Dolar AS Menguat Jelang Rilis Data Ekonomi dan Pemilihan Paruh Waktu

metrotvnews.com
13 jam lalu
Cover Berita

New York: Dolar AS mencatatkan kenaikan pada Selasa, 3 November 2026, seiring dengan berbaliknya tren peralihan ke aset aman (safe-haven) di tengah pulihnya sentimen risiko di Wall Street.

Para pelaku pasar mata uang juga merespons data ekonomi yang kuat menjelang laporan ketenagakerjaan yang sangat dinantikan akhir pekan ini, sembari bersiap menghadapi pemilihan paruh waktu AS.

Sementara itu, yen melemah dan dolar Australia merosot ke level terendah dalam hampir tiga minggu, menyusul keputusan kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia (RBA) yang diwarnai perbedaan pandangan di internal bank sentral tersebut.

Dikutip dari Investing, Rabu, 4 November 2026, indeks Dolar AS, yang mengukur kinerja mata uang AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, naik 0,1 persen menjadi 101,87. Dolar AS kembali diminati Sebelumnya, dolar AS sempat berada di bawah tekanan dalam beberapa sesi terakhir. Penurunan pada sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Wall Street memicu investor untuk menarik dana dari pasar saham, dolar AS, dan emas, lalu mengalihkannya ke aset-aset aman seperti obligasi pemerintah AS (Treasury) dan yen Jepang.

Namun, mata uang utama dunia ini kembali mendapatkan momentum pada Selasa seiring dengan bangkitnya sektor AI dan menguatnya sentimen risiko di pasar.

Bagi para pengamat kebijakan moneter, kalender ekonomi menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja AS yang sehat serta pertumbuhan sektor manufaktur yang tangguh. Berdasarkan data Job Openings and Labor Turnover Summary (JOLTS) terbaru, jumlah lowongan pekerjaan pada bulan September tercatat sebanyak 7,523 juta, angka tertinggi sejak Mei.

Data tersebut mengindikasikan kekuatan pasar tenaga kerja menjelang laporan nonfarm payrolls (data ketenagakerjaan di luar sektor pertanian) yang sangat penting pada Jumat.

Baca Juga :

Wall Street Bangkit, S&P 500 dan Nasdaq Naik Ditopang Sektor AI

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Secara terpisah, Biro Sensus AS melaporkan bahwa pesanan baru untuk barang manufaktur pada bulan September, yang telah meningkat selama tiga bulan berturut-turut, naik 1,8 persen menjadi USD677,2 miliar. Angka ini melampaui konsensus perkiraan yang memprediksi kenaikan sebesar 1,2 persen.

Selain itu, perhatian pada hari Selasa juga tertuju pada pemilihan paruh waktu (midterm elections) AS, di mana jutaan pemilih akan memberikan penilaian terhadap dua tahun pertama masa jabatan Presiden Donald Trump.

Dengan 435 kursi di DPR dan 35 kursi di Senat yang diperebutkan, berbagai prakiraan nonpartisan serta pasar prediksi terus mengunggulkan Partai Demokrat untuk kembali menguasai DPR, sementara persaingan di Senat tetap berlangsung sangat ketat.

Kemenangan telak Partai Demokrat atau pemerintahan yang terpecah (divided government) dapat memicu kebuntuan legislatif, yang akan meredam ekspektasi akan stimulus fiskal tambahan, sekaligus membuka jalan bagi perdebatan panjang mengenai batas pengeluaran federal dan plafon utang pada 2027.

Sebaliknya, jika Partai Republik secara tak terduga tetap memegang kendali di Kongres, maka kebijakan seperti penerapan tarif perdagangan yang agresif dan mempertahankan tarif pajak korporasi kemungkinan besar akan terus berlanjut. RBA umumkan kenaikan suku bunga Beralih ke mata uang utama lainnya, dolar Australia turun 0,4 persen menjadi USD0,6970, level terendah sejak 16 Oktober, meskipun Reserve Bank of Australia (RBA) telah menaikkan suku bunga.

RBA menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level tertinggi dalam 18 tahun terakhir, yakni 4,85 persen. Namun, para pelaku pasar valuta asing menafsirkan pernyataan kebijakan yang menyertainya sebagai sinyal bahwa siklus pengetatan moneter telah mencapai titik puncaknya.

Keputusan tersebut menunjukkan perbedaan pendapat di antara anggota dewan dengan perolehan suara 6 banding 3; tiga anggota memilih untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini, sebuah hasil yang menunjukkan perpecahan lebih besar daripada yang diperkirakan oleh pasar.

Selain itu, RBA mengubah deskripsi mengenai kebijakan moneternya, dengan menyebut kondisi keuangan domestik sebagai restriktif. Hal ini membuat para analis menyimpulkan bahwa ambang batas untuk pengetatan lebih lanjut kini menjadi sangat tinggi.

Di Asia, yen Jepang melemah ke level 158,70 per dolar di tengah volume perdagangan yang tipis, seiring dengan ditutupnya pasar keuangan Tokyo untuk merayakan hari libur nasional, Hari Budaya (Culture Day).


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
KP2MI-Barantin Teken MoU, Perkuat Pelindungan Pekerja Migran di Bandara dan Pelabuhan
• 4 jam lalu
0
thumb
Mengenal LIMS dan Pegasus, Teknologi Penyadapan dengan Cara Kerja Berbeda
• 10 jam lalu
0
thumb
Listyo Cs Sadap Prabowo, Menko Yusril: Terdapat Indikasi Makar!
• 3 jam lalu
0
thumb
Foto: Yabusame, Tradisi Panahan Berkuda yang Bertahan Berabad-abad di Jepang
• 10 jam lalu
0
thumb
Gus Ipul Sambut Dukungan IJTI Usulkan Udin Bernas sebagai Pahlawan Nasional
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.