Prancis Kembali Bergejolak! Demonstrasi Terbesar Meletus, Aksi Kekerasan Pecah

erabaru.net
1 jam lalu
Cover Berita

Pihak berwenang mencatat 575.000 demonstran, lebih banyak dibandingkan 17 Oktober, sementara aktivis sayap kiri radikal dari luar Prancis turut bergabung dalam aksi unjuk rasa di Paris.

EtIndonesia.com — Ratusan ribu orang berunjuk rasa di berbagai wilayah Prancis pada 5 November dalam aksi mogok nasional yang menuntut kenaikan upah dan uang pensiun. 

Aksi tersebut menyatukan serikat pekerja sayap kiri, mahasiswa, pensiunan, dan kelompok rompi kuning (Yellow Vests). Jumlah peserta ini menjadi yang terbesar sejak aksi protes pelajar sekolah menengah yang dipelopori kelompok sayap kiri radikal pada September berkembang menjadi gejolak sosial paling serius di negara itu dalam beberapa tahun terakhir.

Kementerian Dalam Negeri Prancis melaporkan bahwa jumlah demonstran pada Kamis mencapai 575.000 orang di seluruh negeri, termasuk 65.000 orang di Paris. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan awal sebanyak 600.000 orang. Namun, jumlah itu lebih tinggi dibandingkan 550.000 orang yang tercatat pada 17 Oktober, ketika kerusuhan dan penjarahan terjadi, serta lebih dari dua kali lipat dibandingkan 256.000 orang pada 6 Oktober, saat aksi protes mahasiswa mencapai puncaknya. 

Sementara itu, CGT, konfederasi serikat pekerja terbesar di Prancis, memperkirakan jumlah peserta mencapai 1,6 juta orang.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Paris telah mengeluarkan peringatan keamanan bagi warga Amerika menjelang aksi protes tersebut. Dalam pemberitahuan pada 4 November, kedutaan menyebut kekerasan, perusakan properti, dan penjarahan yang terjadi baru-baru ini. 

Kedutaan AS memperingatkan bahwa jam malam dapat diberlakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya dan aksi demonstrasi berpotensi meluas hingga ke luar jalur yang telah direncanakan. Menara Eiffel ditutup sepanjang hari.

448 Orang Ditangkap, 53 Petugas Keamanan Terluka

Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengerahkan sekitar 70.000 personel polisi dan gendarmerie (polisi nasional bersenjata Prancis), didukung kendaraan lapis baja, drone, dan helikopter, untuk menghadapi apa yang disebutnya sebagai “hari yang sensitif”. Ia berjanji akan memberikan “respons dengan ketegasan ekstrem” terhadap segala bentuk kekerasan.

Menjelang malam, kementerian melaporkan 448 orang ditangkap dan 53 personel polisi serta gendarmerie terluka di seluruh negeri. Pada Kamis malam, Nuñez mengatakan bahwa aksi demonstrasi berlangsung “dalam situasi ketika, sekali lagi, kekerasan terjadi secara meluas”.

Kekerasan terparah terjadi di Lyon. Menurut kantor prefektur setempat, beberapa ratus perusuh berpakaian hitam yang berada di barisan depan aksi unjuk rasa yang diikuti 30.500 orang merusak sejumlah toko dan membakar sebuah mobil. Pihak berwenang melaporkan 40 orang terluka, termasuk 34 personel polisi dan gendarmerie, serta 24 orang ditangkap.

Sekolah-sekolah kembali menjadi sasaran sejak pagi hari. Di dekat Toulouse, sekitar 30 orang bertudung menyerang staf sebuah sekolah menengah di Tournefeuille dengan menembakkan kembang api berbentuk mortir dan membakar kantor urusan kesiswaan. Di Lille, sebuah sekolah menengah dievakuasi setelah gerbangnya dibakar.

Di Paris, seorang guru diserang ketika perkelahian pecah di luar sekolah menengah Lamartine setelah sejumlah orang dari luar bergabung dalam aksi pemblokiran sekolah. Peristiwa itu mendorong kepala sekolah mengecam insiden tersebut sebagai tindakan “kekerasan ekstrem”, menurut surat kabar Le Figaro.

“Tidak ada tuntutan apa pun yang dapat dijadikan alasan atau kedok bagi para pelaku kejahatan,” kata Menteri Pendidikan Édouard Geffray melalui platform X. “Para pelaku harus mempertanggungjawabkan tindakan mereka di hadapan pengadilan.”

Di Rennes, polisi dilempari bola logam pétanque di luar sebuah sekolah menengah. Di Strasbourg, sebuah patung raksasa berbentuk petugas polisi antihuru-hara dibakar di hadapan massa. Nuñez meminta prefek setempat meneruskan perkara tersebut kepada jaksa penuntut umum. Di Paris, polisi juga menjadi sasaran lemparan berbagai benda.

Aktivis Sosialis dari Berbagai Negara Eropa Turut Bergabung

Aksi unjuk rasa di Paris juga dihadiri sejumlah delegasi dari luar negeri. Konfederasi serikat pekerja terbesar Italia, CGIL, mengirimkan delegasi sebagai “bentuk nyata kedekatan dan solidaritas” dengan serikat pekerja Prancis, menurut pernyataan organisasi tersebut.

Aksi mogok kerja ini membuka rangkaian pemogokan terkoordinasi yang diumumkan bersama oleh serikat pekerja dari Prancis, Italia, Spanyol, Portugal, dan Belgia. Aksi tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 23 November. Sementara itu, serikat pekerja dan sejumlah organisasi dari tujuh negara Eropa, termasuk Inggris, menyerukan demonstrasi pada 20–22 November.

Sekitar 50 aktivis serikat pekerja dan mahasiswa Inggris yang diorganisasi oleh kelompok kampanye Strike Map juga datang ke Paris. Di antara mereka terdapat Daniel Kebede, sekretaris jenderal National Education Union, serikat guru terbesar di Inggris.

Louis, seorang mahasiswa universitas sekaligus anggota Stop the War Coalition yang berbasis di Inggris, mengatakan kepada The Epoch Times saat mengikuti aksi di Paris bahwa delegasi tersebut terdiri dari kelompok sosialis, kelompok antiperang, dan serikat pekerja. Ia mengatakan datang untuk belajar dari para aktivis Prancis.

Louis, yang menolak menyebutkan nama belakangnya, mengatakan, “Saya datang ke sini untuk berbicara dengan mahasiswa universitas di Prancis guna mengembangkan gagasan dan strategi saya sendiri tentang bagaimana kami dapat memastikan gerakan di Inggris meniru apa yang terjadi di sini.”

Ia juga menggambarkan gerakan di Prancis sebagai bagian dari upaya “anti-imperialis” yang dikoordinasikan melalui konferensi antiperang di Paris dan London. Ia mengatakan bahwa aksi mogok kerja di Inggris juga telah dikonfirmasi.

“Jika kita melakukan aksi masing-masing di negara sendiri, kita tidak akan mampu melawan kelas penguasa, karena mereka benar-benar mengorganisasi diri secara bersama-sama,” ujarnya.

Ia mengatakan Stop the War telah bekerja sama dengan sejumlah partai sayap kiri radikal terkemuka di Eropa, termasuk Podemos di Spanyol, Die Linke di Jerman, dan La France Insoumise di Prancis. Partai Komunis Inggris merupakan salah satu organisasi yang berafiliasi dengan koalisi tersebut.

Pemerintah Akan Gelar Perundingan

Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu mengumumkan pada Kamis malam bahwa dirinya akan bertemu dengan perwakilan serikat pekerja dan pengusaha pada Senin untuk membahas upah dan biaya hidup.

Menteri Tenaga Kerja Jean-Pierre Farandou mengatakan bahwa kenaikan upah minimum merupakan salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan. Serikat pekerja CGT menuntut kenaikan sebesar 10 persen, sedangkan CFDT menginginkan tambahan 100 euro per bulan, atau sekitar 112 dolar AS.

“Pesan dari masyarakat di jalanan kepada pemerintah dan para pengusaha sudah jelas: Tidak ada yang dapat menghentikan kami,” kata Sekretaris Jenderal CGT Sophie Binet sebelum aksi unjuk rasa di Paris dimulai.

Unjuk kekuatan serikat pekerja tersebut berlangsung ketika gerakan mahasiswa yang menjadi pemicu awal gelombang protes tampaknya mulai mereda. Kantor perdana menteri mencatat bahwa pada Kamis terdapat 81 dari sekitar 3.700 sekolah menengah yang diblokade, meskipun serikat mahasiswa USL mengklaim jumlahnya mencapai 1.000 sekolah.

Sementara itu, kelompok rompi kuning dan kelompok pemuda sayap kiri menyerukan aksi-aksi baru pada Sabtu mendatang.

Artikel ini sebelumnya terbit di Theepochtimes.com 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
RUU Perampasan Aset Bakal Tegaskan Hukuman Mati bagi Koruptor, Ini Penjelasan DPR
• 11 jam lalu
0
thumb
Ada Harga yang Harus Dibayar untuk Menjadi Perempuan
• 2 jam lalu
0
thumb
Bantu Garap Mini Album Damusin, Rian D’Masiv: Dia Adik Iparku
• 1 jam lalu
0
thumb
Atlet berkuda Indonesia antar tim Asia raih emas FEI di Dakar
• 4 jam lalu
0
thumb
KAI Pastikan Tak Impor KRL Bekas dari Jepang, Siapkan 23 Trainset Baru dalam 2-3 Tahun
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.