Jakarta, VIVA – Nama Syekh Ahmad Al Misry mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah muncul dugaan kasus pelecehan seksual sesama jenis yang dilaporkan ke Bareskrim Polri.
Kasus ini sebelumnya memicu berbagai spekulasi di jagat maya. Sejumlah warganet bahkan sempat menyerbu akun media sosial Ustaz Solmed karena mengira inisial SAM yang dilaporkan merujuk kepadanya. Namun, Solmed segera memberikan klarifikasi bahwa dirinya tidak terkait dengan laporan tersebut. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Belakangan, tim kuasa hukum korban yang diwakili oleh Beny Jehadu mengungkap sejumlah ciri mengenai sosok ustaz yang dilaporkan. Menurutnya, terlapor merupakan pendakwah yang kerap tampil di televisi swasta, termasuk pernah menjadi juri dalam kompetisi hafiz Alquran serta mengisi program religi.
Meskipun identitas pasti ustaz berinisial SAM belum diumumkan secara resmi, nama Syekh Ahmad Al-Misry mulai ramai disebut-sebut oleh netizen di platform X.
"Gw spill in namanya Syekhh A h m a d Al-misri," komentar salah satu netizen, dikutip Minggu 15 Maret 2026.
Selain itu, beberapa warganet juga menyoroti aktivitas media sosial sang ulama. Mereka menilai akun Instagram miliknya kini membatasi kolom komentar di tengah ramainya pembahasan yang berkembang.
"Sudah dibatesin komen di IG nya dong... setelah cek IG nya keliatan penyuka sejenis," tulis komentar lainnya.
Sosok Syekh Ahmad Al-Misry di Dunia Dakwah
Terlepas dari kontroversi yang tengah menjadi perbincangan publik, Syekh Ahmad Al-Misry dikenal sebagai ulama asal Mesir yang cukup populer di kalangan pemirsa televisi Indonesia.
Nama “Al-Misry” sendiri memiliki arti “orang Mesir”. Ia telah lama menetap di Indonesia untuk berdakwah dan menyebarkan pemahaman Islam kepada masyarakat. Kemampuannya berbahasa Indonesia dengan fasih membuat ceramahnya mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Popularitasnya di layar kaca semakin meningkat ketika ia dipercaya menjadi juri utama dalam program kompetisi penghafal Alquran anak-anak, Hafiz Indonesia. Kehadirannya di acara tersebut bahkan sering dianggap sebagai penerus peran dakwah yang sebelumnya dijalankan oleh Syekh Ali Jaber.
Dalam program tersebut, ia berperan memberikan penilaian terhadap tajwid, kelancaran hafalan, hingga memberikan motivasi spiritual kepada para peserta.





