Tiga Prajurit Gugur, Operasi Pemadaman Karhutla Tetap Berlanjut

kompas.id
55 menit lalu
Cover Berita

SEMARANG, KOMPAS — Tiga prajurit TNI gugur dalam kecelakaan yang terjadi pada Helikopter Mi 17V5 saat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan Selatan, Rabu (4/11/2026). Kepala Staf TNI Angkatan Darat Tandyo Budi Revita menyebut, operasi pemadaman yang melibatkan belasan ribu personel tetap berlanjut.

Kecelakaan tersebut terjadi saat helikopter tersebut sedang mengambil air laut untuk water bombing di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalteng pada Rabu sekitar pukul 11.18 WIB. Rencananya, air yang diambil itu bakal dijatuhkan untuk memadamkan Karhutla yang melanda wilayah Taman Nasional Tanjung Puting.

Dalam kecelakaan itu, tiga prajurit gugur, yakni Letnan Kolonel Korps Penerbang (CPN) Anumerta Dudi Hermansyah, Kapten CPN Anumerta Nurhafiz Akbar Riski Hartio, dan Sersan Satu Anumerta Heri Prasetyo. Menurut Tandyo, jasad Heri belum ditemukan. Ada dugaan, jasadnya masih ada di dalam helikopter.

Baca JugaHeli TNI AD Jatuh Saat ”Water Bombing” Karhutla di Kalteng, Satu Prajurit Gugur

Pada Kamis (5/11/2026) pagi, jenazah Nurhafiz tiba di Pangkalan Udara Utama TNI AD Ahmad Yani, Kota Semarang. Setelah itu, jenazah disemayamkan dan disholatkan di Masjid Attaqwa Lanumad Ahmad Yani. Kemudian, jenazah Nurhafiz diberangkatkan menuju Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal untuk dimakamkan pada Kamis siang.

"Kepergian almarhum sungguh menyentuh perasaan haru kita semua. Tetapi Tuhan Yang Maha Kuasa menghendaki demikian. Sebagai umat beragama kita wajib menerimanya dengan ikhlas. Karena kita yakin apa yang dikehendakinya adalah terbaik bagi umatnya," kata Tandyo saat memimpin upacara pemakaman Nurhafiz di Semarang.

Menurut Tandyo, ada delapan orang yang berada di Helikopter Mi 17V5 saat kecelakaan terjadi. Di samping tiga prajurit yang gugur, ada lima prajurit lain yang selamat.

Mereka disebut Tandyo masih menjalani perawatan medis di Banjarmasin. Dalam waktu dekat, lima orang tersebut bakal dipindahkan perawatannya ke Jawa.

Tandyo mengatakan, penyebab kecelakaan itu belum diketahui. Sembari mencari satu jenazah yang diduga masih berada di dalam helikopter, petugas gabungan juga mencari keberadaan kotak hitam pesawat.

"Mudah-mudahan bisa segera diangkat kotak hitam yang ada di situ dan bisa memberikan jawaban apa kendala pada saat terjadi crash. Karena dengan kotak hitam itu kita bisa mengetahui (penyebab kecelakaan) dan menjadi bahan kita untuk evaluasi latihan-latihan ke depan. Sehingga, penanganannya akan lebih mudah," ucap Tandyo.

Tandyo menyebut, operasi pemadaman karhutla menggunakan helikopter tersebut sudah berlangsung hampir dua bulan. Dalam kurun waktu tersebut, sebanyak 363 sortie atau sekitar 1,2 juta liter air sudah diangkut dan disebar untuk memadamkan karhutla.

Ke depan, operasi pemadaman karhutla bakal tetap dilanjutkan. Sebanyak 18.989 personel TNI AD masih berada di Kalimantan untuk operasi tersebut.

Muharto (63), orangtua Nurhafiz mengatakan, anaknya menjadi anggota TNI AD sejak tahun 2011. Selama menjadi TNI, pria yang tutup usia pada 34 tahun itu beberapa kali mendapatkan penugasan ke luar daerah.

Penugasan terakhir yang diterima oleh Nurhafiz adalah operasi pemadaman karhutla di Kalimantan. Anak pertama dari tiga bersaudara itu sempat berpamitan kepada Muharto sebelum berangkat bertugas ke Kalimantan pada akhir Oktober.

"Dia habis ulang tahun di 27 Oktober, paginya dapat surat tugas untuk berangkat ke Kalimantan. Sebelum berangkat, dia sempat video call untuk berpamitan. Saya bilang selamat jalan, selamat bertugas, hati-hati di sana. Saya selalu berpesan supaya selama menjalankan tugas ini, safety dan SOP (prosedur operasional standar) diterapkan," ujar Muharto.

Selama beberapa hari menjalani penugasan di Kalimantan, Nurhafiz disebut sering menghubungi Muharto. Ayah dari satu anak itu disebut terakhir kali menelpon Muharto pada Senin (2/11/2026).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letnan Jenderal Kristomei Sianturi turut menghadiri upacara pemakaman Nurhafiz di Semarang. Dalam keterangannya, Kristomei mengaku turut berbelasungkawa atas gugurnya tiga prajurit TNI AD dalam operasi penanggulangan karhutla di Kalteng.

Kristomei mengharapkan dukungan dan doa dari masyarakat agar pemadaman karhutla bisa berjalan dengan sukses dan aman. Dia berharap, api bisa segera padam dan beban warga terdampak bisa berkurang.

"Upaya keras para petugas di lapangan akan sia-sia jika kesadaran masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar masih rendah. Penghentian pembakaran sangat krusial agar aktivitas sekolah anak-anak dan roda perekonomian dapat kembali berjalan normal tanpa terganggu ancaman asap serta risiko penyakit infeksi saluran pernapasan akut." kata Kristomei.

Menurut Kristomei penanganan karhutla tetap menjadi prioritas utama pemerintah. Sejumlah upaya telah dilakukan melalui kombinasi pemadaman darat, rekayasa cuaca, hingga operasi pemboman air dari udara.

Untuk melengkapi dan memperkuat operasi darat serta modifikasi cuaca yang sedang berjalan, Indonesia juga mendapatkan bantuan armada water bombing dari Australia. Rencananya, armada itu akan beroperasi di wilayah Kalimantan Timur selama 7 hari, mulai Jumat (6/11/2026).

Bantuan dari New South Wales Rural Fire Service tersebut mencakup dua armada udara, yakni satu unit pesawat C-130 Hercules untuk water bombing dan satu unit pesawat pemandu Cessna Citation. Kristomei menambahkan, operasi udara dari Australia tersebut didukung sejumlah personel, di antaranya para pilot, kru, dan paramedis.

Baca Juga”Water Bombing” dan Pemadaman Darat Tangani Karhutla Gunung Lawu

Sementara itu, Duta Besar Australia Roderick Bruce Brazier mengatakan, bantuan dari negaranya itu merupakan tindak lanjut asesmen teknis bersama dalam penanganan karhutla. Pesawat Large Air Tanker yang dikerahkan untuk membantu pemadaman karhutla itu, disebut Brazier, mampu menjatuhkan hingga 15.000 liter air dalam setiap sortie. Dalam sehari, pesawat itu bisa mengangkut air untuk memadamkan kahutla hingga 6 sortie.

Brazier menyebut, Indonesia dan Australia sudah lama saling membantu dalam penanggulangan bencana. Sebelumnya, Indonesia disebut pernah membantu Autralia pada tahun 1974.

"Sejarah kita yang saling membantu telah berlangsung lama. Saat Cyclone Tracy pada tahun 1974, Indonesia mengirimkan pesawat C-130 Hercules untuk membantu evakuasi warga di Darwin," ucap Brazier.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Aktivis desak Inggris tolak promosi wisata permukiman ilegal Israel
• 17 jam lalu
0
thumb
Ria Ricis Banjir Hujatan Usai Turun Tangan Bantu Padamkan Karhutla, Outfit Serba Putih Jadi Sorotan
• 6 jam lalu
0
thumb
Momen Kocak di Sidang Roy Suryo! Ditanya Hakim soal Pekerjaan, Jokowi Jawab Wiraswasta! Hakim Langsung Cek KTP
• 7 jam lalu
0
thumb
Satgas PKH Siapkan Pidana bagi Perusahaan Terafiliasi AK
• 19 jam lalu
0
thumb
Jokowi Beberkan Riwayat Pendidikannya di Sidang Roy Suryo
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.