jpnn.com, JAKARTA - Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn), Kementerian Kesehatan RI, Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI), dan Sysmex Indonesia memperkuat kolaborasi skrining talasemia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperluas deteksi dini di Indonesia.
Kick-off program dilaksanakan dalam rangkaian Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) PDS PatKLIn 2026 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, sebagai momentum untuk memperkuat komitmen lintas sektor.
BACA JUGA: Sysmex Indonesia Perkuat Kolaborasi untuk Dorong Deteksi Dini Talasemia
Penyandang Talasemia mayor memerlukan perawatan jangka panjang, termasuk transfusi darah secara berkala sepanjang hidup pasien.
Selain memberikan tantangan yang signifikan terhadap kualitas hidup pasien dan keluarganya, kondisi ini juga memerlukan alokasi sumber daya kesehatan yang berkelanjutan, sehingga menjadikan upaya skrining dan deteksi dini sebagai investasi penting bagi kesehatan masyarakat.
BACA JUGA: Hadirkan Konsep dan Menu Baru, YOSHINOYA Buka Outlet di Kemanggisan
Persoalan lainnya, pembawa sifat talasemia sering kali tidak menunjukkan gejala khas. Tanpa pemeriksaan, status mereka tidak diketahui.
Deteksi dini di fasilitas pelayanan kesehatan menjadi kunci untuk mengenali pembawa sifat dan mengantisipasi risiko lahirnya anak dengan talasemia mayor.
BACA JUGA: Tampil Beda, Crocs Grand Indonesia Hadirkan Concept Store Terbaru
Risiko ini terutama perlu diwaspadai pada pasangan yang sama-sama membawa sifat talasemia.
“Pencegahan dan deteksi dini talasemia membutuhkan komitmen dan kolaborasi berkelanjutan. Melalui inisiatif ini, PDS PatKLIn ingin memperkuat peran kedokteran laboratorium dalam memastikan kualitas pemeriksaan, meningkatkan edukasi masyarakat, dan mendorong tindak lanjut yang tepat demi kesehatan generasi mendatang," ujar Dr. dr. Teguh Triyono selaku Ketua Umum PDS PatKLIn Periode 2025-2028.
Untuk mendukung implementasi inisiatif ini, Sysmex Indonesia berperan sebagai mitra kolaboratif yang mendukung penguatan kapasitas pemeriksaan laboratorium, edukasi berbasis ilmiah, serta sinergi lintas sektor guna mendorong deteksi dini talasemia yang berkelanjutan di Indonesia.
Dr Teguh menyampaikan pencegahan dan deteksi dini talasemia memerlukan komitmen dan kolaborasi yang berkelanjutan.
Menurutnya, melalui inisiatif ini PDS PatKLIn ingin memperkuat peran kedokteran laboratorium dalam menjamin mutu pemeriksaan, meningkatkan edukasi masyarakat dan mendorong tindak lanjut yang tepat demi kesehatan generasi mendatang.
Dalam pelaksanaannya, Sysmex Indonesia berperan sebagai mitra yang mendukung penguatan kapasitas pemeriksaan laboratorium, edukasi berbasis ilmiah, dan sinergi lintas sektor.
Perwakilan Sysmex Indonesia menyatakan kontribusi di bidang kesehatan tidak berhenti pada penyediaan teknologi, tetapi juga mencakup kolaborasi, keahlian medis, dan edukasi.
Dia menyebut skrining talasemia sebagai langkah strategis untuk memperkuat pencegahan, meningkatkan deteksi dini, dan menjaga kualitas generasi Indonesia.
Rangkaian tersebut meliputi skrining talasemia dan edukasi masyarakat, termasuk dalam momentum Hari Talasemia Sedunia pada Mei 2027.
Melalui kolaborasi PDS PatKLIn, Kementerian Kesehatan RI, POPTI dan Sysmex Indonesia, inisiatif ini diharapkan memperkuat deteksi dini talasemia secara berkelanjutan dan mendukung terwujudnya generasi Indonesia Emas.(chi/jpnn)
Redaktur & Reporter : Yessy Artada





Komentar (0)