Dicecar soal Kuliah di UGM, Jokowi: Sudah 45 Tahun yang Lalu-Kayak Ngetes Maba Aja

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dicecar penasihat hukum Roy Suryo, Abdul Gafur Sangaji, mengenai proses pendidikannya di Universitas Gadjah Mada (UGM). Jokowi beberapa kali mengaku tidak mengingat detail perkuliahannya karena peristiwa tersebut sudah berlangsung sekitar 45 tahun lalu.

Pertanyaan itu disampaikan Abdul Gafur dalam sidang kasus dugaan pencemaran nama baik terkait tudingan ijazah palsu Jokowi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (5/11).

“Ini sudah peristiwa 45 tahun yang lalu,” kata Jokowi.

Awalnya, Abdul Gafur bertanya mengenai dokumen yang dibawa Jokowi ketika pertama kali datang ke Gedung Pusat UGM. Jokowi menjawab dokumen tersebut merupakan formulir pendaftaran.

“Formulir pendaftaran,” jawab Jokowi.

Abdul Gafur kemudian menanyakan apakah Jokowi langsung membayar biaya kuliah pada hari yang sama. Jokowi menjelaskan, dirinya terlebih dahulu mengikuti ujian masuk bersama. Setelah dinyatakan diterima, ia baru melakukan pembayaran di BNI 46 yang berada di sekitar bundaran Bulaksumur.

Setelah membayar, Jokowi menyebut bukti pembayaran dilampirkan untuk proses daftar ulang di kantor pusat UGM. Saat itu, ia juga menyerahkan sejumlah persyaratan, seperti ijazah yang telah dilegalisasi, daftar nilai, surat keterangan berkelakuan baik, dan surat keterangan kesehatan.

“Kalau sudah diterima, Yang Mulia, kemudian kita datang, seingat saya kita datang ke kantor BNI 46 di bundaran Bulaksumur. Di situ membayar, kemudian dari blangko pembayaran itu kita lampirkan untuk registrasi ulang di kantor pusat dengan melampirkan ijazah yang telah dilegalisir beserta nilainya, kemudian surat kelakuan baik, kemudian surat kesehatan dan persyaratan kelengkapan lainnya,” jelas Jokowi.

Abdul Gafur selanjutnya menanyakan lokasi ujian masuk yang diikuti Jokowi, apakah berlangsung di kampus UGM atau tempat lain yang telah ditentukan.

“Ya tapi Pak Advokat, ini sudah peristiwa 45 tahun yang lalu,” jawab Jokowi.

Abdul Gafur juga mendalami proses peralihan pendidikan Jokowi dari program sarjana muda ke jenjang S1. Jokowi menjelaskan, pada masa itu mahasiswa dapat menyelesaikan program sarjana muda setelah menempuh 120 SKS.

Menurut Jokowi, mahasiswa dengan nilai di atas 2,01 dapat melanjutkan ke jenjang S1. Sementara itu, untuk menyelesaikan S1, mahasiswa harus memperoleh nilai di atas 2,5.

“Program sarjana muda itu kan otomatis, Yang Mulia. Kalau sudah 120 SKS artinya kita sudah menempuh S1 bawah atau sarjana muda. Dan kalau nilainya di atas 2,01 itu langsung bisa terus ke S1. Dan S1 itu juga ada syaratnya, harus di atas 2,5,” jelasnya.

Ketika ditanya pada semester berapa dirinya mencapai 120 SKS, Jokowi kembali mengaku tidak mengingatnya.

“Itu sudah 45 tahun yang lalu sekali lagi,” tegas Jokowi.

Abdul Gafur kemudian menanyakan apakah Jokowi memiliki daftar nilai ketika menyelesaikan program sarjana muda. Awalnya, Jokowi mengatakan seingatnya tidak ada. Namun, ia kemudian mengoreksi jawabannya dengan menyebut bahwa daftar nilai tersebut ada.

“Pertanyaan saya adalah adakah dokumen yang diberikan oleh universitas kepada saudara berupa daftar nilai program sarjana muda untuk masuk ke dalam program sarjana? Ada nggak dikasih oleh pihak universitas?,” tanya Abdul Gafur kepada Jokowi.

“Seingat saya tidak ada ya,” kata Jokowi.

“Jadi tidak ada daftar nilai program sarjana muda?,” tanya Abdul Gafur.

“Oh, kalau daftar nilai ada,” ujar Jokowi.

Saat ditanya berapa nilai yang diperolehnya, Jokowi menjawab, “Lupa.”

Dalam pemeriksaan tersebut, Abdul Gafur turut menanyakan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jokowi menyebut KKN dilaksanakan pada awal 1985, kemungkinan sekitar Februari hingga April. Ia juga menjelaskan bahwa penentuan lokasi KKN dilakukan oleh Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) UGM.

Jokowi mengatakan KKN tidak berkaitan dengan penyusunan skripsi ataupun mata kuliah favorit. Ia juga menyebut skripsinya diajukan setelah menyelesaikan KKN.

“Belum. Jadi skripsi saya ajukan setelah KKN selesai,” ujar dia.

Ketika ditanya mengenai mata kuliah yang paling mudah atau menjadi favoritnya selama kuliah, Jokowi sempat menyampaikan keberatan.

“Saya kira tidak relevan,” ujar Jokowi.

Abdul Gafur kemudian menjelaskan bahwa pertanyaan tersebut diajukan untuk mendalami proses akademik Jokowi selama menempuh pendidikan di UGM. Jokowi lantas menanggapi bahwa pertanyaan yang disampaikan sudah terlalu terperinci.

“Saya keberatan Yang Mulia karena terlalu detail dan kaya ngetes mahasiswa baru aja,” tegas Jokowi.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pria di Bogor Tersengat Listrik Saat Pasang Spanduk, Damkar Evakuasi
• 1 jam lalu
0
thumb
Menyelami Pelajaran Emosional di Balik Drama A Love Other Than Yours
• 11 jam lalu
0
thumb
DKPP Lantik 228 Pemeriksa, Siap Kawal Etik Pemilu
• 1 jam lalu
0
thumb
Fasilitas KNMP jaga kualitas tangkapan nelayan Seraya Timur-Bali
• 17 jam lalu
0
thumb
Prajurit Gugur dalam Insiden Helikopter TNI AD Jatuh saat Padamkan Karhutla Bertambah Jadi 3 Orang
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.