Intip Ramalan Nasib Rights Issue Kala Pasar Saham Bergejolak

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Aksi korporasi melalui rights issue dinilai masih prospektif meskipun pasar saham sedang bergerak fluktuatif karena memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam menjaga kesehatan neraca.

Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengatakan rights issue juga masih menjadi salah satu opsi pendanaan yang cukup menarik bagi perusahaan terbuka. Skema ini dinilai mampu memperkuat struktur permodalan tanpa harus menambah beban utang perusahaan.

Menurutnya, dibandingkan pendanaan melalui instrumen utang, rights issue memberikan fleksibilitas lebih besar bagi emiten dalam menjaga kesehatan neraca keuangan. 

Meski begitu, lanjutnya, dalam kondisi pasar yang volatil, banyak perusahaan cenderung lebih berhati-hati dalam menentukan waktu pelaksanaan agar dapat memaksimalkan minat investor sekaligus meminimalkan potensi dilusi terhadap pemegang saham lama.

"Prospek rights issue di tengah kondisi pasar yang volatil sebenarnya masih cukup terbuka, namun timing menjadi faktor yang sangat penting," ujarnya dikutip, Minggu (15/3/2026).

Lebih jauh dia memaparkan rights issue dari emiten dengan fundamental kuat, prospek pertumbuhan yang jelas, serta tujuan penggunaan dana yang transparan cenderung lebih mudah mendapat respons positif dari investor. 

Baca Juga

  • Wahana Interfood Nusantara (COCO) Rancang Rights Issue 10,67 Miliar Saham Baru
  • Emiten Pelayaran ELPI Rancang Rights Issue 2,11 Miliar Saham Baru
  • GPSO Kaji Pendanaan Eksternal, Rights Issue Jadi Pilihan

Terlebih, sambungnya, jika dana yang dihimpun digunakan untuk ekspansi bisnis, memperkuat struktur permodalan, atau mendukung pertumbuhan kredit perusahaan.

Selain itu, kemampuan pasar dalam menyerap saham baru sebenarnya masih cukup besar. Basis investor domestik yang terus berkembang menjadi salah satu penopang utama yang menjaga daya serap pasar terhadap aksi korporasi tersebut.

Meski demikian, tingkat keberhasilan rights issue tetap sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor penting. Di antaranya valuasi yang ditawarkan kepada investor, besaran diskon harga saham baru, reputasi emiten di mata pasar, hingga kondisi likuiditas pasar saat aksi korporasi dilakukan.

Apabila harga yang ditawarkan dianggap menarik dan cerita pertumbuhan perusahaan dinilai meyakinkan, maka saham baru dari rights issue umumnya masih mampu terserap dengan baik oleh investor.

Adapun selama sepekan ini (9 Maret 2026 -13 Maret 2026) indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 5,91% pada level 7.137,21 pada periode dari 7.585,68 pada pekan sebelumnya. Penurunan juga terjadi pada kapitalisasi pasar Bursa sebesar 6,96% menjadi Rp12.678 triliun dari Rp13.627 triliun pada pekan sebelumnya. 

Perubahan juga terjadi pada rata-rata volume transaksi harian BEI pekan ini sebesar 25,49% menjadi 31,55 miliar saham, dari 42,34 miliar saham pada pekan sebelumnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Legislator Komisi III DPR Nyoman Parta sebut Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Alarm bagi Demokrasi
• 19 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kenang Vidi Aldiano, Jessica Mila Ungkap Momen Tak Terlupakan di Hari Pernikahan
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Macron Dukung Kebijakan Pembatasan Medsos Indonesia
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Komisi IX DPR Nilai Program Makan Bergizi Gratis Tingkatkan Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Indonesia Dorong Pengembangan Kilang, Target Impor Tinggal Minyak Mentah
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.