Sebuah foto memperlihatkan Johanna Maria Pattinaja Seda atau Jo Seda tersenyum sambil memegang pelantang. Mengenakan kebaya dan kain tenun hitam bermotif bunga, Jo berdiri di hadapan suaminya, Frans Seda, yang duduk menatapnya. Keduanya tengah merayakan ulang tahun ke-60 Jo di Bentara Budaya, Jakarta, 16 Mei 1997.
Foto itu menyimpan kehangatan hubungan keduanya. Dengan pencahayaan yang menonjolkan sisi artistik, foto tersebut menjadi salah satu materi dalam pameran 100 Tahun Frans Seda bertajuk ”Untuk Tuhan dan Tanah Air” di Bentara Budaya Art Gallery, Menara Kompas, Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Foto-foto, arsip Kompas, dan lembaran tenun Flores yang dipamerkan merekam perjalanan hidup serta kiprah Frans Seda. Namun, kehadiran koleksi tenun menghadirkan dimensi yang lebih personal. Melalui kain-kain tersebut, pengunjung diajak mengenal sosok Jo Seda dan pengabdiannya dalam merawat warisan kebudayaan Indonesia.
Jika Frans Seda dikenal melalui kiprahnya di bidang ekonomi dan politik, Jo memiliki jalan pengabdian yang berbeda. Ia mendedikasikan hidupnya untuk mengumpulkan, merawat, dan melestarikan kain tenun, terutama dari wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Koleksi tenun dalam pameran itu bukan sekadar pelengkap visual. Kain-kain tersebut menjadi pengingat akan akar budaya yang dekat dengan kehidupan Frans Seda sekaligus pintu untuk memahami kontribusi Jo yang selama ini mungkin belum banyak mendapat sorotan.
Ribuan kain tenun yang sebagian besar berasal dari NTT tersimpan di lantai dua rumah warisan keluarga di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Koleksi yang dikumpulkan Jo Seda selama puluhan tahun itu menjadi bukti ketekunannya merawat warisan tekstil dari berbagai pelosok Nusantara.
Banyaknya koleksi tersebut bahkan membuat kurator tenun pameran, Sri Sintasari Iskandar, dan timnya kewalahan menentukan kain yang akan ditampilkan. Waktu persiapan yang hanya sekitar sebulan membuat proses kurasi menjadi tantangan tersendiri.
”Apalagi waktu kami untuk mempersiapkan pameran ini cuma sebulan,” ujar Sri.
Di balik banyaknya kain yang terkumpul, terdapat cita-cita Jo agar tenun Nusantara, terutama yang memiliki motif unik dan langka, tetap berada di Indonesia. Ia tidak segan mengeluarkan uang dari tabungannya sendiri untuk membeli kain, termasuk yang sudah robek atau rusak.
Anak-anaknya pernah mempertanyakan alasan Jo mengeluarkan begitu banyak uang untuk membeli selembar kain yang kondisinya bahkan sudah tidak utuh. Jawaban Jo sederhana: ia ingin kain-kain tersebut tetap tinggal di Indonesia.
Berdasarkan buku Profil Anugerah Budaya 2017, pengumpulan kain tenun Nusantara dimulai Jo setelah menikah dengan Frans Seda pada 1961. Kesempatan untuk mengenal beragam kain semakin terbuka ketika Frans diangkat Presiden Sukarno sebagai Menteri Perkebunan pada 1964-1966. Dalam berbagai kunjungan kerja suaminya ke daerah, termasuk NTT, Jo berkesempatan mengenal lebih dekat tradisi tenun setempat.
Keberlanjutan tradisi tidak cukup dijaga dengan menyimpan kain, tetapi juga harus memastikan pengetahuan dan keterampilan para penenun tetap diwariskan.
Kain-kain yang semula dikumpulkan untuk koleksi pribadi itu lama-kelamaan bertambah banyak. Ketertarikannya kemudian mendorong Jo mempelajari seluk-beluk tenun secara otodidak. Ia menghabiskan waktu berhari-hari untuk menyusun dan mengatalogisasi koleksinya secara mandiri.
Jo juga membangun hubungan dengan para perajin. Ia berupaya menghidupkan kembali motif-motif lama agar tidak hilang ditelan zaman. Untuk memperdalam pengetahuannya, ia mewawancarai para penenun dan mencatat informasi yang mereka sampaikan mengenai asal-usul, motif, serta proses pembuatan kain.
Dengan demikian, kegiatan Jo tidak berhenti pada mengoleksi kain. Ia juga berupaya mendokumentasikan pengetahuan yang hidup di balik setiap helai tenun. Baginya, keberlanjutan tradisi tidak cukup dijaga dengan menyimpan kain, tetapi juga harus memastikan pengetahuan dan keterampilan para penenun tetap diwariskan.
Kepedulian Jo terhadap tenun juga membawanya memperhatikan kehidupan para perajin. Ia memahami bahwa sehelai kain yang indah lahir dari ketekunan dan kerja panjang para penenun di kampung halaman. Oleh karena itu, pelestarian tenun tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan hidup mereka.
Salah satu bentuk kepedulian tersebut diwujudkan melalui penggalangan dana untuk beasiswa bagi anak-anak penenun di 28 sekolah tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Kabupaten Sikka, Flores.
”Beliau memberikan beasiswa kepada anak-anak penenun di 28 sekolah di Sikka, Flores,” ujar Sri.
Pemberian beasiswa itu memperlihatkan bahwa perhatian Jo tidak hanya tertuju pada kain sebagai benda budaya, tetapi juga pada manusia yang menjaga keberlangsungan tradisi tersebut. Pendidikan menjadi salah satu jalan untuk membantu keluarga penenun sekaligus membuka kesempatan bagi generasi berikutnya.
Upaya itu juga memperlihatkan dimensi lain dari pelestarian kebudayaan. Menjaga tenun bukan semata-mata menyelamatkan motif dan teknik pengerjaan dari kepunahan. Ada kehidupan para perajin dan keluarga mereka yang turut menentukan apakah tradisi tersebut dapat terus bertahan.
Pameran 100 tahun Frans Seda juga membuka ruang untuk melihat sejarah dari sudut pandang yang lebih luas. Kiprah tokoh nasional kerap dikenang melalui jabatan, kebijakan, dan peran mereka di ruang publik. Padahal, perjalanan seorang tokoh juga tidak terlepas dari lingkungan keluarga, nilai, dan orang-orang yang turut membentuk kehidupannya.
Dalam konteks itu, koleksi tenun Jo Seda menghadirkan cerita yang tidak kalah penting. Di tengah perjalanan Frans Seda dalam kehidupan politik dan ekonomi nasional, Jo menjalankan pengabdian melalui pelestarian kebudayaan dan kepedulian terhadap masyarakat perajin.
Kontribusi itu menunjukkan bahwa pengabdian perempuan tidak selalu hadir melalui jabatan formal atau panggung kekuasaan. Ada juga kerja panjang yang berlangsung melalui ketekunan mengumpulkan pengetahuan, merawat warisan budaya, dan membantu masyarakat yang mempertahankannya.
Melalui koleksi tenun yang dipamerkan, pengunjung tidak hanya diajak mengenang Frans Seda, tetapi juga mengenal Jo Seda sebagai sosok dengan jalan pengabdian sendiri.
Dari kain-kain yang dikumpulkannya, tersimpan kisah tentang kecintaan terhadap kebudayaan dan kepedulian terhadap kehidupan para penenun. Warisan yang ia rawat bukan hanya lembaran kain, melainkan juga pengetahuan dan harapan agar tradisi itu tetap hidup.






Komentar (0)