Mengenal Ueno, Bank Digital Terbesar Paraguay yang Kolaps hingga Picu Presiden Mundur

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bank Ueno, salah satu bank digital terbesar di Paraguay, menjadi sorotan setelah Bank Sentral Paraguay mengambil alih operasionalnya, Selasa (3/11). Krisis bank tersebut tidak hanya membuat jutaan nasabah kesulitan mengakses simpanan, tetapi juga memicu pergolakan politik hingga Presiden Paraguay Santiago Peña mengajukan pengunduran diri.

Bank Ueno merupakan lembaga keuangan yang berkembang pesat dari perusahaan pembiayaan lokal menjadi bank digital dengan jutaan nasabah. Bank ini diluncurkan pada Desember 2021 oleh Grupo Vázquez, konglomerasi bisnis Paraguay yang memiliki investasi di sektor keuangan, teknologi, asuransi, pertanian, dan hiburan.

Mengutip laporan Reuters, Jumat (6/11), Bank Ueno mengeklaim memiliki sekitar 3 juta nasabah di Paraguay, negara dengan populasi sekitar 6,5 juta jiwa. Bank tersebut juga mengelola dana publik sekitar USD 850 juta, termasuk dana dari lembaga pemerintah dan institusi yang berkaitan dengan program pensiun.

Pertumbuhan Bank Ueno didorong model bisnis digital yang memungkinkan masyarakat membuka rekening dan mengakses layanan perbankan melalui aplikasi. Model tersebut menjadikannya salah satu pemain penting dalam perluasan inklusi keuangan di Paraguay.

Berawal dari Perusahaan Pembiayaan

Meski merek Ueno baru diperkenalkan pada 2021, sejarah lembaga keuangan yang menjadi cikal bakal bank tersebut sudah berlangsung sejak 1976 melalui Financiera El Comercio.

Berdasarkan laporan pemeringkat Fitch Ratings, pada 2021 Grupo Vázquez mengakuisisi mayoritas saham Financiera El Comercio. Setelah proses transformasi digital, perusahaan tersebut berganti nama menjadi Financiera Ueno.

Pada 22 November 2023, Ueno memperoleh izin perbankan dan resmi beroperasi sebagai Bank Ueno S.A.

Ekspansi bisnisnya semakin besar setelah Bank Ueno melakukan merger dengan Visión Banco pada Juni 2024. Melalui penggabungan tersebut, Bank Ueno memperluas basis nasabah, aset, serta jangkauan layanan perbankannya.

Fitch Ratings mencatat, setelah merger, Bank Ueno menjadi salah satu pemain menengah dalam industri perbankan Paraguay. Per Oktober 2024, bank tersebut menempati peringkat kelima berdasarkan aset dengan pangsa pasar sekitar 5,6 persen.

Sementara itu, dalam laporan perusahaan pada Maret 2026, Bank Ueno menyebut jumlah nasabahnya telah melampaui 2,8 juta orang. Perusahaan juga mengeklaim telah membantu lebih dari 1 juta warga Paraguay memperoleh akses perbankan untuk pertama kalinya.

Mengapa Bank Ueno Kolaps?

Di balik pertumbuhan bisnisnya, Bank Ueno menghadapi persoalan keuangan dan pengawasan regulator. Pada Selasa (3/11), Bank Sentral Paraguay (Banco Central del Paraguay/BCP) mengumumkan dimulainya prosedur resolusi terhadap Bank Ueno setelah menemukan rasio solvabilitas bank berada di bawah 50 persen dari batas minimum yang dipersyaratkan.

Keputusan tersebut diambil setelah regulator melakukan penyesuaian terhadap laporan keuangan bank selama proses penyehatan.

Presiden Bank Sentral Paraguay Carlos Carvallo mengatakan keputusan tersebut merupakan hasil pemeriksaan teknis yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Regulator mulai menemukan indikasi pemberian kredit kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan dengan kelompok usaha pengendali Bank Ueno sejak Juni 2026.

Pemeriksaan tersebut mencakup penelusuran kondisi keuangan transaksi dan aliran dana untuk mengetahui hubungan perusahaan penerima kredit dengan kelompok pemilik bank. Selain persoalan kredit, regulator juga menemukan penurunan indikator likuiditas serta kelemahan dalam dokumentasi sejumlah transaksi kredit.

Carvallo menegaskan penanganan kasus tersebut tidak berarti seluruh industri perbankan Paraguay mengalami masalah.

"Situasi Bank Ueno merupakan kejadian khusus dan terisolasi. Sistem keuangan Paraguay secara keseluruhan tetap solid dan sehat," kata Carvallo.

Nasib 3 Juta Nasabah dan Dana Publik

Pengambilalihan Bank Ueno berdampak langsung terhadap aktivitas keuangan masyarakat. Nasabah tidak bisa mengakses saldo rekening melalui aplikasi, menarik uang melalui ATM, maupun melakukan sejumlah transaksi perbankan.

Kondisi tersebut memicu demonstrasi di Asunción, ibu kota Paraguay. Nasabah mendatangi kantor-kantor cabang Bank Ueno untuk menuntut kepastian pengembalian simpanan mereka.

Bloomberg melaporkan, salah satu nasabah bernama Deisy Asva, mahasiswi keperawatan berusia 20 tahun, tidak bisa mengakses tabungannya setelah bank ditutup. Rekening tersebut selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membayar transportasi dan biaya kuliah.

"Kalau teknologi sudah begitu maju saat ini, bagaimana mungkin proses ini membutuhkan waktu 15 hari? Saya terpaksa harus meminjam uang dari keluarga," kata Deisy, dikutip dari Bloomberg.

Nasabah lainnya, Rocío Zárate, seorang akuntan berusia 36 tahun, juga mengaku terkejut setelah mengetahui Bank Ueno diambil alih regulator. Beberapa jam sebelumnya, dia bahkan baru menyetorkan uang ke rekeningnya karena tertarik dengan program promosi bank tersebut.

"Saya sedang bersiap berangkat kerja ketika paman saya bertanya, 'Apakah kamu punya uang di Ueno? Karena banknya sedang diintervensi? Ini sangat mengejutkan. Saya benar-benar tidak menyangka hal ini akan terjadi," ujar Rocío.

Sementara itu, Bank Sentral memastikan regulator memprioritaskan pengembalian dana nasabah, terutama penabung dengan simpanan kecil.

"Bank Sentral akan mengerahkan seluruh kemampuannya agar proses ini berlangsung secepat mungkin. Prioritas utama kami adalah para penabung kecil," kata Carvallo.

Untuk melindungi nasabah, BCP menyatakan simpanan dijamin melalui Fondo de Garantía de Depósitos (FGD), atau dana penjaminan simpanan, dengan batas maksimal 75 kali upah minimum bulanan. Nilainya setara sekitar 228,3 juta guaraní Paraguay per nasabah per bank.

Kaitan Bank Ueno dengan Presiden Paraguay

Krisis Bank Ueno kemudian berkembang menjadi persoalan politik karena adanya hubungan bisnis antara Presiden Paraguay Santiago Peña dan Grupo Vázquez, pemegang saham pengendali bank tersebut.

Reuters melaporkan, Peña pernah menjadi mitra bisnis Grupo Vázquez hingga Maret 2025. Peña menyatakan telah menjual kepemilikannya di kelompok usaha tersebut pada bulan itu.

Bank Ueno sendiri menyatakan Peña tidak pernah memiliki hubungan langsung dengan bank sebagai pemegang saham maupun investor.

Meski demikian, hubungan bisnis masa lalu tersebut menjadi sorotan setelah bank sentral mengambil alih Bank Ueno. Sejumlah anggota parlemen oposisi menuding terdapat konflik kepentingan, dugaan penyalahgunaan dana pensiun, serta upaya menutupi persoalan pengawasan bank.

Peña membantah melakukan pelanggaran hukum. Namun, tekanan politik terus meningkat seiring berlangsungnya demonstrasi nasabah dan penyelidikan terhadap sejumlah pihak yang terkait dengan bank.

Persoalan tersebut juga menyeret Carlos Carvallo, mantan pimpinan Bank Ueno yang kemudian menjabat sebagai Presiden Bank Sentral Paraguay. Carvallo mengajukan pengunduran diri pada 3 November setelah Bank Ueno masuk proses resolusi, di tengah sorotan terhadap independensi dan pengawasan regulator.

Kejaksaan Paraguay turut membuka penyelidikan terkait kegagalan bank tersebut dan mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap delapan orang yang terkait dengan Bank Ueno.

Puncak krisis politik terjadi pada Kamis (5/11) ketika Santiago Peña mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden melalui rekaman video. Pada hari yang sama, DPR Paraguay menyetujui proses pemakzulan terhadapnya dengan suara 78-0.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Setelah perkara Ijazah, Jokowi minta nama baiknya dipulihkan
• 16 jam lalu
0
thumb
Merasa Seperti Bercermin, Sigi Wimala Akui Karakter Wini di Film Desember Jani Mirip Dirinya
• 19 jam lalu
0
thumb
Polda Metro Jaya Buka Akses Kerja Lewat Program Poliran | KOMPAS PAGI
• 5 jam lalu
0
thumb
Richard Lee Akui Inisiatif Serahkan Diri ke IDI untuk Disidang Etik
• 22 jam lalu
0
thumb
Tulus, Idgitaf, dan no na Berjaya di AMI Awards 2026, Ini Daftar Lengkap Pemenangnya
• 17 menit lalu
0
Berhasil disimpan.