JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance menyoroti anomali pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,47 persen pada kuartal III 2026. Angka tersebut tercatat di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja yang masih melanda sebagian sektor.
Pertumbuhan sejumlah industri padat karya tercatat meningkat signifikan, meskipun kondisi di lapangan masih diwarnai pemutusan hubungan kerja hingga penutupan pabrik. Fenomena ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan pengamat ekonomi.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance, Riza Annisa Pujarama, mengatakan bahwa capaian pertumbuhan ekonomi tersebut memunculkan sejumlah pertanyaan mengenai kesesuaian antara data statistik dan kondisi riil perekonomian. Salah satu yang menjadi perhatiannya ialah pertumbuhan industri pengolahan sebesar 5,87 persen secara tahunan.
"Gelombang PHK masih terjadi," kata Annisa dalam diskusi publik bertajuk "Tanggapan atas Kinerja Ekonomi Kuartal III 2026" yang digelar secara daring, Kamis (5/11/2026). Pernyataan tersebut menyoroti ketimpangan yang terjadi di sektor ketenagakerjaan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ia menjelaskan, pertumbuhan industri pengolahan ditopang sejumlah subsektor padat karya yang mencatat peningkatan cukup tinggi. Industri tekstil dan pakaian jadi, misalnya, mengalami kenaikan pertumbuhan dari 0,93 persen menjadi 6,22 persen.
Kondisi serupa terlihat pada industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki yang mencatat pertumbuhan hingga 9,75 persen setelah sebelumnya berada di zona negatif. Namun, menurut Annisa, lonjakan tersebut perlu dicermati karena belum sepenuhnya mencerminkan kondisi yang dihadapi pelaku industri dan pekerja.
"Ini mungkin perlu diamati lebih jauh lagi," ujarnya. Pemerintah dan pemangku kepentingan diminta lebih cermat melihat data riil di lapangan.
Annisa menerangkan, pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,47 persen pada kuartal III 2026 turut ditopang sektor industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan. Secara kumulatif hingga kuartal III, pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 5,45 persen, melampaui asumsi pertumbuhan ekonomi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 sebesar 5,4 persen.
Komentar (0)