Di tengah disrupsi ini, menuntut pendidikan tinggi mengubah cara mahasiswa belajar, bekerja, hingga penelitian. Hal ini demi membuka peluang yang bisa dirasakan dampaknya oleh setiap individu.
"Peluang yang ada bukan sekadar untuk berubah, melainkan memastikan bahwa kemajuan di bidang pendidikan, penelitian, dan inovasi benar-benar menghasilkan peluang yang lebih baik bagi manusia serta kemajuan bagi masyarakat dan perekonomian tempat mereka berada," kata Chief Executive Officer QS Quacquarelli Symonds, Jessica Turner, saat membuka QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali International Convention Centre, Nusa Dua, Bali, Selasa, 3 November 2026.
Perguruan tinggi tidak boleh lagi sekadar membekali generasi masa depan dengan kompetensi teknis. Menghasilkan lulusan yang mahir menulis kode atau membangun sistem AI tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan zaman.
Fokus pendidikan harus bergeser ke arah penanaman nilai-nilai yang kuat, pemikiran kritis, tanggung jawab etis, dan empati kemanusiaan.
"Kita harus melatih pola pikir agar tidak hanya bertanya, 'bagaimana saya membangun algoritma ini?', tetapi juga, 'bagaimana algoritma ini dapat mengangkat komunitas yang terpinggirkan?'," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Badri Munir Sukoco.
Baca Juga :
Hadapi Era AI, Kampus Didorong Ajarkan Akuntabilitas dan Dasar KeilmuanSekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Badri Munir Sukoco. Medcom.id/Renatha Swasty
Jessica menekankan di tengah cepatnya evolusi kebutuhan ekonomi dan keterampilan, sangat penting bagi institusi pendidikan dan para pemimpinnya menjaga tujuan kemanusiaan.
"Oleh karena itu, kini lebih penting dari sebelumnya bagi kita untuk menjaga tujuan kemanusiaan tetap menjadi inti dari kemajuan," ujar Jessica.
Kemajuan dalam bidang pendidikan, penelitian, dan inovasi teknologi termasuk AI harus menjadi peluang nyata meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperkuat ketahanan sosial, serta mendorong ekonomi yang adil.
Misalnya, terobosan pertanian sebuah universitas membantu petani lokal membangun ketahanan terhadap perubahan iklim, teknologi energi bersih yang dikembangkan secara langsung menerangi desa-desa terpencil.
"Dampak diukur dari seberapa efektif institusi kita mendorong pertumbuhan ekonomi yang adil, memberantas kemiskinan, dan melindungi iklim kita yang rapuh," ujar Badri.
Pada akhirnya, teknologi AI harus diposisikan sebagai alat. Sementara itu, empati dan kesejahteraan manusia tetap menjadi tujuan utama.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
- URL Berhasil di Salin Kemajuan AI Harus Jaga Tujuan Kemanusiaan di Pendidikan Klik untuk baca: https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/Rb1yMEeb-kemajuan-ai-harus-jaga-tujuan-kemanusiaan-di-pendidikan
(REN)






Komentar (0)