Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersikeras tetap memimpin pemerintahan berikutnya meski hasil pemilu 27 Oktober 2026 membuat koalisinya gagal memperoleh mayoritas di parlemen. Di tengah kebuntuan tersebut, Netanyahu menyatakan terbuka untuk berdialog mengenai pembentukan pemerintahan yang lebih luas.
Hasil resmi pemilu menunjukkan Partai Likud pimpinan Netanyahu menjadi peraih kursi terbanyak dengan 27 kursi Knesset. Sementara itu, Partai Yashar yang dipimpin mantan kepala militer Gadi Eisenkot menempati posisi kedua dengan 21 kursi.
Namun, perolehan tersebut belum cukup untuk mengamankan kendali parlemen. Koalisi Netanyahu hanya mengantongi 53 dari total 120 kursi, sedangkan kubu oposisi memperoleh 48 kursi. Keduanya belum mencapai ambang mayoritas 61 kursi untuk membentuk pemerintahan.
Netanyahu menyatakan Likud ingin membangun pemerintahan luas bersama mitra politiknya dan pihak lain yang bersedia bergabung, selama tidak mendukung terorisme. Pernyataan itu disampaikan melalui media sosial X, seperti dilansir Anadolu Agency, Selasa (3/11/2026).
"Saya terbuka untuk mengadakan dialog mengenai masalah ini," kata Netanyahu.
Meski membuka peluang negosiasi, Netanyahu menolak kemungkinan pemerintahan yang bergantung pada dukungan dua partai Arab Israel, yakni Ra'am dan Joint List. Kedua partai tersebut secara keseluruhan memperoleh 19 kursi parlemen.
"Sejak hari pertama, kami telah mengulurkan tangan untuk membentuk pemerintahan nasional yang luas," ujar Netanyahu.
Ia juga mengklaim hasil pemilu menunjukkan masyarakat Yahudi memberikan dukungan kepada Likud dan dirinya untuk kembali memimpin Israel.
"Mayoritas jelas dari masyarakat Yahudi memilih Likud sebagai partai terbesar dan memilih saya, sebagai Perdana Menteri, untuk memimpin pemerintahan selanjutnya," tegasnya.
Di sisi lain, kubu oposisi mulai menggalang dukungan untuk mendorong Gadi Eisenkot menjadi calon pemimpin pemerintahan berikutnya. Tiga partai, yakni Together pimpinan mantan PM Naftali Bennett, Partai Demokrat pimpinan Yair Golan, dan Yisrael Beytenu pimpinan Avigdor Lieberman, telah memutuskan merekomendasikan Eisenkot kepada Presiden Isaac Herzog.
Dua partai Arab Israel juga diperkirakan akan memberikan rekomendasi kepada Eisenkot. Jika dukungan tersebut terkumpul, jumlah rekomendasi yang diterimanya berpotensi mencapai 67 kursi, melampaui ambang mayoritas 61 kursi.
Baca Juga: Terbongkar! Netanyahu Ngotot ke Trump Minta AS Hancurkan Iran Sekali Lagi
Herzog dijadwalkan menggelar konsultasi selama dua hari mulai Rabu (4/11/2026) dengan perwakilan partai-partai yang memperoleh kursi parlemen. Setelah itu, dia akan menunjuk seorang anggota parlemen untuk mendapat mandat membentuk pemerintahan baru.
Presiden Israel tidak wajib memberikan mandat kepada pemimpin partai dengan kursi terbanyak. Penunjukan dapat diberikan kepada anggota parlemen yang dinilai mampu membentuk pemerintahan dan memperoleh kepercayaan Knesset. Kandidat yang ditunjuk memiliki waktu 28 hari, dengan kemungkinan perpanjangan hingga 14 hari. Meski demikian, dukungan rekomendasi belum menjamin terbentuknya koalisi karena Lieberman menolak bergabung dengan pemerintahan yang melibatkan partai-partai Arab Israel.






Komentar (0)