Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menjelaskan mekanisme status siaga yang diberlakukan di lingkungan TNI untuk mengantisipasi berbagai potensi ancaman, baik yang berasal dari alam maupun akibat ulah manusia.
Penjelasan tersebut disampaikan Agus saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai pengerahan 20 ribu personel TNI ke Jakarta. Namun, Agus tidak secara spesifik mengkonfirmasi jumlah personel tersebut, namun menjelaskan mekanisme kesiapsiagaan yang berlaku di internal TNI.
Agus mengatakan, status siaga merupakan bagian dari upaya TNI menjaga kesiapan personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Di dalam internal TNI kita menggunakan istilah siaga. Siaga ini digunakan dalam rangka mempertahankan kedaulatan NKRI dari berbagai ancaman," kata Agus.
Hal itu disampaikan Agus usai memimpin upacara pemakaman Letkol Cpn Anumerta Dudi Firmansyah di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Kota Bandung, Kamis (5/11/2026).
"Ancaman itu ada dua, ancaman alam dan buatan. Alam tadi saya sampaikan ada bencana alam, banjir, kebakaran hutan, tsunami, dan sebagainya. Kemudian ancaman yang kedua buatan manusia yaitu konflik sosial, teroris, separatisme, kemudian makar, dan sebagainya," jelas dia.
Agus menjelaskan, terdapat tiga tingkatan status siaga yang biasa diberlakukan di lingkungan TNI, yakni Siaga 3, Siaga 2, dan Siaga 1. Masing-masing tingkatan memiliki mekanisme pengerahan personel dan alutsista yang berbeda.
Pada kondisi Siaga 3, situasi dinilai masih aman. Personel dan alutsista tetap berada di satuan masing-masing untuk menjalankan kegiatan rutin, termasuk latihan. Namun, prajurit sudah tidak diperbolehkan meninggalkan kesatrian.
Kemudian pada Siaga 2, situasi memasuki kondisi waspada. Personel dan alutsista dengan kekuatan setengah hingga tiga perempat kekuatan mulai ditempatkan di pos masing-masing. Prajurit juga tidak diperbolehkan keluar dari kesatrian.
Adapun Siaga 1 diberlakukan ketika eskalasi ancaman meningkat. Dalam kondisi tersebut, personel dan alutsista disiagakan serta ditempatkan di pos masing-masing untuk mengantisipasi kemungkinan yang terjadi.
"Siaga 1 adalah situasinya yang eskalasinya meningkat, di mana personel dan alutsistanya sudah disiagakan dan masuk ke pos masing-masing," ujarnya.
Agus menegaskan, pemberlakuan status siaga tidak memiliki batas waktu tertentu. Penurunan status akan dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan situasi hingga kondisi dinilai kembali kondusif.
"Siaga itu tidak ada waktunya. Jadi lihat situasi sudah kondusif, baru dari Siaga 1 kita kendorkan Siaga 2 dan Siaga 3," jelasnya.
Ia menambahkan, kesiapsiagaan tersebut diterapkan untuk mengantisipasi potensi ancaman di seluruh wilayah Indonesia. Dengan begitu, personel dan alutsista TNI dapat segera digerakkan apabila dibutuhkan.
Khusus untuk menghadapi bencana alam, Agus menyebut dirinya memberlakukan Siaga 1 secara terus-menerus seiring mulai masuknya musim penghujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Menurutnya, kesiapan tersebut diperlukan karena potensi banjir dapat meningkat ketika curah hujan tinggi. TNI pun menyiapkan personel beserta alutsista agar dapat segera dikerahkan ke wilayah terdampak.
"Tapi kalau untuk siaga bencana, itu saya berlakukan Siaga 1 terus karena ini sudah mulai musim penghujan. Pasti di beberapa wilayah ada yang banjir, kita personel dengan alutsista sudah siap digerakkan," pungkasnya.






Komentar (0)