iptu Nyarna di Bengkulu: Gerakan Sedekah hingga Bedah Rumah
• 37 menit laludetik.com
Berhasil disimpan.