Kalah di Pemilu Sela, Trump Hadapi Dilema soal Kelanjutan Perang Iran

kompas.tv
3 jam lalu
Cover Berita
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada wartawan saat meninjau pembangunan ballroom di Gedung Putih, Washington, Rabu (4/11/2026). (Sumber: AP Photo/Alex Brandon)

WASHINGTON, KOMPAS.TV - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghadapi dilema terkait kelanjutan perang melawan Iran setelah Partai Republik mengalami kekalahan besar dalam pemilu sela (midterm elections) 2026.

Hasil pemilu menunjukkan ketidakpuasan pemilih terhadap kebijakan pemerintahan Trump, termasuk perang yang telah berlangsung selama delapan bulan dan berdampak pada kenaikan harga energi serta biaya hidup masyarakat.

Selama beberapa pekan terakhir, Trump berulang kali mengancam akan kembali melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran setelah pemilu sela berakhir jika Teheran tidak menyepakati kesepakatan dengan persyaratan yang diajukan Washington.

Namun, kemenangan besar Partai Demokrat kini menempatkan Trump dalam posisi sulit untuk menentukan langkah selanjutnya.

Dalam pernyataan pertamanya pada Rabu (4/11/2026) setelah hasil pemilu diumumkan, Trump tampak sependapat dengan Wakil Presiden JD Vance yang sebelumnya menyebut perang Iran sebagai bencana politik bagi Partai Republik.

Meski demikian, saat menjawab pertanyaan wartawan di Gedung Putih pada Kamis (5/11/2026), Trump mengisyaratkan kekalahan pemilu tidak akan memengaruhi pertimbangannya terkait perang.

"Jika kita harus menyelesaikan urusan Iran, kita benar-benar siap melakukannya," kata Trump seperti dikutip dari The Associated Press.

Serangan dan serangan balasan dalam konflik tersebut telah menyebabkan kerugian hingga puluhan miliar dolar AS di kawasan Timur Tengah.

Dampaknya juga dirasakan masyarakat dunia melalui kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan meningkatnya biaya berbagai kebutuhan.

Konflik Meluas ke Laut Merah

Situasi perang Iran kini semakin kompleks. Meski jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali beroperasi dengan pengawalan Angkatan Laut AS, konflik telah meluas hingga ke Laut Merah.

Kelompok Houthi yang didukung Iran terlibat pertempuran dengan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman.

Baca Juga: Iran Klaim Tembak Jatuh 2 Drone Militer AS di Wilayah Dekat Selat Hormuz | SAPA MALAM

Kelompok tersebut dilaporkan menyerang warga sipil Yaman dan infrastruktur Arab Saudi. Mereka juga berupaya memperkuat hubungan dengan kelompok-kelompok bersenjata di kawasan Tanduk Afrika.

Serangan Houthi terhadap wilayah yang dikuasai pemerintah Yaman yang diakui secara internasional turut memperburuk krisis kemanusiaan di negara tersebut.

Seperti dikutip dari The Associated Press, seorang pejabat senior pemerintah Yaman mengingatkan bahwa ancaman Iran dan kelompok-kelompok yang didukungnya di kawasan tidak akan berubah hanya karena hasil pemilu AS.

Pejabat yang meminta identitasnya dirahasiakan itu mendesak Washington agar tidak mengambil keputusan secara terburu-buru.

Brian Haggerty, mantan analis senior Badan Intelijen Pusat AS (CIA) yang kini bekerja di lembaga kajian Defense Priorities, menilai Trump mungkin merasa tidak lagi memiliki banyak hal yang perlu dipertaruhkan secara politik setelah kekalahan Partai Republik.

"Pada saat yang sama, perhitungan strategis mengenai apa yang ingin dicapai melalui peningkatan serangan terhadap Iran tidak berbeda dengan satu pekan atau satu bulan lalu," kata Haggerty.

Trump Punya Sejumlah Pilihan

Sejumlah analis menilai Trump setidaknya memiliki beberapa pilihan untuk menentukan arah konflik.

Menurut Haggerty, salah satu opsi adalah mempertahankan strategi militer saat ini, termasuk melanjutkan serangan yang disebut Washington sebagai serangan defensif serta mempertahankan blokade laut untuk membatasi ekspor minyak Iran ke pasar global.

Pilihan lainnya adalah menyerang fasilitas nuklir Iran di Pickaxe Mountain, wilayah Iran tengah. Fasilitas yang berkaitan dengan program nuklir Iran itu berada jauh di bawah tanah.

David Schenker, mantan asisten menteri luar negeri AS untuk urusan Timur Dekat pada masa pemerintahan Trump sebelumnya, mengatakan serangan terhadap fasilitas tersebut dapat menjadi alasan bagi Trump untuk menyatakan bahwa program nuklir Iran telah mengalami kerusakan cukup besar.

Trump kemudian dapat mencoba mendorong kesepakatan sementara yang mencakup pemulihan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, pelonggaran sebagian sanksi terhadap Iran, serta penundaan pembicaraan lanjutan mengenai program nuklir.

Namun, Trump juga memiliki opsi untuk meningkatkan serangan terhadap infrastruktur Iran, sebagaimana pernah diancamkannya sebelumnya.

Schenker menilai kekalahan politik Trump tidak serta-merta membuatnya terkekang oleh Kongres.

"Orang Iran mungkin percaya bahwa presiden sedang terluka secara politik dan dibatasi oleh Kongres. Namun, hal sebaliknya juga bisa terjadi," ujarnya.

Meski demikian, eskalasi militer berpotensi memperburuk persoalan harga minyak dan energi yang menjadi salah satu alasan pemilih mendukung Partai Demokrat dalam pemilu sela.

Harga minyak mentah Brent bahkan turun di bawah 95 dolar AS per barel pada Rabu, menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir. Pergerakan tersebut mengindikasikan pasar belum memperkirakan akan terjadi serangan besar-besaran dalam waktu dekat.

Baca Juga: Ledakan Beruntun! AS Serang Pulau Qeshm di Iran dekat Selat Hormuz | SAPA MALAM

Iran Juga Menentukan Arah Perang

Para analis mengingatkan bahwa keputusan untuk mengakhiri perang tidak sepenuhnya berada di tangan Washington. Iran juga memiliki peran dalam menentukan arah konflik.

Bradley Bowman, analis dari Foundation for Defense of Democracies, mengatakan AS mungkin dapat menghentikan serangan, tetapi hal itu tidak menjamin Iran akan melakukan hal yang sama.

"Ketika Anda memulai perkelahian, Anda bisa berhenti melayangkan pukulan. Namun, itu tidak berarti pihak lawan juga akan berhenti," kata Bowman.

Ia menambahkan, AS perlu mempertimbangkan langkah yang akan diambil jika Iran tetap melanjutkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Tussie Ayu Editor : Desy-Afrianti

Sumber : The Associated Press

Tag
  • pemilu sela
  • iran
  • trump
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bertambah, Polri Tetapkan Irjen Slamet Uliandi sebagai Tersangka Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
• 12 jam lalu
0
thumb
BRI Super League: Marcelo Djalo Sedih Absen, Persik Harus Cari Cara Redam Ketajaman Bali United
• 14 jam lalu
0
thumb
BMKG prakirakan sejumlah wilayah Jakarta berawan pada Jumat
• 5 jam lalu
0
thumb
KPK Lantik Tujuh Pejabat, Achmad Taufik Husein Resmi Jadi Direktur Penyidikan
• 1 jam lalu
0
thumb
TNI Mempertebal Keamanan Jakarta, Personel & Alutsista Siaga
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.