Covid-19 dan Flu Berat Meningkatkan Risiko Kanker Paru-paru

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Kasus Covid-19 dan influenza yang berat tidak sekadar menyebabkan penyakit akut atau jangka pendek. Studi baru mengungkapkan, infeksi virus tersebut meningkatkan risiko kanker paru-paru beberapa tahun kemudian. Meski demikian, vaksinasi dapat mencegah efek berbahaya ini.

Hasil studi terbaru dari Beirne B Carter Center for Immunology Research di University of Virginia Health System (UVA) dan UVA Comprehensive Cancer Center yang dipublikasikan di jurnal Cell, 11 Maret 2026, menunjukkan, infeksi virus pernapasan parah dapat menciptakan kondisi di paru-paru yang membantu sel-sel kanker berkembang lebih cepat.

Tim periset yang dipimpin ilmuwan dari Fakultas Kedokteran UVA Jie Sun PhD menemukan bahwa infeksi pernapasan yang berat dapat mengubah sel imun di paru-paru dengan cara yang mendukung pertumbuhan tumor berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian.

Berdasarkan temuan ini, para ilmuwan merekomendasikan agar dokter memantau dengan cermat pasien yang pulih dari Covid-19. Influenza, ataupun pneumonia (radang paru-paru) berat. Dengan demikian, kanker paru-paru dapat dideteksi sejak dini sehingga pengobatan bisa efektif.

"Kasus Covid-19 ataupun flu yang parah dapat menyebabkan paru-paru meradang berkepanjangan. Kondisi ini memudahkan kanker untuk berkembang di kemudian hari,” kata Sun, salah satu direktur Carter Center UVA yang juga anggota Divisi Penyakit Menular dan Kesehatan Internasional UVA.

Kasus Covid-19 ataupun flu yang parah dapat menyebabkan paru-paru meradang berkepanjangan. Kondisi ini memudahkan kanker untuk berkembang di kemudian hari.

"Kabar baiknya, vaksinasi sebagian besar dapat mencegah perubahan berbahaya tersebut yang dapat memicu pertumbuhan sel-sel kanker di organ paru-paru," kata Sun, sebagaimana dikutip sciencedaily, pada 13 Maret 2026.

Kerusakan paru-paru

Infeksi virus pernapasan yang berat bisa menyebabkan kerusakan paru-paru yang mengakibatkan pneumonia, sindrom gangguan pernapasan akut, atau jaringan parut. Menurut artikel di my.clevelandclinic.org, kerusakan ini disebabkan reaksi berlebihan sistem kebebalan tubuh yang bisa memicu peradangan berlebihan.

Jika menderita penyakit pernapasan seperti Covid-19, gejala kondisi yang disebabkan kerusakan paru-paru meliputi antara lain kesulitan bernapas atau sesak napas, kelelahan atau rasa letih eksrem, demam, kulit, bibir, atau kuku berwarna kebiruan, napas cepat dan terengah-engah, serta nyeri sesak di dada.

Setelah melewati infeksi akut, penderita mungkin tidak mengalami gejala apa pun. Namun hal itu dapat membuat orang yang telah melewati masa infeksi akut tersebut sesak napas dan mudah lelah, serta berpotensi mengalami gejala yang memburuk seiring dengan waktu.

Reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh dapat menyebabkan kerusakan paru-paru pada Covid-19. Sel-sel kekebalan tubuh dating ke lokasi infeksi untuk melawannya sehingga menimbulkan peradangan. Namun peradangan yang tidak terkendali dan terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan sehat.

Kerusakan dan pelemahan pada dinding kantung udara kecil di paru-paru pasien atau alveoli dapat menyebabkan kantung tersebut terisi cairan. Hal ini berarti udara tidak dapat masuk dan oksigen tidak bisa mencapai aliran darah dan keluar jaringan tubuh penderita. Peradangan juga dapat meninggalkan nodul paru atau jaringan parut yang butuh waktu lama untuk sembuh atau bahkan bersifat permanen.

Kerusakan ini dapat terjadi pada berbagai jenis infeksi pernapasan, bukan hanya Covid-19. Namun Covid-19 lebih mungkin menimbulkan kerusakan parah karena reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh seperti badai sitokin ataupun karena cara virus ini menggunakan sistem kekebalan tubuh untuk menyerang paru-paru.

Risiko kanker

Penyakit infeksi pernapasan seperti influenza dan Covid-19 diketahui sebagai penyebab cedera organ paru-paru yang paling umum. Namun selama ini para ilmuwan belum sepenuhnya memahami bagaimana jenis kerusakan ini dapat memengaruhi risiko kanker beberapa tahun kemudian.

Untuk itu Sun dan timnya mempelajari efek infeksi paru-paru yang parah pada tikus laboratorium dan pasien manusia. Hasilnya sangat mengejutkan yakni tikus yang menderita infeksi paru-paru lebih mungkin mengembangkan kanker paru-paru di kemudian hari dan lebih berisiko meninggal karena penyakit itu.

Tim peneliti menemukan pola serupa ketika menganalisis data pasien. Mereka yang sebelumnya dirawat di rumah sakit karena Covid-19 menunjukkan tingkat diagnosis kanker paru lebih tinggi. Analisis itu mengungkapkan peningkatan kejadian kanker paru-paru 1,24 kali lipat di antara pasien Covid-19 di RS.

Peningkatan risiko ini terlepas dari individu itu merokok atau punya kondisi medis lain disebut komorditas. "Temuan ini berimplikasi penting dan langsung pada cara memantau pasien setelah infeksi virus pernapasan berat," kata Jeffrey Sturek, MD, PhD, dokter-ilmuwan UVA yang berkolaborasi dalam riset ini.

"Kita tahu merokok meningkatkan risiko kanker paru. Hasil riset ini menunjukkan kita perlu memantau infeksi virus pernapasan berat dengan cara serupa. Misalnya, pada pasien berisiko tinggi kanker paru dari riwayat merokok, perlu pemantauan ketat dengan pemindaian CT paru-paru secara rutin untuk mendeteksi dini kanker,” ujarnya.

Eksperimen pada tikus membantu para peneliti mengungkap mengapa infeksi parah dapat meningkatkan risiko kanker. Tim tersebut mengamati perubahan besar pada sel imun yang dikenal sebagai neutrophils dan macrophages, yang membantu melindungi paru-paru.

Setelah infeksi parah, beberapa neutrophils berperilaku abnormal dan berkontribusi pada lingkungan inflamasi terus-menerus yang digambarkan sebagai "pro-tumor," atau mendukung pertumbuhan kanker. Selain itu terjadi perubahan signifikan sel epitel yang melapisi paru-paru dan kantung udara kecil yang bertanggung jawab untuk bernapas.

Vaksinasi

Studi itu juga menghasilkan temuan menggembirakan mengenai pencegahan. Vaksinasi sebelumnya menghambat banyak perubahan paru-paru terkait perkembangan kanker. Vaksin membantu sistem kekebalan tubuh merespons infeksi lebih efektif, sehingga mengurangi tingkat keparahan penyakit.

Para peneliti mengamati peningkatan risiko kanker terutama pada orang yang mengalami Covid-19 parah. Individu yang hanya mengalami infeksi ringan tidak menunjukkan peningkatan risiko ini dan bahkan mengalami sedikit penurunan kejadian kanker paru-paru.

Meski demikian, para ilmuwan memperingatkan bahwa banyak orang yang selamat dari Covid-19 parah ataupun infeksi pernapasan serius lainnya mungkin menghadapi risiko kanker paru-paru yang lebih tinggi di masa mendatang.

"Dengan puluhan juta orang di seluruh dunia mengalami dampak jangka panjang paru-paru akibat Covid-19, temuan ini memiliki implikasi signifikan bagi perawatan klinis," tulis para peneliti dalam makalah ilmiah mereka.

"Individu yang pulih dari pneumonia berat akibat virus, terutama mereka yang memiliki riwayat merokok, mendapat manfaat dari peningkatan pengawasan kanker paru-paru. Pencegahan infeksi berat melalui vaksinasi dapat memberikan manfaat perlindungan kanker secara tidak langsung," tuturnya.

Sun dan rekan-rekannya berharap riset mereka akan membantu dokter mengidentifikasi pasien yang mungkin menghadapi peningkatan risiko kanker paru-paru setelah infeksi pernapasan berat. Deteksi dini dapat memungkinkan pengobatan dimulai lebih awal dan meningkatkan hasil pengobatan pasien.

Temuan ini memandu pengembangan strategi mencegah atau mengobati kanker paru terkait infeksi paru sebelumnya. "Ini membantu identifikasi siapa berisiko lebih tinggi kena kanker paru-paru setelah infeksi parah, serta mengembangkan cara tepat sasaran mencegah dan mengobati kanker paru setelah terkena pneumonia," kata Sun.

"Kami juga percaya bahwa vaksin tidak hanya mencegah rawat inap akut setelah tertular virus. Vaksin juga dapat mengurangi dampak jangka panjang dari infeksi parah, termasuk jenis jaringan parut imun yang dapat meningkatkan risiko kanker," tuturnya menambahkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terbaru! Pantauan Arus Mudik di Gerbang Tol Cikatama Lancar, Diskon Tarif Tol 30% Disiapkan
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Pemkot Madiun, Kaji Ulang Penataan Kawasan Kuliner Bogowonto Dengan Mengusung, Konsep Bernuansa Sejarah
• 20 jam lalurealita.co
thumb
Pertanda Buruk Muncul di Dekat RI, Lebih Banyak dari Seabad Lalu
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hutama Karya Uji Laik Fungsi Jembatan Musi V, Tol Palembang-Betung Siap Beroperasi Saat Lebaran  
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
Drama 2 Kartu Merah, Bayern Muenchen Imbang di Markas Leverkusen
• 7 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.