Mengapa Bung Tomo Disebut Pemberontak oleh Belanda? Ini Sejarahnya

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Indonesia pernah berada di bawah penjajahan Belanda dan Jepang sebelum akhirnya memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun, kemerdekaan tersebut tidak serta-merta membuat perjuangan bangsa Indonesia berakhir. Rakyat masih harus mempertahankan kedaulatan dari upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.

Salah satu tokoh yang dikenal berperan besar dalam membangkitkan semangat perlawanan rakyat adalah Sutomo atau Bung Tomo. Pahlawan asal Surabaya ini dikenang melalui pidatonya yang membakar semangat para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan.

Pada 10 November 1945, ketika Pertempuran Surabaya berlangsung, Bung Tomo menyampaikan pidato melalui Radio Pemberontakan. Seruan tersebut mengajak rakyat untuk terus berjuang dan tidak menyerah kepada pasukan Sekutu maupun Belanda.

Peran Bung Tomo dalam menggerakkan perlawanan rakyat membuat sosoknya dipandang sebagai pemberontak oleh pihak Belanda. Lantas, mengapa Bung Tomo dianggap sebagai pemberontak? Berikut latar belakang dan kiprahnya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Latar Belakang Bung Tomo
Ilustrasi Medcom.id

Bung Tomo lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920. Ia berasal dari keluarga sederhana yang mengajarkannya untuk hidup mandiri dan bekerja keras sejak kecil. Ayahnya merupakan pegawai pemerintah Hindia Belanda yang kemudian kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi.

Kondisi tersebut membuat Bung Tomo terbiasa menghadapi keterbatasan. Sejak muda, ia telah bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup, salah satunya dengan bekerja di lapangan tenis.

Saat remaja, Bung Tomo aktif dalam kegiatan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan mulai mengenal dunia jurnalistik. Ia pernah bekerja sebagai jurnalis lepas dan redaktur sebelum bergabung dengan kantor berita Domei pada masa pendudukan Jepang.

Pengalaman di bidang jurnalistik turut mengasah kemampuan komunikasinya. Melalui pekerjaan tersebut, Bung Tomo juga memiliki kesempatan untuk mengenal sejumlah tokoh nasional, termasuk Soekarno dan Mohammad Hatta.

Bung Tomo meninggal dunia pada 7 Oktober 1981 saat menunaikan ibadah haji. Sesuai dengan pesan terakhirnya, ia tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, melainkan di tempat pemakaman umum Ngagel, Surabaya.

Baca Juga :

Sosok Heroik Martha Christina Tiahahu, Mutiara Nusa Laut Penakluk Belanda
Mengapa Bung Tomo Dianggap Pemberontak oleh Belanda? Bagi pihak Belanda, khususnya Netherlands Indies Civil Administration (NICA), Bung Tomo dipandang sebagai sosok pemberontak karena perannya dalam menggerakkan perlawanan rakyat terhadap upaya Belanda menguasai kembali Indonesia.

Kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi NICA pada September 1945 menimbulkan kekhawatiran di kalangan rakyat Indonesia. Kehadiran mereka dinilai sebagai ancaman terhadap kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.

Bung Tomo kemudian aktif menyuarakan perlawanan melalui Radio Pemberontakan. Lewat siaran tersebut, ia membangkitkan semangat rakyat dan para pemuda agar tidak menyerah serta terus mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Salah satu pidatonya yang paling dikenang disampaikan menjelang dan selama Pertempuran Surabaya pada November 1945. Dengan seruan yang lantang dan penuh semangat, Bung Tomo mengajak rakyat untuk bersatu menghadapi pasukan Sekutu dan Belanda.

Selain melalui siaran radio, Bung Tomo juga berperan dalam pembentukan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI). Organisasi ini menjadi salah satu wadah untuk menghimpun kekuatan rakyat dalam menghadapi pasukan yang berupaya menguasai kembali Indonesia.

Peran tersebut membuat Bung Tomo dianggap sebagai ancaman oleh pihak Belanda. Namun, bagi rakyat Indonesia, ia dikenang sebagai tokoh yang berani mengobarkan semangat perjuangan, terutama dalam mempertahankan kemerdekaan di Surabaya.

(Reswara Vittorio)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pemkab perkuat peran pengelola RPTRA cegah stunting di Pulau Panggang
• 14 jam lalu
0
thumb
Gus Ipul: SDM Sekolah Rakyat Harus Bekerja dengan Disiplin dan Kode Etik
• 22 jam lalu
0
thumb
Kemenkes Catat 401.586 Kasus ISPA akibat Kebakaran Hutan
• 18 jam lalu
0
thumb
Faktor peringan dan pemberat vonis 5 tahun penjara Hery Susanto
• 2 jam lalu
0
thumb
Bhayangkara Lampung FC Serius Hadapi Piala Liga Indonesia, Oscar Bruzon Andalkan Pemain Inti dan Beri Kesempatan Pemain Lokal
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.