Wabah Penyakit Menular Merebak di Lingkungan Sekolah Tiongkok, Obat-obatan dan Masker Jadi Langka

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

Wabah penyakit menular merebak di lingkungan sekolah-sekolah di Tiongkok. Sejumlah kelas di sekolah dasar dan menengah serta taman kanak-kanak terpaksa menghentikan kegiatan belajar mengajar. Beberapa sekolah mulai mewajibkan siswa mengenakan masker. Sementara itu, persediaan obat-obatan, masker, dan perlengkapan pelindung lainnya terus mengalami kelangkaan. Data internal menunjukkan bahwa jumlah kematian akibat wabah ini telah mencapai angka tertinggi dalam empat tahun terakhir.

EtIndonesia.com Seorang pemilik apotek di Tiongkok daratan mengungkapkan bahwa belakangan ini, varian baru COVID-19 memiliki tingkat penularan dan keganasan yang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Rumah sakit setiap hari dipenuhi pasien. 

Di rumah sakit anak-anak, masyarakat mengantri untuk berobat, baik pada tengah malam maupun dini hari. Ambulans juga terlihat berulang kali keluar-masuk kawasan permukiman sepanjang hari. Obat-obatan dan perlengkapan pelindung terkait terus mengalami kekurangan stok.

“Virus ini terus bermutasi. Udara mengalir ke mana-mana, virus juga ada di mana-mana. Tidak ada yang bisa menghindarinya. Situasinya benar-benar sulit sekarang. Sebuah taman kanak-kanak di sekitar rumah saya sudah menghentikan kegiatan belajar. Orang dewasa pun tidak sanggup menahannya. Tidak ada yang bisa dilakukan. Stok obat batuk dan masker dari pabrik hampir habis. Pasokan sangat terbatas dan harga akan naik,” ujar pemilik apotek, Jiang kepada NTD yang dilaporkan, Jumat (6/11/2026).

Pemilik apotek tersebut mengatakan bahwa kebijakan tahun ini menetapkan, jika dalam satu kelas sekolah terdapat lebih dari 10 orang yang terinfeksi dalam waktu satu minggu, kegiatan belajar mengajar harus dihentikan. 

Saat ini, banyak kelas memiliki 10 hingga 20 siswa yang terinfeksi. Beberapa kelas telah diliburkan, tetapi ada pula sekolah yang tidak melaporkan kasus tersebut dan tetap tidak menghentikan kegiatan belajar.

“Apotek kami kehabisan masker N95. Di wilayah selatan maupun utara terjadi wabah penularan secara berkelompok, dan sejumlah sekolah menghentikan kegiatan belajar. Beberapa sekolah bahkan mulai mewajibkan penggunaan masker. COVID-19 tahun ini lebih sulit dihadapi dan dampaknya jauh lebih kuat. Saya tidak bisa bicara terlalu banyak karena hal ini tidak diizinkan untuk dipublikasikan,” kata pemilik apotek lainnya, Lin.

Pemilik apotek itu juga mengungkapkan bahwa sebelumnya, penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular pada musim gugur dan dingin umumnya lebih sering menyerang orang lanjut usia atau paruh baya yang memiliki tiga penyakit kronis, yakni tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Namun, sekarang tidak lagi memandang usia. 

Ia juga menambahkan, siapa pun yang terinfeksi virus COVID-19 dapat mengalami serangan jantung atau stroke. Rumah sakit khusus penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular yang cukup terkenal setiap hari dipadati pasien, sementara ketersediaan tempat tidur sangat terbatas.

“Tahun ini, anak muda pun tidak sanggup menahannya. Banyak orang berusia 30-an dan 40-an meninggal akibat serangan jantung atau stroke. Beberapa kasus bahkan terjadi di sekitar saya. Mereka mengira hanya terkena flu biasa, tetapi kondisinya tidak kunjung membaik,” ujarnya. 

“Berbagai macam obat sudah diminum, tetapi tidak ada hasilnya. Setelah sekitar 20 hari lebih, mereka mengalami serangan jantung. Setelah diperiksa di rumah sakit, ternyata penyebabnya adalah infeksi COVID-19,” jelasnya. 

Seorang ahli virologi Tiongkok bermarga Zhang (nama samaran) mengungkapkan bahwa wabah COVID-19 kali ini disebabkan oleh dua subvarian baru, PJ.2.1 dan TA.1, yang merupakan keturunan dari garis keturunan Omicron XFG.

Penelitian menunjukkan bahwa PJ.2.1 memiliki kemampuan yang sangat kuat untuk berikatan dengan reseptor ACE2, sehingga dapat menginfeksi lebih banyak jenis sel.

“Banyak warga kita diam-diam meninggal pada puncak gelombang COVID-19. Data yang diumumkan laboratorium menunjukkan bahwa jumlah kematian pada September merupakan yang tertinggi sejak 2022,” kata Ahli virologi Tiongkok bermarga Zhang (nama samaran). 

“Berdasarkan hasil perhitungan model untuk puncak musim dingin, jumlah orang yang terinfeksi pada akhir Desember diperkirakan akan mencapai 25 persen dari total populasi. Mereka yang mengalami masalah jantung akan menjadi kelompok yang paling rentan,” tambahnya. 

Baru-baru ini, seorang pelaku usaha jasa pemakaman mengunggah video dan menyatakan, “Jumlah orang yang meninggal tahun ini bahkan lebih banyak dibandingkan saat pandemi.”

Laporan wawancara Xiong Bin dan Peng Xinyu, NTD.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Yakup Hasibuan Sebut Jawaban Jokowi di Sidang Ijazah Luar Biasa, Tegaskan Kebenaran akan Menang
• 15 jam lalu
0
thumb
Kemendag Tetapkan Minyak Nilam Jadi Komoditas SRG
• 13 jam lalu
0
thumb
Soal Pengerahan Pasukan ke Jakarta, Panglima TNI: Siaga Dalam Rangka Mempertahankan NKRI!
• 14 jam lalu
0
thumb
AHY Sebut Underpass Bitung Dongkrak Ekonomi Banten, Biaya Logistik Bisa Lebih Hemat
• 7 jam lalu
0
thumb
FKPP Gresik Punya PR Besar, dari Legalitas hingga Ekonomi
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.