JAKARTA — Penyanyi Mahalini mencuri perhatian saat tampil di festival musik Live Project 2026 yang digelar di Semarang pada akhir Oktober. Tak hanya karena suara merdunya, Mahalini juga memukau melalui busana panggung yang dikenakannya.
Berkolaborasi dengan perancang busana Cindy Jie Atelier, Mahalini mengenakan gaun putih berpotongan halter-neck yang tampak sangat artistik, elegan, sekaligus menyimpan pesan sosial yang kuat. Penampilan tersebut seketika menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah dibagikan melalui akun Instagram pribadinya dengan keterangan menyentuh.
Baca Juga
Viral! Wisudawati Sisipkan Bendera Palestina di Balik Toga Kelulusan
Kisah Tragis Pilot Muda Nathalia Gadelha Filgueiras dan Kokpit Terakhirnya
Partai Trump Kalah Telak di Pemilu Sela AS, Hollywood Bersorak!
"May we soon truly feel what HOME feels like (Semoga kita segera benar-benar dapat merasakan seperti apa rasanya RUMAH yang sesungguhnya-Redaksi)," tulisnya dikutip dari akun Instagram pribadi Mahalini @mahaliniraharja.
Mahalini mengenakan gaun yang terinspirasi dari bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia saat tampil di Live Project 2026 di Semarang pada Sabtu (31/10/2026). - (Dok. Instagram/@mahaliniraharja)
.rec-desc {padding: 7px !important;} Gaun menawan yang dikenakan Mahalini mengusung tema yang tidak biasa, yaitu "Karhutla" (kebakaran hutan dan lahan). Berdasarkan penjelasan sang desainer, konsep busana ini terinspirasi dari kekuatan destruktif kebakaran hutan yang kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bentuk tekstur “gosong” yang artistik, siluet gaun yang feminin dan lembut, serta keindahan seni adibusana atau couture.
“Ide ini diwujudkan dengan membakar kain dan melapisinya dengan foil berwarna merah setengah dan berkilau, yang melambangkan api dari kebakaran hutan di Indonesia,” tulis Cindy.
Hasil bakaran tersebut kemudian dikombinasikan dengan sapuan warna merah semi-redup serta kilau glittered foil yang merepresentasikan lidah api serta bara dari peristiwa karhutla yang kerap terjadi di Indonesia. Meskipun mengangkat isu bencana alam yang sarat akan kerusakan, gaun tersebut dirancang bukan untuk meromantisasi musibah, melainkan sebagai sebuah pengingat bahwa di balik kehancuran dan abu sisa kebakaran, selalu ada cerita penting yang harus disuarakan kepada khalayak luas.
Komentar (0)