Di Manado, Puan Ajak Pemuda Gereja Perjuangkan Keadilan dan Kebenaran

detik.com
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Ketua DPR RI Puan Maharani mengajak generasi muda, khususnya pemuda gereja, berani memperjuangkan keadilan dan menegakkan kebenaran di tengah berbagai tantangan zaman. Ia juga mendorong anak muda untuk berpikir kritis, menjaga persatuan, serta menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.

"Hiduplah sebagai terang. Hadirkan kebaikan. Perjuangkan keadilan! Tegakkan kebenaran!" tegas Puan dalam keterangan tertulis, Jumat (6/11/2026).

Pesan tersebut disampaikan Puan saat menghadiri pembukaan Konsultasi Nasional Pemuda Gereja di aula Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado, Sulawesi Utara, Jumat (6/11/2026) pagi. Acara itu dihadiri pemuda dan remaja gereja dari berbagai daerah, pimpinan sinode gereja, serta sejumlah tokoh dan pejabat daerah.

Dalam sambutannya, Puan menyinggung pentingnya menjaga harmoni di tengah perbedaan. Ia mengaku merasakan suasana kekeluargaan saat hadir dalam kegiatan tersebut.

"Meski kita berbeda agama tetapi ketika saya datang ke sini, sambutannya begitu hangat. Membuat saya merasa datang ke keluarga sendiri," kata Puan diikuti tepuk tangan meriah dari para peserta yang hadir.

"Memang itulah Indonesia. Kita bhineka tunggal ika. Ini yang harus selalu kita jaga termasuk oleh anak-anak muda," lanjut perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.

Puan kemudian mengingatkan kembali semangat Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober. Menurutnya, keberanian generasi muda menjadi salah satu kekuatan penting dalam mendorong perubahan bangsa.

"Belum lama ini, bangsa Indonesia memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda. Sebuah tonggak sejarah yang mengingatkan kita bahwa perubahan besar dalam perjalanan suatu bangsa sering kali lahir dari keberanian generasi muda untuk memikirkan sesuatu yang belum terpikirkan oleh zamannya," kata Puan.

"Juga memperjuangkan sesuatu yang belum menjadi kenyataan, dan mempersatukan sesuatu yang sebelumnya terpecah-pecah," lanjutnya.

Ia menyebut sejarah dunia juga mencatat peran anak muda dalam berbagai gerakan, mulai dari perjuangan hak asasi manusia, demokrasi, kepedulian terhadap lingkungan, hingga perlawanan terhadap rasisme.

"Ini menunjukkan bahwa anak muda kerap menjadi kekuatan yang menggugat ketidakadilan, menantang kemapanan, dan membuka jalan bagi perubahan sosial," ungkap Puan.

Menurut Puan, generasi muda memiliki pengalaman sejarah yang berbeda sehingga dapat menghadirkan cara pandang baru. Namun, kemajuan teknologi dan kemudahan memperoleh informasi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis.

"Hari ini, Pemuda hidup di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang berkembang dengan kecepatan luar biasa. Pengetahuan semakin mudah diakses, batas-batas geografis semakin terbuka, dan kesempatan untuk belajar, berinovasi, serta membangun gerakan bersama semakin luas," paparnya.

Ia mengingatkan kemajuan teknologi tidak otomatis membuat cara berpikir masyarakat semakin maju. Begitu pula banyaknya informasi tidak selalu menghasilkan pengetahuan dan kebijaksanaan.

"Pemuda tidak cukup hanya menjadi penerima informasi, pengguna teknologi, atau pengikut perubahan. Pemuda perlu memiliki kemampuan untuk mempertanyakan, menguji kebenaran, memahami persoalan secara mendalam, dan mengubah pengetahuan menjadi tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat," sebut Puan.

Puan menilai tantangan anak muda saat ini bukan hanya memperoleh informasi, tetapi juga membedakan fakta dari manipulasi dan pengetahuan dari opini. Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah penyebaran hoaks dan disinformasi melalui penggunaan kecerdasan buatan (AI).

"AI ini luar biasa canggihnya tapi kita juga harus berhati-hati. Karena dengan hanya mengetik atau prompting di gadget lalu bisa sekejap menghasilkan konten-konten hoax, disinformasi. Di sini generasi muda harus berpikir kritis agar tidak termakan hoax," ungkapnya.

Dalam konteks tersebut, Puan menilai tema Konsultasi Nasional Pemuda Gereja, yakni 'Hiduplah Sebagai Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran', relevan dengan tantangan zaman.

"Terang harus memiliki daya untuk menerangi persoalan, membangkitkan kesadaran, menumbuhkan harapan, dan menggerakkan tindakan bersama," ungkap perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR itu.

Puan juga mengaitkan pesan tersebut dengan falsafah masyarakat Sulawesi Utara yang diwariskan Sam Ratulangi, yakni Si Tou Timou Tumou Tou.

"Yaitu Si Tou Timou Tumou Tou, bahwa manusia hidup untuk memanusiakan sesama manusia. Falsafah ini mengajarkan bahwa nilai kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil diraih untuk dirinya sendiri, tetapi juga oleh apa yang dapat diberikan bagi kehidupan sesamanya," terang Puan.

Ia turut mengingatkan pemikiran Bung Karno yang menempatkan rakyat sebagai pusat cita-cita kemerdekaan Indonesia.

"Bung Karno menegaskan bahwa kebangsaan dan demokrasi tidak boleh berhenti pada kemerdekaan politik, tetapi harus membawa kemerdekaan dalam kehidupan sosial dan ekonomi, sehingga rakyat dapat hidup lebih sejahtera dan bermartabat," jelas cucu Bung Karno tersebut.

Menurut Puan, pengabdian kepada sesama merupakan bagian dari perjuangan membangun bangsa. Karena itu, Konsultasi Nasional Pemuda Gereja diharapkan tidak hanya menjadi ruang bertukar pikiran dan menyusun program organisasi.

"Konsultasi Nasional Pemuda Gereja pada saat ini, tentu tidak hanya menjadi ruang untuk bertukar pikiran, memperkuat persaudaraan, dan menyusun program-program organisasi," tutur Puan.

Ia berharap forum tersebut menjadi momentum untuk mempertegas arah pengabdian pemuda gereja di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Jika Pemuda Gereja ingin menjadi terang, maka terang itu harus hadir di tengah kehidupan rakyat.
Terang tidak hanya bersinar di dalam ruang-ruang pertemuan dan kegiatan organisasi, tetapi harus menjangkau tempat-tempat di mana masyarakat menghadapi kesulitan, ketidakpastian, dan ketidakadilan," urainya.

Puan pun mendorong agar program kerja pemuda gereja disusun berdasarkan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.

"Perjalanan Pemuda Gereja untuk menjadi terang di tengah kehidupan rakyat tentu tidak selalu mudah. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, dan setiap generasi menghadapi ujian sejarah yang berbeda," kata Puan.

Ia menyebut generasi muda saat ini menghadapi tantangan kompleks, mulai dari kemajuan teknologi, persaingan ekonomi, ketimpangan kesempatan, krisis lingkungan, disinformasi, hingga melemahnya solidaritas sosial.

"Di sinilah panggilan Pemuda Gereja untuk menjadi terang menemukan ujian yang sesungguhnya karena, terang tidak kehilangan maknanya ketika berhadapan dengan kegelapan. Justru di tengah kesulitan dan ketidakpastian, kehadiran terang menjadi semakin diperlukan," tegas Puan.

Puan mengingatkan pemuda gereja perlu memperkuat kapasitas diri agar mampu menjawab tantangan melalui karya, pelayanan, dan gerakan bersama.

"Pemuda harus terus mempertajam cara pikir, memperkuat kemajuan cara kerja, dan meningkatkan cara hidup yang baik," pesan mantan Menko PMK itu.

Ia juga menyoroti besarnya jumlah generasi muda di Indonesia yang mencapai lebih dari 50 persen populasi. Namun, menurutnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh jumlah, melainkan juga kualitas dan karakter generasi muda.

"Oleh karena itu, menjadi harapan kita semua bahwa Konsultasi Nasional ini dapat menghadirkan gerakan Pemuda Gereja yang berkarakter, sebagai kekuatan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan ikut membentuk masa depan bangsa dan negara," urai Puan.

Puan berharap pemuda gereja tumbuh menjadi generasi yang kuat dalam iman, terbuka terhadap kemajuan, dan berani menghadirkan kebaikan.

"Bung Karno pernah mengungkapkan keyakinannya yang sangat besar terhadap kekuatan generasi muda melalui ungkapan yang terkenal: Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia," ujar Puan mengutip pernyataan Bung Karno.

"Pesan yang dapat kita petik dari ungkapan tersebut bukanlah tentang jumlah pemuda, melainkan tentang kekuatan tekad, keberanian, persatuan, dan cita-cita besar yang mampu menggerakkan perubahan sejarah," sambung Puan.

Dalam acara tersebut, Puan menyematkan tanda peserta sebagai simbol resmi dibukanya Konsultasi Nasional Pemuda Gereja. Ia meminta generasi muda untuk berani dengan tetap berlandaskan iman, memperkuat diri dengan pengetahuan, serta menunjukkan kepedulian kepada sesama.

"Inilah panggilan Pemuda Gereja: menjadi terang yang tidak bersinar untuk dirinya sendiri, tetapi bersinar menerangi kehidupan sesama," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Konsultasi Nasional Pemuda Gereja Rio Dondokambey menyampaikan terima kasih atas kehadiran Puan. Ia menyebut kegiatan tersebut merupakan konsultasi nasional pertama setelah beberapa tahun sempat vakum.

"Selamat datang Ibu Ketua DPR-RI. Kami sangat merasa terhormat Ibu hadir. Ini adalah Konsultasi Nasional Pemuda Gereja pertama yang kami laksanakan setelah beberapa tahun sempat vakum. Kami sangat ingin mendengar masukan dari Ibu Ketua untuk penyusunan program-program kerja kami," ucap Rio Dondokambey.




(ega/ega)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Diminta Uji Ulang Ijazah di Hadapan Hakim, Jokowi: Saya Keberatan
• 23 jam lalu
0
thumb
Jokowi Ungkap Sosok Dumatno Budi Utomo, Sepupu Jauh yang Lahir pada 1977 dan Masih 8 Tahun saat Ijazah UGM Terbit
• 20 jam lalu
0
thumb
Visa Presents Livin’ MARKT: Hadirkan Ratusan Creative Local Brand dengan Beragam Promo dan Kemudahan Belanja
• 6 jam lalu
0
thumb
Transformasi Medan di Tangan Rico Waas: Dari Pembenahan Infrastruktur Hingga Digitalisasi Pelayanan
• 22 jam lalu
0
thumb
Agar Aspirasi Daerah Terwujud, Wamendagri Ribka Haluk Tekankan Sinergi DPD dan Pemerintah
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.