Tekanan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah bawah, menjadi tantangan bagi pelaku ritel. Pelaku ritel memanfaatkan momentum akhir tahun 2026 dan awal tahun 2027 untuk memacu capaian kinerja industri ritel tahun 2026.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menilai, triwulan IV (Oktober-Desember) 2026 dan triwulan I (Januari-Maret) 2027 merupakan periode puncak yang akan menentukan kinerja industri ritel di Indonesia.
Periode triwulan I-2027 memiliki banyak momentum penting yang akan mendorong kinerja penjualan ritel, antara lain Tahun Baru, kenaikan upah minimum, Imlek, Ramadhan, tunjangan hari raya, dan Idul Fitri. Momentum itu menjadi periode pembuka penjualan ritel yang akan sangat menentukan dan memengaruhi perjalanan ataupun progres kinerja tahun 2027 secara keseluruhan.
”Ini menjadi kesempatan bagi industri usaha ritel di Indonesia untuk mendapatkan penjualan semaksimal mungkin, yang akan menentukan kinerja secara keseluruhan penjualan ritel,” kata Alphonzus saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Para peritel akan memanfaatkan kedua triwulan penting tersebut untuk meningkatkan penjualan semaksimal mungkin melalui gerai-gerai yang sudah ada dan pembukaan gerai-gerai baru. Investasi selanjutnya dinilai akan melandai menjelang akhir triwulan I-2027 sampai dengan awal triwulan II (April-Juni) 2027. Kelanjutan investasi akan ditentukan oleh keberhasilan kinerja triwulan I-2027.
Yunus Karim, Head of Research JLL Indonesia, secara terpisah, mengemukakan, pusat perbelanjaan premium dan grade A tercatat masih memiliki tingkat keterisian tinggi. Permintaan ruang sewa pusat perbelanjaan di Jakarta selama triwulan III (Juli-September) 2026 tetap positif dengan serapan bersih sekitar 10.500 meter persegi.
Secara umum, tingkat keterisian pusat perbelanjaan Jakarta tetap terjaga di angka 86 persen. Hal itu didukung oleh ekspansi penyewa gerai makanan dan minuman, kehadiran konsep gerai berbasis pengalaman, serta pembukaan gerai flagship atau gerai utama secara selektif.
Selain itu, merek-merek baru terus masuk ke mal grade A dan premium di Jakarta. Merek-merek asing didominasi merek asal Asia, yang umumnya hadir melalui distributor lokal.
Dalam JLL Media Briefing, Kamis (5/11/2026), Yunus memparkan, tingkat keterisian atau okupansi mal grade A dan premium pada triwulan III-2026 tercatat naik 1,3 persen. Kenaikan itu sejalan dengan tren keterisian mal yang tumbuh 2,6 persen sepanjang 2025. Keterisian tinggi itu didukung oleh renovasi dan penataan ulang komposisi penyewa.
Pada 2026, pasokan pusat perbelanjaan kembali bertambah dengan masuknya satu pusat perbelanjaan baru di Jakarta Timur seluas sekitar 16.000 meter persegi (m²) sehingga total pasokan pusat perbelanjaan di Jakarta mencapai 3,2 juta m². Ke depan, setidaknya dua pusat perbelanjaan baru dijadwalkan masuk ke pasar dengan luas 100.000 m² hingga 2030.
Head of Property & Asset Management JLL Indonesia Naomi Patadungan menambahkan, masalah yang sekarang dihadapi adalah daya beli dari kelas menengah yang menjadi tantangan untuk mal di Jakarta. Akan tetapi, mal premium masih mencatat kinerja yang baik dengan tingkat kunjungan tinggi.
Mal premium memiliki tingkat okupansi tinggi karena konsep berbasis pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung. Sementara mal kelas menengah cenderung mengandalkan kedatangan konsumen hanya untuk pembelian barang kebutuhan sehari-hari.
”Kami melihat mal premium masih menjadi sasaran utama dari merek-merek baru yang akan masuk atau ekspansi, terutama jenama yang berhubungan dengan makanan dan minuman. Selain itu, kecantikan, kesehatan, gaya hidup, teknologi, dan pengalaman,” ujar Naomi.
Beberapa merek asing yang masuk dan berekspansi antara lain Tianlala dan Molly Tea asal China serta Oriental Kopi asal Malaysia yang masuk ke mal-mal premium. Masuknya jenama produk fashion, seperti Marimekko asal Finlandia, juga dipandang menambah pilihan belanja bagi pengunjung mal premium di Jakarta.
Yunus menambahkan, permintaan sewa ruang mal terutama didorong oleh sektor makanan dan minuman. Restoran dinilai masih menjadi penyewa yang paling aktif dalam mencari ruang untuk perbelanjaan. Selain itu, gerai yang menawarkan pengalaman baru bagi pengunjung mal, misalnya konsep restoran dengan dekorasi yang menarik minat pengunjung.
”Pengembang dapat berkreasi atau berstrategi untuk dapat menarik pengunjung dengan seleksi penyewa, pengadaan food court yang lebih menarik, sehingga menarik pengunjung yang sesuai dengan target pasar," lanjutnya.
Pusat perbelanjaan memiliki peluang untuk mencatatkan kinerja positif jika mampu membaca kebutuhan pasar serta menawarkan variasi penyewa (tenancy mix) yang beragam dan sesuai target pasar. Mal yang memiliki strategi baik akan menetapkan profil pengunjung yang dituju dan segmen pasarnya.
Menurut Alphonzus, kondisi dan isu dalam negeri akan lebih menentukan keputusan dalam berinvestasi daripada situasi dan kondisi global.
”Kepastian berusaha dan konsistensi kebijakan pemerintah menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan investasi,” katanya.






Komentar (0)