Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengintensifkan riset pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalimantan Timur dengan mengkaji tiga kawasan potensial, yakni Sangatta di Kutai Timur, Samboja di Kutai Kartanegara, dan Babulu di Penajam Paser Utara.
Kepala BRIN Prof. Arif Satria menegaskan bahwa pengembangan PLTN menjadi kebutuhan yang semakin sulit dihindari seiring meningkatnya permintaan energi untuk sektor industri dan percepatan transisi menuju energi hijau.
BRIN saat ini terus melakukan penelitian untuk menentukan teknologi nuklir yang paling sesuai sekaligus mengidentifikasi wilayah yang memenuhi persyaratan teknis, keselamatan, dan lingkungan.
"PLTN itu sudah menjadi keniscayaan. BRIN terus melakukan riset untuk jenis tenaga yang tepat, kemudian wilayah mana yang paling tepat untuk dikembangkan PLTN," ujar Arif di Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (7/11/2026).
Tiga Wilayah di Kalimantan Timur Masuk Kajian Lokasi PLTNBerdasarkan dokumen riset penataan energi nasional, sedikitnya tiga kawasan di Kalimantan Timur masuk dalam kajian awal sebagai calon lokasi pembangunan reaktor nuklir.
Kawasan pertama adalah pesisir Sangatta di Kabupaten Kutai Timur yang dipertimbangkan karena memiliki akses terhadap sumber air laut untuk mendukung kebutuhan sistem pendinginan reaktor.
Lokasi kedua berada di Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, dengan pertimbangan kondisi geologi serta ketersediaan sumber daya air yang dibutuhkan untuk operasional pembangkit.
Sementara itu, kawasan Babulu di Kabupaten Penajam Paser Utara menjadi kandidat ketiga karena memiliki karakteristik wilayah yang dinilai berpotensi mendukung pembangunan infrastruktur PLTN.
Ketiga kawasan tersebut memiliki dua faktor pendukung utama, yakni akses terhadap pasokan air pendingin dari laut dan kondisi struktur geologi yang relatif stabil terhadap ancaman gempa bumi besar.
Berdasarkan data pemetaan strategis nasional yang disebutkan dalam kajian, Kalimantan Timur mempunyai keunggulan berupa struktur batuan yang relatif stabil dibandingkan sejumlah wilayah Indonesia dengan aktivitas kegempaan lebih tinggi.
Meski demikian, kondisi geologi bukan satu-satunya pertimbangan dalam menentukan lokasi pembangunan fasilitas nuklir karena standar keselamatan dan kajian risiko bencana tetap menjadi persyaratan utama.
BRIN Prioritaskan Keselamatan Reaktor dan Dampak LingkunganPenelitian yang dilakukan BRIN tidak hanya mencakup pemilihan teknologi dan kondisi geologi, tetapi juga memperhitungkan daya dukung lingkungan serta jarak aman fasilitas nuklir dari kawasan permukiman penduduk.
Kajian lingkungan diperlukan untuk memastikan pembangunan dan pengoperasian PLTN mempertimbangkan kondisi ekosistem serta potensi dampaknya terhadap wilayah sekitar.
Selain itu, penentuan jarak aman dari permukiman menjadi bagian penting dalam penilaian kelayakan lokasi untuk menjamin keselamatan masyarakat dalam jangka panjang.
Arif menegaskan bahwa seluruh tahapan penelitian harus dilaksanakan secara transparan dan akurat dengan melibatkan perguruan tinggi daerah.
"Kami ingin memastikan seluruh tahapan kajian ini dilakukan secara transparan, akurat, dan melibatkan perguruan tinggi lokal agar kesiapan teknologi serta sumber daya manusia dapat berjalan seiring," kata Arif.
Keterlibatan perguruan tinggi di Kalimantan Timur diharapkan dapat memperkuat kapasitas penelitian, penguasaan teknologi, serta penyiapan tenaga ahli untuk mendukung pengembangan energi nuklir.
Menurut Arif, percepatan penelitian energi nuklir juga berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem digital dan peningkatan penguasaan teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) di lingkungan perguruan tinggi daerah.
Rencana PLTN Kaltim Sudah Dirintis Sejak Era Gubernur Awang FaroekWacana pembangunan PLTN di Kalimantan Timur bukan merupakan rencana baru karena telah dirintis sejak masa kepemimpinan Gubernur Awang Faroek Ishak pada periode 2008–2018.
Pada masa tersebut, pembangkit listrik tenaga nuklir dipandang sebagai salah satu solusi strategis untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik dalam jumlah besar bagi masyarakat dan sektor industri.
Kebutuhan energi di Kalimantan Timur diproyeksikan dapat mencapai ribuan megawatt seiring pertumbuhan kegiatan ekonomi dan perkembangan kawasan industri.
Rencana pengembangan PLTN kemudian berlanjut pada masa pemerintahan Gubernur Isran Noor melalui koordinasi teknis dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).
Koordinasi tersebut mencakup pemetaan kelayakan calon lokasi pembangunan pembangkit serta pengkajian aspek keselamatan jangka panjang sebelum proyek dapat direalisasikan.
Penetapan Lokasi PLTN Masih Menunggu Hasil KajianDengan berlanjutnya penelitian BRIN, rencana pembangunan PLTN di Kalimantan Timur kini memasuki tahap pendalaman kajian lokasi, pemilihan teknologi, kesiapan lingkungan, dan penguatan sumber daya manusia.
Meski Sangatta, Samboja, dan Babulu telah masuk dalam daftar kawasan potensial, lokasi akhir pembangunan PLTN belum ditetapkan berdasarkan informasi yang disampaikan.
Hasil penelitian teknis dan lingkungan akan menjadi bagian penting dalam menentukan kelayakan wilayah yang dapat mendukung pembangunan fasilitas nuklir dengan standar keselamatan ketat.
Pengembangan PLTN di Kalimantan Timur diarahkan untuk mendukung kebutuhan listrik berkapasitas besar bagi industri, memperkuat ketahanan energi nasional, serta mempercepat transisi menuju sumber energi rendah karbon.





Komentar (0)