Jejak Dua Pahlawan dalam Uang Rupiah Terbitan Pertama BI

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Hari Pahlawan menjadi pengingat bangsa Indonesia lahir dan bertahan berkat pengorbanan para pejuang. Jasa mereka tidak hanya tercatat dalam lembaran sejarah, tetapi juga diabadikan dalam uang rupiah.

Di setiap lembar rupiah, tersimpan makna dan narasi kebangsaan. Gambar yang ditampilkan, mulai dari sosok pahlawan, kebudayaan, hingga flora dan fauna, tidak sekadar menjadi karya seni yang estetis. Berbagai gambar tersebut juga merepresentasikan simbol dan identitas keindonesiaan.

Hal itu pula yang tercermin dalam uang rupiah terbitan Bank Indonesia (BI). Salah satunya melalui Seri Kebudayaan 1952 yang menampilkan sosok pahlawan nasional.

Mengutip laman Bank Indonesia, penerbitan uang bergambar pahlawan pada masa awal kehadiran BI memiliki arti penting bagi Indonesia yang kala itu masih menghadapi berbagai tantangan sebagai negara yang baru merdeka.

Kehadiran sosok pahlawan dalam uang rupiah menjadi salah satu cara untuk mengabadikan nilai perjuangan sekaligus memperkuat semangat kebangsaan dan persatuan. Melalui figur-figur tersebut, masyarakat diingatkan pada keteladanan para tokoh yang berkontribusi bagi bangsa.

Lantas, siapa saja pahlawan yang ditampilkan dalam uang Seri Kebudayaan 1952?
 

Baca Juga :

Sosok Cut Nyak Dhien, Sang 'Ratu Aceh' yang Tangguh di Medan Perang

Foto: dok Bank Indonesia.

  Kartini, pahlawan di uang kertas Rp5
Sosok pertama adalah Raden Ajeng Kartini. Lahir pada 21 April 1879, Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia.

Pada masanya, Kartini membawa gagasan tentang kebebasan, kesetaraan, modernisasi, dan penolakan terhadap feodalisme. Pemikiran tersebut dituangkan melalui surat-surat yang ia tulis, termasuk gagasan mengenai pendidikan dan kedudukan perempuan dalam masyarakat.

Kumpulan surat Kartini kemudian diterbitkan di Belanda dalam sebuah buku berjudul Door Duisternis Tot Licht. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Pemikiran Kartini melalui surat-suratnya turut menginspirasi perjuangan pendidikan dan emansipasi perempuan di Indonesia.

Kartini memang tidak berada di garis depan pertempuran seperti Cut Nyak Dien dan Laksamana Malahayati. Namun, perjuangannya melalui pemikiran dan pendidikan menjadi bagian penting dalam perjalanan kebangsaan Indonesia.

Sosok Kartini diabadikan pada uang kertas pecahan Rp5 dalam Seri Kebudayaan 1952. Penerbitan uang tersebut berlangsung pada masa persiapan kelahiran Bank Indonesia, setelah pemerintah menasionalisasi De Javasche Bank pada 1951.

Meski bertahun emisi 1952, uang kertas tersebut baru resmi diedarkan pada 2 Juli 1953. Hal ini berkaitan dengan proses pembentukan Bank Indonesia yang secara resmi berdiri pada 1 Juli 1953.

Pada bagian depan uang tersebut terdapat gambar R.A. Kartini yang dikelilingi ukiran stilisasi dua burung dan motif kelok paku sehingga membentuk bingkai di bagian tengah.

Sementara itu, bagian belakang menampilkan gambar pohon kalpataru atau pohon kehidupan. Gambar tersebut diapit stilisasi dua ekor ular serta ornamen dekoratif berupa perpaduan garis yang membentuk kipas terkembang.

Uang kertas bergambar Kartini tersebut beredar selama sekitar sembilan tahun sebelum ditarik oleh Bank Indonesia pada 1961. Sosok Kartini kembali muncul pada uang kertas pecahan Rp10.000 tahun emisi 1985.
 

Baca Juga :

Dari Soekarno hingga Herman Johannes, Ini Pahlawan di Uang Rupiah
  Diponegoro, Pahlawan di Uang Rp100
Selain Kartini, Pangeran Diponegoro juga menjadi sosok yang diabadikan dalam uang rupiah terbitan awal Bank Indonesia.

Putra Sultan Hamengkubuwono III tersebut lahir di Yogyakarta pada 11 November 1785. Namanya dikenal luas sebagai pemimpin perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda dalam Perang Jawa pada 1825–1830.

Perang tersebut melibatkan berbagai kalangan masyarakat, mulai dari priyayi, ulama, kerabat kerajaan, hingga rakyat. Perlawanan yang dipimpin Diponegoro menjadi salah satu perang terbesar yang dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Jawa pada abad ke-19.

Perang Jawa berakhir setelah Diponegoro ditangkap dan diasingkan pada 1830. Ia kemudian wafat di Makassar pada 1855. Meski demikian, kisah perjuangannya terus dikenang dan menjadi bagian dari sejarah perlawanan terhadap kolonialisme.

Potret atau lukisan Diponegoro juga pernah ditampilkan di sejumlah tempat pertemuan aktivis pergerakan. Sosoknya bahkan dijadikan poster dalam Kongres Muhammadiyah ke-20 pada 1931.

Selain itu, naskah Babad Diponegoro yang ditulis oleh sang Pangeran menjadi salah satu peninggalan sejarah penting. Pada 2013, UNESCO mengakuinya sebagai bagian dari Memory of the World atau Memori Dunia.


Foto: dok Bank Indonesia.


Dalam Seri Kebudayaan 1952, Pangeran Diponegoro diabadikan pada uang kertas pecahan Rp100. Bagian depan uang tersebut menampilkan potret Diponegoro bersama ornamen burung Garuda, yang dalam mitologi Hindu dikenal sebagai kendaraan Dewa Wisnu.

Sementara itu, bagian belakang menampilkan corak stilisasi burung Garuda yang saling berhadapan.

Pada tahun yang sama, Bank Indonesia juga menerbitkan koin bergambar Diponegoro dengan nominal 50 sen. Koin dengan nominal yang sama kembali diterbitkan pada 1954, 1955, dan 1957.

Sosok Diponegoro kembali menghiasi uang kertas rupiah melalui penerbitan uang pecahan Rp1.000 pada 1975.

Pengabadian Kartini dan Diponegoro dalam uang rupiah menunjukkan bahwa mata uang tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi. Di dalamnya juga tersimpan rekam jejak sejarah, nilai perjuangan, serta identitas bangsa yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Antisipasi Banjir Lahar Dingin Merapi, BPBD Sleman Siagakan 34 Alat Early Warning System
• 14 jam lalu
0
thumb
Polres Malang Gelar Apel Kesiapan Tanggap Bencana Hidrometeorologi, Siapkan 800 Personel
• 11 jam lalu
0
thumb
Listyo Sigit cs Bakal Jalani Sidang Etik Terkait Penyadapan Prabowo
• 1 jam lalu
0
thumb
[FULL] Kapolri-Purnawirawan Buka Suara Soal Kasus Penyadapan Listyo Sigit CS ke Prabowo
• 16 jam lalu
0
thumb
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Divonis 5 Tahun Penjara
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.