Kakaraengang Marusu Lestarikan Appalili hingga Katto Bokko, Tradisi Sawah yang Bertahan di Tengah Modernisasi

harianfajar
6 jam lalu
Cover Berita

Musim tanam di Marusu selalu diawali dengan sebuah prosesi adat. Dari situlah masyarakat percaya keberkahan sawah dimulai.

Oleh: Ilham Wasi, Maros

Tradisi adat yang berkaitan dengan siklus pertanian masih bertahan kuat di wilayah Kakaraengang Marusu, Kabupaten Maros. Hingga kini, masyarakat setempat tetap memedomani sejumlah hukum adat yang mengatur aktivitas pertanian, mulai dari awal pengolahan sawah hingga masa panen.

Saya bersama Nisa, Inna, Aan, dan Adrian sempat berbincang panjang dengan Karaeng Marusu. Tim yang saya temani sedang riset untuk pertunjukan teater “Galung”. Pertemuan itu bermula dari janji bertemu seusai salat Ashar di kediamannya pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Saat tiba, kami disambut Ulil, ponakan Karaeng Marusu. Ulil merupakan mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Hasanuddin (Unhas) yang tinggal tidak jauh dari Istana Balla Lompoa Kakaraengang Marusu di Jalan Taqwa Kassi Kebo, Baju Bodoa, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros. Begitu juga Karaeng Marusu tinggal di istana ini. 

Karaeng Marusu masih beristirahat. Sambil menunggu, Ulil mempersilakan menaiki tangga rumah adat dan melihat-lihat isi Balla Lompoa. Ia juga bercerita bahwa Kerajaan masih mempertahankan satu tanah (sawah) atau lahan khusus yang digunakan untuk pelaksanaan upacara adat.

Begitu melewati pintu ruang tamu, suasana rumah adat langsung terasa. Rumah kayu bercat warna kuning pada dinding dan hijau pada pintu serta jendelanya. Di sebelah kiri terdapat ruang tamu yang diisi kursi-kursi dan meja. Di atas meja telah tertata gelas dan piring kecil berlapis, lengkap dengan kursi yang didesain khusus untuk menerima tamu.

Di sisi kanan, lantainya sedikit lebih tinggi, sekitar 20 sentimeter. Ruangan ini terbagi menjadi tiga bagian: area duduk beralas karpet, kursi bersandaran lengkap dengan bosara, serta ruang ranjang berkelambu berwarna kuning dan merah. Langit-langit Istana bercat putih. 

Di istana ini, dominasi karpet merah. Berbagai benda pusaka kerajaan tersimpan di dalamnya, mulai dari alat musik tradisional seperti gendang dan gong hingga tombak yang berjajar di dinding bercat kuning. Keris, tombak, serta foto-foto kegiatan adat juga menghiasi dinding ruangan.

“Sebentar saya panggilkan Puang,” kata Ulil.

Setelah berkeliling sejenak, kami menunggu di luar. Sekitar 30 menit kemudian, Karaeng Marusu akhirnya menyapa.

Ia mengenakan pakaian serba putih—baju koko putih dipadukan dengan songkok putih. Begitu bertemu, ia langsung menyapa ramah.

“Dari FAJAR, ya?” tanyanya.

“Iya,” jawab saya.

Ia pun mempersilakan kami masuk dan duduk di ruang tamu untuk memulai perbincangan.

Tradisi yang Bertahan

Karaeng Marusu bernama Andi Abd Waris Tadjuddin Karaeng Sioja. Selain memegang peran sebagai Karaeng Marusu, ia juga seorang guru SMA di Maros. Karaeng Sioja merupakan sosok yang menjaga tradisi di Marusu agar tetap bertahan hingga kini.

Menurutnya, pada masa lalu kemakmuran sebuah kerajaan sangat ditentukan ketersediaan pangan, khususnya beras.

“Dulu lambang kemakmuran kerajaan itu dilihat dari ketersediaan beras di masyarakat. Kalau kebutuhan pokok sudah terpenuhi, terutama beras, masyarakat sudah merasa sangat sejahtera,” ujarnya.

Karena itu, sejak dahulu Kerajaan Marusu memiliki tradisi adat yang berkaitan langsung dengan aktivitas persawahan. Tradisi tersebut masih dipertahankan hingga kini melalui rangkaian upacara adat yang dikenal dengan Appalili.

Menurut Karaeng Sioja, ada dua aturan adat utama yang masih sangat dipatuhi masyarakat.

Pertama, masyarakat tidak berani memulai menggarap sawah sebelum prosesi Appalili dilaksanakan.

“Tidak ada masyarakat yang berani mulai mengolah sawahnya kalau Appalili belum dilakukan. Setelah upacara selesai, barulah mereka merasa sudah boleh mulai bekerja di sawah,” jelasnya.

Aturan kedua berkaitan dengan transaksi lahan pertanian. Jika terjadi jual beli sawah setelah Appalili, hak kepemilikan baru tidak langsung berlaku sampai musim panen selesai. Hal ini bertujuan untuk menghindari konflik antara penggarap lama dan penggarap baru.

“Biasanya pemilik sawah tidak menggarap langsung, tetapi ada penggarapnya. Kalau langsung diganti setelah transaksi jual beli, bisa menimbulkan konflik karena penggarap lama sudah bekerja dan mengeluarkan biaya,” jelasnya.

Dalam tradisi pertanian Kakaraengang Marusu terdapat satu rangkaian kegiatan adat yang berlangsung setiap tahun. Rangkaian tersebut meliputi Appalili sebagai tanda dimulainya musim tanam, Katto Bokko setelah panen, hingga Padendang.

Rangkaian ini menjadi penanda bahwa masyarakat sudah boleh mengonsumsi beras baru. Biasanya tradisi tersebut berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan setelah Appalili dilaksanakan. Tepatnya, setelah padi menguning dan panen usai.

Appalili menandai mulai mengolah sawah. Setelah panen ada Katto Bokko, lalu Padendang. Itu satu paket tradisi yang saling berkaitan,” katanya.

Ia menambahkan, masyarakat bahkan masih memegang pantangan untuk tidak mengonsumsi beras baru sebelum prosesi Padendang dilakukan.

“Kalau Padendang belum dilaksanakan, masyarakat biasanya tidak berani makan beras baru. Itu masih dianut sampai sekarang,” ungkapnya.

Appalili biasanya dilaksanakan setiap pertengahan November, tepatnya pada tanggal 16–17, di Balla Lompoa Marusu. Prosesi utamanya ditandai dengan arak-arakan benda pusaka bernama Pajjeko (bajak tradisional) yang kemudian digunakan secara simbolis untuk membajak sawah adat sebagai penanda dimulainya musim tanam. Prosesi ini dimulai dari sawah kerajaan.

Sementara itu, Katto Bokko biasanya digelar pada akhir Maret atau paling lambat awal April, meski jadwalnya saat ini harus menyesuaikan dengan Ramadan dan Lebaran. Dari rangkaian ini, Padendang sebenarnya yang dulu paling ramai, tetapi sekarang sudah jarang dilakukan secara besar. Salah satu sebabnya karena sudah tidak ada lagi galarang-galarang yang membawa pasukan penumbuk padi.

“Kadang sekarang pegawai adat yang melaksanakannya, tetapi tidak lagi semeriah dulu,” jelasnya. Namun demikian, Padendang tetap penting karena menjadi penanda tersajinya hidangan khusus kaddo ase lolo atau beras muda. Baik Katto Bokko maupun Padendang kerap dilaksanakan pada hari yang sama, berlangsung seharian. Bagi, masyarakat Maros, pesta adat yang digelar di Istana akan selalu ramai dihadiri.

Pajjeko yang Melawan Arus

Dalam prosesi Appalili digunakan pula benda pusaka kerajaan bernama Pajjeko, yaitu alat bajak sawah tradisional yang diyakini memiliki sejarah unik. Pajjeko disimpan di Arajang dan hanya dikeluarkan pada saat prosesi adat berlangsung untuk digunakan secara simbolis membajak sawah.

Alat bajak sawah ini merupakan peralatan tradisional untuk mengolah tanah di persawahan. Bentuknya terdiri atas beberapa bagian utama, yaitu sambungan rangka yang menghubungkan seluruh bagian alat, tangkai penarik yang diikatkan pada kerbau atau sapi sebagai tenaga penggerak, serta mata bajak yang berfungsi membalik dan menggemburkan tanah. Di bagian belakang terdapat pegangan yang digunakan oleh pengendali untuk mengarahkan jalannya bajak saat proses pembajakan berlangsung.

Alat ini menjadi simbol penting dalam tradisi pertanian karena menandai awal pengolahan lahan sebelum masa tanam dimulai. “Uniknya, Pajjeko yang kami simpan itu utuh tanpa sambungan,” jelasnya.

Menurut cerita turun-temurun, Pajjeko ditemukan hanyut di sungai dan bergerak melawan arus hingga akhirnya diangkat dan dijadikan pusaka kerajaan. Sejak saat itu, alat tersebut dipercaya membawa kemakmuran bagi wilayah Maros yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil beras.

Karaeng Sioja mengatakan keberlangsungan tradisi ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Ia menyebut sedikitnya ada lima unsur yang membantu menjaga kelestarian budaya tersebut.

Pertama adalah kekompakan keluarga kerajaan. Kedua, loyalitas para pegawai adat yang masih menjalankan peran turun-temurun. Ketiga, keterlibatan masyarakat yang masih tinggi dalam setiap prosesi adat. Selain itu, dukungan komunitas budaya dan perhatian dari pemerintah daerah juga turut membantu keberlangsungan tradisi tersebut.

“Kalau semuanya harus dibiayai dengan uang, mungkin kami tidak mampu melaksanakannya setiap tahun. Tapi karena banyak yang terlibat dan membantu, tradisi ini masih bisa terus berjalan,” tuturnya.

Meski demikian, Karaeng Sioja mengakui modernisasi pertanian mulai menjadi tantangan baru. Penggunaan mesin panen dan alat pertanian modern membuat keterlibatan masyarakat dalam proses pertanian semakin berkurang.

“Dulu banyak orang terlibat saat panen, sekarang hampir semuanya dilakukan mesin. Itu yang kadang kami khawatirkan, karena keterlibatan masyarakat bisa semakin berkurang,” katanya.

Tetapi, hingga kini masyarakat Maros masih menunjukkan perhatian tinggi terhadap tradisi tersebut. “Alhamdulillah sampai sekarang upacara ini tidak pernah terlewatkan. Masyarakat masih merasa punya keterikatan dengan tradisi ini,” jelasnya.

Dari Kisah ke Tubuh Pertunjukan

Dari perjumpaan ini pula akan diolah bahan untuk menyusun naskah dan tubuh pertunjukan Eksperimental: “GALUNG: Tanah, Musim, dan Retakan-retakannya.” Karya ini direncanakan hadir pada bulan Juli mendatang. 

Pertunjukan yang mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, dan LPDP ini berupaya menyingkap lapisan-lapisan narasi yang tersembunyi di balik hamparan sawah, mulai dari ritual agraris, lagu-lagu pengiring panen, hingga kisah perjuangan masyarakat dalam mempertahankan tanah mereka.

Melalui medium teater, Galung ingin menghadirkan kembali urgensi untuk merefleksikan bagaimana “galung” (sawah) kini menjadi saksi bisu dari luka ekologis sekaligus tubuh kolektif masyarakat Sulsel yang terus berjuang di tengah perubahan zaman. (*/)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump Klaim AS Bom Pulau Kharg Iran: Serangan Paling Dahsyat
• 21 jam laludetik.com
thumb
6 Tahun Berjalan, Foodbank PKB Jabar Jadi Katalisator UMKM Naik Kelas
• 14 jam lalujpnn.com
thumb
Fenomena “Tamu Hantu” di Pernikahan
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Terkuak, Alasan Utama KPK Periksa Bupati Cilacap di Purwokerto: Kami Menghindari Terjadinya...
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Anies Baswedan Tulis Surat Menyentuh untuk Aktivis KontraS Korban Penyiraman Air Keras
• 6 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.