JAKARTA, KOMPAS — Sebanyak 106 puisi yang dilengkapi lukisan cat air termuat dalam buku Lighthouses and Rivers of Miracles karya Indah P. Melalui perpaduan dua medium seni tersebut, ia ingin menyampaikan pesan tentang keajaiban, harapan, dan semangat untuk terus menjalani kehidupan.
Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas itu diluncurkan di Beatriss Cafe and Resto, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (7/11/2026). Peluncuran tersebut menghadirkan Kadek Sonia Piscayanti sebagai pembahas. Turut hadir penulis senior Penerbit Buku Kompas, Henry Manampiring.
Indah mengatakan, puisi-puisi dalam buku tersebut terinspirasi dari pengalaman hidup, alam, dan jagat raya. Berbagai unsur, seperti bintang, bulan, laut, sungai, langit, dan mercusuar, hadir sebagai simbol yang kuat dalam bukunya.
Ia memilih tema keajaiban karena percaya bahwa kehidupan manusia selalu diwarnai perjalanan yang dinamis. Pengalaman sedih ataupun bahagia, menurut dia, dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus pengingat untuk terus memiliki harapan.
”Selama kita percaya pada keajaiban, mimpi kita akan terwujud. Saya ingin berbagi kepada sesama bahwa kita harus percaya keajaiban,” ujar Indah.
Menurut dia, menulis dan melukis merupakan dua kegiatan yang saling melengkapi, sementara imajinasi menjadi penghubung keduanya. Gagasan yang muncul dalam pikiran dapat dituangkan melalui rangkaian kata dan pilihan warna dalam lukisan.
Indah lebih banyak menggunakan pengalaman pribadi sebagai bahan penulisan. Peristiwa jatuh dan bangun, kesedihan, serta kebahagiaan ia olah menjadi puisi. Oleh karena itu, inspirasi tidak hanya datang ketika mengalami hal-hal menyenangkan.
”Kehidupan itu sangat menginspirasi sebenarnya. Jatuh dan bangun, sedih dan bahagia, itu semua bisa dituliskan menjadi puisi,” ujarnya.
Kebiasaan berkarya secara manual juga masih dipertahankan Indah di tengah perkembangan teknologi digital. Ia lebih nyaman menulis menggunakan bolpoin dan buku tulis. Sementara itu, lukisan dibuat dengan cat air di atas kertas, dimulai dari sketsa menggunakan pensil.
Ketertarikannya terhadap puisi telah tumbuh sejak kecil. Ia mulai menulis puisi berbahasa Indonesia ketika duduk di sekolah dasar dan puisi berbahasa Inggris sejak sekolah menengah pertama. Adapun ketertarikan melukis yang juga muncul sejak kecil mulai dikembangkan melalui teknik cat air ketika kuliah.
Sejumlah puisi dalam buku terbarunya bahkan berasal dari tulisan yang dibuat bertahun-tahun lalu. Ada karya yang ditulis pada 2004 dan 2005, kemudian dikumpulkan dan disusun kembali. Penyusunan buku yang berlangsung sekitar tiga tahun itu menjadi tantangan tersendiri karena Indah harus menyelaraskan puisi dengan lukisan agar keduanya membentuk satu kesatuan.
Dalam diskusi peluncuran buku, Kadek Sonia Piscayanti melihat puisi sebagai medium untuk mengungkapkan pengalaman dan perasaan personal secara jujur. Melalui puisi, penyair dapat mengolah pengalaman, mempertanyakan berbagai hal, dan membangun cara pandangnya terhadap kehidupan.
Menurut Sonia, proses berpikir dalam menulis puisi juga memiliki kedekatan dengan filsafat. Sebab, penyair tidak sekadar merangkai kata, tetapi juga mengolah pertanyaan dan pemikiran tentang kehidupan.
Ia juga melihat puisi sebagai ruang bagi perempuan untuk mengungkapkan kompleksitas pengalaman hidupnya. Puisi tidak hanya berkaitan dengan keindahan, tetapi juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan berbagai persoalan dan perasaan perempuan.
Selain itu, kegiatan seperti diskusi dan bedah buku dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan karya sastra kepada masyarakat. Buku tidak cukup hanya dipasarkan, tetapi juga perlu dibicarakan agar pembaca mengenal gagasan di dalamnya.
Henry Manampiring menilai, perpaduan puisi dan lukisan tidak sekadar menghadirkan keindahan, tetapi juga membangun hubungan emosional antara penulis dan pembaca. Melalui karya seni, pembaca diajak memasuki ruang perasaan yang dapat menumbuhkan empati dan simpati.
Henry berharap, karya Indah dapat menginspirasi perempuan dari generasi berikutnya untuk berani berekspresi. Menurut dia, puisi dan lukisan merupakan salah satu ruang yang dapat dimanfaatkan perempuan untuk menyampaikan gagasan dan pengalaman.
Ia juga mengapresiasi Penerbit Buku Kompas yang dinilainya konsisten mengangkat kisah dan inspirasi keindonesiaan. Buku Indah, bagi dia, menjadi salah satu contoh dari semangat tersebut.
Buku terbaru Indah melanjutkan perjalanan kreatifnya dalam menulis puisi. Buku pertamanya berjudul Bali The Journey in Heaven on Earth (2020) mengangkat keindahan Bali, sedangkan buku kedua The Voices and Echoes of Love (2023) mengeksplorasi tema cinta.
Kali ini, melalui Lighthouses and Rivers of Miracles, ia memilih keajaiban sebagai gagasan utama untuk mendorong pembaca tetap berani mengejar impian.
Peluncuran buku tersebut juga menarik minat pengunjung yang memiliki ketertarikan terhadap puisi dan ilustrasi. Wiwik (29), salah satu pengunjung, mengaku datang setelah diundang oleh Indah. Ia tertarik melihat karya terbaru penulis tersebut karena menyukai puisi dan buku yang dilengkapi ilustrasi.
Diskusi bersama Sonia juga memberikan kesan tersendiri baginya. Ia terkesan dengan pembahasan mengenai kedekatan perempuan dengan puisi. Ia terinspirasi untuk mulai menulis setelah beberapa kali menghadiri peluncuran buku Indah.
”Jadi kayak aku harus mulai nulis juga deh,” ujarnya.
Pengunjung lainnya, Hamida (21), datang setelah mengetahui acara tersebut melalui media sosial. Ia tertarik mengikuti diskusi karena pembahasannya dinilai relevan dengan dirinya. Meski menyukai kegiatan membaca, ia mengatakan lebih nyaman menikmati karya orang lain daripada menulis sendiri.






Komentar (0)