Makassar, ERANASIONAL.COM – Pemain muda PSM Makassar, Mufli Hidayat, akhirnya angkat bicara terkait kartu merah yang diterimanya saat menghadapi Borneo FC.
Melalui akun media sosial pribadinya, Mufli menyampaikan permohonan maaf kepada tim dan seluruh suporter PSM Makassar.
Namun, ia juga mengungkap alasan yang membuat emosinya terpancing hingga berujung pada insiden di lapangan.
Mufli mengaku mendapat penghinaan verbal yang dinilai telah melewati batas kewajaran. Bahkan, hinaan pemain Borneo FC, Hugo Samir, tersebut disebut menyasar keluarganya, termasuk mendiang sang ayah.
Dalam pernyataannya, Mufli terlebih dahulu menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh elemen tim berjuluk Juku Eja atas kartu merah yang diterimanya.
Unggahan Mufli Hidayat di Instagramnya., Sabtu 7 November 2026 malam. (Foto: Instagram/@yayat7jr)Meski demikian, ia merasa perlu memberikan penjelasan agar publik dapat memahami situasi yang terjadi sebelum menilai tindakannya.
“Pertama-tama saya ingin menyampaikan permohonan maaf khususnya kepada tim dan seluruh pendukung PSM Makassar atas kartu merah yang saya terima pada pertandingan sore ini. Namun melalui unggahan ini saya ingin menyampaikan bahwa ada hal yang perlu diketahui sebelum orang menilai kejadian ini,” tulis Mufli dikutip Sabtu 7 November 2026 malam.
Pemain bernomor punggung 71 tersebut menegaskan, persoalan yang dihadapinya bukan sekadar provokasi atau perang urat saraf (psywar) yang lazim terjadi dalam pertandingan sepak bola.
Menurutnya, ucapan Hugo Samir yang menyerang kehormatan keluarga, terutama mendiang ayahnya, sudah masuk dalam kategori penghinaan yang tidak seharusnya terjadi di dunia olahraga.
“Bagi saya, itu bukan lagi sekadar psywar atau provokasi dalam sepakbola. Tapi merupakan bentuk pelecehan terhadap keluarga dan melewati batas rasa hormat sebagai manusia dan pemain sepakbola profesional,” tegasnya.
Mufli berharap penjelasannya dapat memberikan gambaran yang lebih utuh kepada suporter dan publik sepak bola nasional mengenai insiden tersebut.
Ia juga mengingatkan agar penghinaan yang membawa-bawa keluarga, terlebih orang tua yang telah meninggal dunia, tidak dianggap sebagai hal biasa dalam persaingan sepak bola.
Mufli pun menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan introspeksi bagi dirinya sendiri.
Ia berharap seluruh pihak tetap menjunjung tinggi rasa saling menghormati, meskipun pertandingan berlangsung dengan tensi tinggi.
“Semoga kejadian ini menjadi pembelajaran buat kita semua, khususnya untuk saya pribadi. Sepak bola boleh keras, persaingan boleh panas, tetapi rasa hormat dan respek tetap harus dijaga dan dijunjung tinggi,” tutup Mufli. []






Komentar (0)