1.600 Hektar Terbakar, Bagaimana Perkembangan Karhutla di TN Wasur Merauke?

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Luas kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Taman Nasional Wasur, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, dilaporkan mencapai 1.600 hektar. Hingga saat ini, titik panas masih bermunculan. Lantas, bagaimana perkembangan karhutla di wilayah ini?

Hingga awal November 2026 ini, petugas masih terus berupaya menangani berbagai titik api di sejumlah area di Taman Nasional (TN) Wasur. Berdasarkan data Balai TN Wasur, per 4 November 2026, seluas 1.600 hektar terbakar yang tercatat selama periode karhutla 2026.

“Saat ini, petugas terus bekerja. Kebakarannya terus berkurang. Titik api permukaan hampir semua telah tertangani. Memang yang masih menjadi tantangan, kebakaran di lahan semi-gambut. Itu terbakarnya di dalam tanah sehingga butuh ekstra air dan upaya untuk mengatasinya,” kata Kepala Balai TN Wasur Acha Anis Sokoy, saat dihubungi Kamis (5/11/2026).

TN Wasur merupakan kawasan konservasi yang didominasi hamparan sabana, meliputi area 431.425 hektar di Kabupaten Merauke. Kawasan ini menjadi rumah bagi satwa-satwa endemik, seperti walabi (kanguru kecil), kura-kura leher panjang, hingga berbagai jenis burung khas.

Adapun kawasan TN Wasur terbagi dalam sistem zonasi. Ada zona inti dan zona rimba yang menjadi area perlindungan berbagai jenis satwa dan tumbuhan penting.

Ada pula zona khusus yakni wilayah permukiman untuk delapan kampung masyarakat adat. Selain itu, ada zona tradisional yakni wilayah pemanfaatan masyarakat adat, seperti kegiatan berkebun serta berburu secara tradisional.

Baca JugaKarhutla Papua Pegunungan, Warga Susah Payah Padamkan Api dengan Daun dan Ranting
Penyebab kebakaran

Sokoy mengatakan, berdasarkan pemantauan intensif, kebakaran di TN Wasur sebagian besar terjadi di wilayah yang masuk zona khusus dan zona tradisional. Sebagian besar penyebabnya masih berasal dari aktivitas manusia.

“Sebagian besar kebakaran ada di dua zona ini. Ada warga bakar lahan untuk berbagai kebutuhan, tetapi api tidak bisa dikendalikan hingga membesar dan meluas di wilayah hutan atau sabana,” ucap Sokoy.

Sokoy melanjutkan, selain itu, di kawasan TN Wasur juga terdapat Jalan Trans Papua yang membelah hutan di kawasan ini. Sebagai jalan umum, menjadikan aktivitas masyarakat juga tinggi di kawasan ini.

“Banyak kendaraan melintas. Mungkin ada yang buang puntung rokok. Mungkin juga ada memasak air untuk bikin kopi, apinya lupa dimatikan lalu membesar dan meluas. Kebanyakan mungkin karena lalai,” ujarnya.

Oleh karena itu, sabana dengan padang rumput di kawasan ini begitu rentan terbakar. Apalagi, TN Wasur yang berada di bagian selatan Merauke telah mengalami periode panjang hari tanpa hujan.

Baca JugaKarhutla di Papua yang Terlupakan

Sokoy menuturkan, dalam monitor langsung ke lapangan, pihaknya tidak menemukan satwa-satwa endemik mati karena karhutla. Apalagi, mayoritas kebakaran terjadi di luar zona inti dan zona rimba.

“Memang ada sabana yang terbakar. Namun, secara alamiah, ketika (karhutla) seperti ini walabi itu juga bermigrasi ke tempat yang lebih aman,” katanya.

Sementara itu, satwa yang terdampak kebanyakan di kawasan zona khusus dan zona tradisional, seperti babi hutan dan tikus tanah. Di sisi lain, hewan-hewan yang telah mati ini merupakan buruan dan kebutuhan masyarakat adat di sana.

Kebakaran mencekam

Dari 1.600 hektar yang terbakar, karhutla TN Wasur tersebar di banyak titik dan mayoritas berada di luar zona inti. Sementara itu, jika melihat total kawasan TN Wasur seluas 431.425 hektar, artinya persentase luas karhutla di wilayah ini sebesar 0,37 persen.

Sokoy menuturkan, berdasarkan catatan Balai TN Wasur, karhutla 2026 menjadi yang terluas dalam beberapa tahun terakhir.

”Kebakaran di kawasan ini merupakan fenomena musiman. Berdasarkan data, ini yang paling luas. Pada 2019 dan 2023 angkanya di bawah 1.000 hektar. Namun, bisa jadi juga waktu itu pencatatan tidak sedetail sekarang,” ucapnya.

Baca JugaKarhutla Papua Selatan Masih Sulit Ditangani, Warga Kian Keluhkan Kabut Asap

Menurut Sokoy, sejatinya situasi kebakaran di wilayah TN Wasur relatif mulai terkendali. Namun, memang ada beberapa faktor yang membuat karhutla di kawasan ini terlihat mencekam.

”Bisa saya sampaikan, situasinya memang kompleks tetapi tidak mencekam seperti anggapan banyak orang. Memang ada beberapa faktor yang membuat data dan situasi kebakaran terlihat masif,” katanya.

Salah satunya terkait titik kebakaran yang juga berada di tanah ulayat masyarakat adat yang masuk atau enklaf ke wilayah TN Wasur. Tercatat, ada ratusan hektar tanah ulayat di kawasan ini.

Berdasarkan data, ini yang paling luas. Pada 2019 dan 2023 angkanya di bawah 1.000 hektar. Namun, bisa jadi juga waktu itu pencatatan tidak sedetail sekarang.

Memasuki periode akhir tahun, masyarakat adat melakukan pembukaan lahan besar-besaran untuk perkebunan rakyat. Selama proses tersebut, tidak semua bagian pohon dibersihkan dengan baik. Bahkan, untuk mempercepat pembersihan, pembakaran di lokasi menjadi jalan pintas warga.

“Niat untuk perkebunan rakyat itu baik. Namun, harapannya instansi daerah juga mengedukasi dan memfasilitasi warga. Apalagi, ketika membakar (sisa pembukaan lahan) tidak semua bisa dikendalikan. Api dan asapnya bisa ke mana-mana,” ujarnya.

Baca JugaKarhutla Raja Ampat, Melanda Habitat Burung Cenderawasih hingga Bekas Konsesi Nikel

Selain itu, titik api juga muncul dari sejumlah upaya penanganan karhutla mandiri warga. Sokoy mengungkapkan, masyarakat adat di wilayah Merauke memang memiliki pengetahuan lokal mencegah karhutla.

“Masyarakat di sini punya kearifan lokal yakni sekat bakar. Ini dibakar di dekat rawa untuk memutus api agar tidak masuk ke wilayah permukiman mereka,” kata Sokoy.

Sokoy mengungkapkan, pihaknya tidak menghitung pembukaan lahan dan upaya sekat bakar sebagai lahan terbakar.

Tantangan pengendalian

Sokoy melanjutkan, selama proses penanganan karhutla ini memang pihaknya menghadapi tantangan kompleks. Apalagi, banyak titik api muncul di lokasi yang jauh dan minim air.

Wilayah selatan Merauke telah berbulan-bulan tidak turun hujan. Rawa dan kali di sekitar TN Wasur juga ikut mengering.

“Peralatan pemadaman dan kendaraan kami hanya seadanya sehingga butuh waktu lama untuk menjangkau titik api. Terkadang, kami tiba di lokasi api sudah melahap semuanya, jadi kami mendinginkan saja,” ujarnya.

Baca JugaKarhutla Melanda Dataran Tinggi Papua di Tembagapura

Hal ini turut disuarakan oleh Sokoy saat rapat koordinasi dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kristomei Sianturi ke Merauke, akhir Oktober 2026. Oleh karena itu, Sokoy berharap, ada jenis bantuan dan atau peralatan pemadaman lain bisa disalurkan. Apalagi, kebakaran di lahan semi-gambut saat ini masih sulit ditangani.

Di tengah berbagai tantangan, Sokoy bersama para petugas akan tetap berusaha semaksimal mungkin. Di sisi lain, ia tetap berupaya mengutamakan keselamatan para petugas.

“Syukur, hingga saat ini petugas kami masih diberi keselamatan di tengah berbagai tantangan di lapangan. Ini yang terus kami jaga, dengan memperhatikan anggota bertugas di lapangan waktunya tidak kelebihan,” ujarnya.

Baca Juga217 Hektar Karhutla di Papua Selatan Belum Padam, OMC Dimaksimalkan
Masih terbakar

Sementara itu, berdasarkan data BNPB, per 4 November 2026, tercatat karhutla yang belum padam di Papua Selatan mencapai 527 hektar, turun dari hari sebelumnya sebesar 653 hektar. Sekitar 90 persen kebakaran berada di wilayah Kabupaten Merauke.

Jika dilihat, angka harian luasan karhutla aktif di Papua Selatan naik-turun dalam beberapa waktu terakhir. Pada 31 Oktober 2026, karhutla yang belum padam sempat tersisa 217 hektar. Angka ini menurun lebih dari separuhnya dibandingkan sehari sebelumnya, yakni 549 hektar.

Adapun operasi modifikasi cuaca (OMC) telah dilakukan sejak 22 Oktober 2026 yang terus diperpanjang hingga 5 November 2026. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, upaya ini masih akan terus diperpanjang,

Sementara itu, berdasarkan pantauan Stasiun Meteorologi Kelas II Mopah Merauke, hujan telah mengguyur sebagian Papua Selatan pascapelaksanaan OMC. Berdasarkan perkiraan, awal musim hujan akan datang antara dasarian III November hingga dasarian I Desember 2026.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
LPPOM Gelar Halal Connect 2026, Gandeng 100 Pelaku Usaha dan Fasilitasi Sertifikasi Halal bagi 1.050 UMKM
• 22 jam lalu
0
thumb
Jenazah Ibu dan Anak Korban Mutilasi Madiun Diserahkan, Tangis Keluarga Pecah!
• 17 jam lalu
0
thumb
Kesaksian Jokowi di Sidang Roy Suryo: Merasa Dihina dan Direndahkan, Sebut 34 Juta Orang Percaya Ijazah Palsu
• 8 jam lalu
0
thumb
Bahasa Inggris Wajib Mulai Kelas 3 SD, Mendikdasmen Minta Guru Tak Fokus pada Grammar
• 2 jam lalu
0
thumb
Danantara Garap Peternakan Ayam Canggih, Punya Standar Baru
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.