JAKARTA – Indonesia mengalami 2.295 kejadian bencana sepanjang 1 Januari hingga 4 November 2026. Bencana tersebut menyebabkan 427 orang meninggal dunia, 21 orang hilang, dan lebih dari 6 juta orang terdampak.
Anggota DPR RI Komisi VIII Fraksi PDI Perjuangan Ina Ammania meminta pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meningkatkan upaya mitigasi serta kesiapsiagaan masyarakat. Menurut dia, langkah pencegahan dan persiapan harus dilakukan sebelum bencana terjadi, bukan hanya saat penanganan darurat.
Baca Juga
BPBD Kota Cimahi Kekurangan Personel Jelang Hadapi Potensi Bencana Hidrometrologi di Musim Penghujan
KPK Dalami Proyek Istri Adik Mantan Kepala BNPB Terkait Dana Kebencanaan
Unjuk Rasa di DPRD DIY, Mahasiswa Dorong Karhutla Jadi Bencana Nasional
“Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Jangan menunggu korban berjatuhan untuk memperkuat mitigasi. Lebih baik bersiap sebelum bencana daripada menyesal setelah semuanya terjadi,” kata Ina melalui keterangannya, Rabu (4/11/2026).
Ina mengatakan, masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana perlu mendapatkan edukasi kebencanaan secara berkelanjutan. Edukasi tersebut mencakup penyiapan jalur evakuasi yang aman, sistem peringatan dini, serta pendampingan dari pemerintah.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dia juga mengingatkan masyarakat untuk mengenali ancaman di lingkungan masing-masing, termasuk banjir, cuaca ekstrem, dan kekeringan. Perubahan kondisi lingkungan perlu diperhatikan sebagai langkah antisipasi.
Perlindungan kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, ibu hamil, dan warga yang membutuhkan bantuan untuk menyelamatkan diri, juga perlu masuk dalam perencanaan evakuasi. Ina menilai kelompok tersebut harus mendapat perhatian agar tidak terabaikan saat keadaan darurat.
Menurut Ina, kesiapsiagaan bencana bukan hanya tanggung jawab BPBD dan pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat hingga tingkat desa dan keluarga. Pemerintah daerah juga perlu mendampingi warga sejak tahap pencegahan, persiapan, pemulihan, hingga pembangunan kembali kehidupan setelah bencana.
“Kenali ancaman di desa kita, siapkan jalur evakuasi dan peringatan dini, serta pastikan titik rawan ditindaklanjuti,” kata Ina.
Berdasarkan data BNPB per 4 November 2026, bencana hidrometeorologi mendominasi kejadian bencana dengan porsi 99,21 persen. Sementara itu, bencana geologi tercatat sebesar 0,79 persen. Bencana hidrometeorologi meliputi banjir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), cuaca ekstrem, kekeringan, tanah longsor, serta gelombang pasang dan abrasi.
Karhutla menjadi bencana dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 1.063 kejadian. Banjir menyusul dengan 611 kejadian dan cuaca ekstrem sebanyak 351 kejadian. Adapun kekeringan tercatat 125 kejadian dan tanah longsor 113 kejadian.
Untuk bencana geologi, BNPB mencatat 14 kejadian gempa bumi dan empat kejadian erupsi gunung api. Secara keseluruhan, bencana sepanjang tahun ini juga menyebabkan 3.260 orang luka-luka dan 6.005.617 orang menderita serta mengungsi.
Dari sisi kerusakan, sebanyak 32.405 rumah mengalami rusak berat, 38.263 rumah rusak sedang, dan 86.987 rumah rusak ringan. Bencana juga merusak 2.391 satuan pendidikan, 926 rumah ibadat, 245 fasilitas pelayanan kesehatan, 773 kantor, serta 118 jembatan.
Komentar (0)