Begini Ramalan Industri Makanan-Minuman RI di 2026, Masih Bisa Tumbuh?

cnbcindonesia.com
19 jam lalu
Cover Berita
Foto: Kondisi peritel modern tampak lengang masih berjalan normal dan tidak ada fenomena panic buying. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri makanan dan minuman (mamin) nasional diperkirakan masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif hingga akhir 2026. Meski menghadapi berbagai tantangan, sektor ini diproyeksikan tetap tumbuh di kisaran 6%-6,5%.

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengatakan, prospek industri mamin masih cukup menjanjikan hingga penghujung tahun ini. Optimisme tersebut ditopang oleh kinerja industri yang masih terjaga sepanjang paruh pertama 2026.

Baca: Bos Pengusaha Pede Industri Ini Tahan Banting, Tapi Was-Was Efek Cukai

"Saya kira kalau pertumbuhan, saya masih optimistis ya, masih bagus. Sekitar 6%, 6,5% gitulah. Masih bisa tumbuh," ujar Adhi kepada CNBC Indonesia usai Krista Food Expo 2026 di PIK 2026, Rabu (4/11/2026).


Sepanjang semester I-2026, industri mamin mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,51%. Angka tersebut menjadi salah satu penopang aktivitas manufaktur nasional di tengah berbagai tekanan ekonomi global yang masih berlangsung.

Industri ini juga memiliki peran besar dalam perekonomian nasional, baik melalui kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB), penyerapan tenaga kerja, maupun realisasi investasi.

"Industri makanan dan minuman saat ini terus tumbuh dan menjadi salah satu industri yang resilience di tengah berbagai gejolak dunia. Semester I-2026 kita tumbuh 6,51%, jauh di atas pertumbuhan ekonomi Indonesia dan juga berkontribusi besar terhadap PDB kita," kata Adhi.

Meski demikian, pelaku industri masih menghadapi sejumlah tantangan kebijakan yang berpotensi memengaruhi kinerja usaha. Salah satu yang menjadi perhatian adalah rencana penerapan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK).

Penerapan kebijakan tersebut menjadi perhatian karena industri perlu memperhitungkan dampaknya terhadap harga produk dan daya beli konsumen. Terlebih, produk minuman dalam kemasan merupakan salah satu bagian dari rantai bisnis industri makanan dan minuman.

Baca: Bos Pengusaha Wanti-Wanti Efek Cukai MBDK: Semua Rugi

Saat ditanya mengenai potensi dampak kebijakan tersebut terhadap pertumbuhan industri, Adhi mengaku masih menunggu perkembangan pembahasan lebih lanjut.

"Kita sedang diskusikan, mudah-mudahan nggak turun (kalau diterapkan)," ungkap Adhi.


(fys/wur)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal 3 China Lebih Cepat dari Perkiraan

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
7 Gaya Hidup Minimalis ala Orang Jepang yang Baik Ditiru
• 21 jam lalu
0
thumb
Bawa Bukti Nyata ke Ruang Sidang: Jokowi Akan Tunjukkan Ijazah Aslinya Kepada Seluruh Rakyat Indonesia
• 3 jam lalu
0
thumb
Peternak Ayam di Parigi Moutong Dilatih Tingkatkan Produksi Telur
• 5 jam lalu
0
thumb
BNPB Catat 864 Titik Api Karhutla di 10 Provinsi, 1.615 Hektare Lahan Ditangani
• 16 jam lalu
0
thumb
Pelindo Perkuat Transparansi dan Kemudahan Transaksi Kepelabuhanan melalui Dashboard ACS
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.