BTN Ubah Sampah Jadi Cuan, Setoran Botol Plastik Bisa Masuk Rekening

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengembangkan inisiatif pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Melalui fasilitas Waste Station, masyarakat kini bisa mengubah sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, hingga kaleng menjadi uang yang dapat dicairkan melalui rekening BTN.

Terbaru, BTN meresmikan Waste Station di Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (5/11). Fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi BTN, Pemerintah Kabupaten Banyumas, dan Rekosistem.

Direktur Commercial Banking BTN Hermita mengatakan, pengembangan Waste Station merupakan bagian dari strategi Beyond Mortgage, yang memperluas peran BTN dari pembiayaan perumahan menjadi pengembangan ekosistem untuk mendukung kualitas kehidupan masyarakat.

“Sekarang BTN itu sudah Beyond Mortgage. Nah, Beyond Mortgage-nya itu kita bukan hanya mengelola rumah, tapi juga semua ekosistemnya,” ujar Hermita dikutip dari Antara, Jumat (6/11).

Menurut Hermita, BTN mengembangkan lima ekosistem utama, yakni pemerintah daerah, kesehatan, pendidikan, pariwisata, dan perdagangan. Kelima ekosistem tersebut berkaitan erat dengan kebutuhan hunian sekaligus aktivitas masyarakat yang menghasilkan sampah. Karena itu, pengelolaan sampah menjadi bagian dari upaya BTN membangun ekosistem perumahan yang lebih berkelanjutan.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024, sampah rumah tangga menyumbang sekitar 50,8 persen dari total timbulan sampah nasional sebesar 33,79 juta ton. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari lingkungan permukiman.

Hermita menjelaskan, BTN membuka peluang kerja sama dengan pengembang perumahan, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah untuk memperluas pengelolaan sampah. Salah satu gagasan yang didorong adalah penyediaan fasilitas pemilahan sampah di setiap kawasan perumahan agar masyarakat terbiasa mengelola sampah sejak dari rumah.

BTN juga mendorong pemberdayaan generasi muda yang memiliki inovasi pengolahan sampah melalui pelatihan dan business matching dengan pelaku usaha, termasuk pengembang perumahan. Ke depan, pengembangan Waste Station diharapkan tidak hanya mencakup sampah anorganik, tetapi juga sampah organik.

Waste Station Alun-Alun Purwokerto memiliki kapasitas pengumpulan rata-rata sekitar 4 ton sampah per bulan dan beroperasi setiap Selasa hingga Minggu pukul 09.00–18.00 WIB.

Masyarakat dapat menyetorkan sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, kertas, kaleng, kaca, dan limbah elektronik melalui aplikasi Rekosistem. Sampah yang ditimbang akan dikonversi menjadi poin berdasarkan jenis dan beratnya. Poin tersebut kemudian dapat dicairkan menjadi uang melalui rekening BTN.

Pengembangan fasilitas di Banyumas melanjutkan pengalaman Waste Station BTN di Situbondo, Jawa Timur, yang telah mengumpulkan sekitar 6,8 ton sampah anorganik dengan partisipasi 32 pengguna sejak beroperasi.

Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup, Vinda Damayanti Ansjar, mengatakan kolaborasi pemerintah daerah, dunia usaha, sektor perbankan, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Menurut Vinda, Banyumas telah memiliki berbagai inisiatif pengelolaan sampah, mulai dari TPST, TPST 3R, fasilitas RDF, hingga recycling center. Kehadiran Waste Station diharapkan memperkuat jaringan pengumpulan sampah terpilah yang terhubung dengan pelaku daur ulang dan industri pemanfaatan material.

“Keterlibatan sektor perbankan juga membuka peluang untuk menghubungkan pengelolaan sampah dengan layanan dan insentif keuangan, sehingga masyarakat dapat merasakan secara langsung manfaat dari kebiasaan memilah sampah,” ujar Vinda.

Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan pengelolaan sampah menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah. Saat ini, timbulan sampah di Banyumas mencapai sekitar 738 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 573 ton atau 77,76 persen telah terkelola, sedangkan sekitar 164 ton per hari masih membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Sadewo menjelaskan, Banyumas terus mendorong pengelolaan sampah dari hulu melalui pemilahan sejak rumah tangga, pemberdayaan kelompok swadaya masyarakat, serta penyediaan fasilitas pengolahan di tingkat desa dan kelurahan.

“Cara pandang kita terhadap sampah juga harus berubah. Sampah tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dikumpulkan, diangkut lalu dibuang,” kata Sadewo.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Hasil Liga Voli Korea 2026/2027, Kamis 5 November: Hi Pass Bawa Pulang Tiga Poin dari Markas SOOPers
• 19 jam lalu
0
thumb
Di Tengah Sorotan KPK, Dirut KAI Tinjau Kesiapan Kereta Jelang Nataru
• 38 menit lalu
0
thumb
Jenderal Dedi Ingin Satu Data Agraria untuk Cegah Pengaduan Tanah Berulang
• 3 jam lalu
0
thumb
Roy Suryo Cecar Jokowi soal Putusan MA-MK, Hakim Langsung Interupsi
• 20 jam lalu
0
thumb
Respons Jokowi soal Dikaitkan dengan Penyadapan Listyo Dkk dan Isu Makar
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.