tvOnenews.com, Teheran – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menggelar maraton diplomasi intensif dengan menghubungi 12 menteri luar negeri di kawasan Timur Tengah dan Mediterania dalam tempo 48 jam terakhir demi merespons memanasnya situasi keamanan regional.
Melalui unggahan di akun Instagram resminya pada Sabtu (7/11/2026), Araghchi mengonfirmasi bahwa dirinya telah menyampaikan posisi mendasar Teheran terkait pentingnya menghormati kedaulatan negara serta menghentikan segala bentuk agresi dan ancaman militer.
Araghchi secara tegas mengusulkan pembentukan kerja sama pengaturan keamanan regional yang murni dikelola oleh negara-negara kawasan tanpa melibatkan kekuasaan atau campur tangan militer dari pihak asing.
- ANTARA
“Komunikasi dilakukan secara terpisah untuk menyampaikan posisi mendasar Iran, menekankan penghormatan terhadap kedaulatan, serta menghentikan ancaman asing yang merugikan ketahanan kawasan,” tegas Araghchi.
Langkah cepat Teheran ini diwujudkan melalui komunikasi intensif dengan para menlu dari Turki, Pakistan, Qatar, Oman, Mesir, Yordania, Siprus Selatan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Tunisia, dan Irak.
Gerakan diplomatik masif ini digulirkan untuk membendung kembali terjadinya perang terbuka antara Washington dan Teheran pasca insiden konfrontasi militer yang sempat memuncak beberapa waktu lalu.
Langkah diplomasi regional ini berlangsung di tengah alotnya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Washington terus menekan syarat konsesi ketat atas program nuklir Teheran sebelum perundingan resmi dimulai kembali.
Di sisi lain, Iran bertahan pada tuntutan utama yakni pencabutan sanksi ekonomi AS secara menyeluruh, pembebasan aset dana negara yang dibekukan di luar negeri, serta jaminan izin penuh untuk kembali mengekspor minyak bumi ke pasar global.
Upaya membendung bentrokan militer baru menjadi fokus utama kawasan menyusul riwayat serangan militer AS dan Israel terhadap kawasan Iran pada Februari 2026 lalu, yang sempat disusul ketegangan bersenjata berulang di tengah mandeknya dialog kedua negara.





Komentar (0)