Jakarta: PT Kereta Api Indonesia (KAI) memastikan tidak akan mengimpor kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang. Sebagai gantinya, KAI bakal mengutamakan pengadaan rangkaian KRL baru sekaligus mendorong pemberdayaan industri perkeretaapian dalam negeri.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa seluruh armada KRL yang akan didatangkan harus dalam kondisi baru demi memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
"Pokoknya buat rakyat harus yang baik," ujar Bobby dikutip dari tayangan Headline News Metro TV, Jumat 6 November 2026.
Dalam proses pengadaan tersebut, KAI berkomitmen melibatkan industri manufaktur nasional, salah satunya PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA. Kendati demikian, Bobby menyebut peluang kerja sama dengan produsen luar negeri tetap terbuka, dengan syarat utama wajib menggandeng industri dalam negeri.
"Salah satunya nanti sebagian di INKA. Wajib mendukung industri dalam negeri. Luar negeri harus kerja sama dengan dalam negeri," ungkapnya.
Baca Juga :
KAI Targetkan 23 Train Set KRL Baru Rampung 3 TahunTerkait jumlah armada, Bobby mengungkapkan bahwa PT KAI saat ini membutuhkan total 23 rangkaian (trainset) KRL baru. Dari total kebutuhan tersebut, sebanyak delapan trainset berstatus mendesak (urgent) dan harus segera dipenuhi.
KAI menargetkan proses pengadaan seluruh rangkaian kereta baru tersebut dapat dikebut dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan.
"Ada delapan yang urgent, kemudian total 23 trainset. Kita akan percepat dua sampai tiga tahun 23 trainset itu," jelas Bobby.





Komentar (0)