jpnn.com - JOMBANG - Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam angkat topi dengan langkah Kapolri Jenderal Suyudi membentuk tim khusus penanganan skandal penyadapan terhadap Presiden Prabowo dan beberapa pihak lainnya.
Menurut Gus Salam, Polri tidak boleh memberikan toleransi hukum atau politik kepada para penyadap, terlebih lagi ada dugaan sudah mengarah ke makar seperti yang disebut pihak Istana.
BACA JUGA: Hubungan Prabowo-Jokowi Dianggap Sudah Berjarak, Bisa Berujung Pemakzulan Gibran
"Bila masuk kategori yang mengarah makar, maka tidak boleh ada toleransi sedikit pun baik hukum maupun politik terhadap para pelakunya. Harus diusut tuntas hingga akarnya dan terbuka,” kata Gus Salam.
“Tidak hanya Presiden Prabowo sebagai kepala negara sekaligus korban penyadapan yang prihatin. Namun, para ulama, kiai yang turut menjaga bangsa ini, termasuk saya, juga prihatin atas skandal penyadapan para petinggi yang membahayakan negara ini,” imbuhnya.
BACA JUGA: Guru Besar Nilai Skandal Penyadapan Presiden Belum Memenuhi Unsur Makar
Menurut Gus Salam, para target yang merupakan kalangan strategis bisa menjadi indikasi bahwa arah penyadapan untuk kepentingan melemahkan, mengendalikan hingga melumpuhkan.
"Kalau sudah presiden sendiri yang disadap oleh oknum-oknum di sekitarnya, maka melumpuhkan pemerintahan hingga meruntuhkan posisi presiden bisa jadi hanya soal waktu," ujarnya.
BACA JUGA: Anggota KKB DPO Penembakan Brigpol Ronald Ditangkap Satgas ODC
Gus Salam mengatakan saat ini menjadi kesempatan atau momentum Polri menjawab ujian integritas dan profesionalitas.
"Ini momentumnya. Karena para pelaku adalah para perwira tinggi internal Polri. Pengusutan skandal harus benar-benar mendalam, tegas, transparan dan disegerakan,” katanya. (*/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... 98 Resolution Network Sebut Penyadapan Presiden Menjurus pada Tindakan Makar
Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan





Komentar (0)