Pemilu Sela AS: Agenda Ekonomi Trump Hadapi Ujian jika Demokrat Rebut DPR

kompas.tv
8 jam lalu
Cover Berita
Presiden Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan sidang gabungan Kongres di ruang sidang DPR di Gedung Capitol AS di Washington, Selasa, 24 Februari 2026, sementara Wakil Presiden JD Vance dan Ketua DPR Mike Johnson dari Louisiana mendengarkan. (Sumber: Foto AP/Mark Schiefelbein)

WASHINGTON, KOMPAS.TV - Agenda ekonomi Presiden Donald Trump berpotensi menghadapi perlawanan lebih kuat jika Demokrat merebut DPR AS atau House of Representatives dalam pemilu sela AS. 

Pembahasan undang-undang dan anggaran akan membutuhkan kesepakatan dengan oposisi, yang menjadikan penurunan biaya hidup serta pengawasan pemerintah sebagai prioritas.

Melansir Associated Press (AP), hasil pemilu pada Rabu (4/11/2026) WIB akan menentukan arah dua tahun terakhir periode kedua Trump. Selama ini, Kongres yang dikuasai Republik banyak memberikan persetujuan tanpa perlawanan berarti terhadap agendanya.

Demokrat membutuhkan tambahan bersih tiga kursi untuk merebut mayoritas di House yang beranggotakan 435 orang. Kemenangan tersebut akan memberi mereka posisi lebih kuat untuk menantang kebijakan Gedung Putih.

Baca Juga: Pemilu Sela AS: Hanya 25 Persen Warga Setujui Penanganan Ekonomi Trump

Pemimpin Demokrat di House, Hakeem Jeffries, telah menguraikan agenda 100 hari yang berfokus pada penurunan biaya hidup dan pengawasan ketat terhadap pemerintahan Trump jika partainya mengambil alih kendali.

Kendali Demokrat atas House akan membuat Trump harus menghadapi oposisi dalam pembahasan kebijakan yang membutuhkan persetujuan lembaga tersebut, termasuk undang-undang dan anggaran.

Dalam skenario itu, dukungan Republik di Senat saja tidak cukup untuk memastikan rancangan undang-undang dapat disahkan. House dan Senat harus menyetujui teks yang sama sebelum rancangan diajukan kepada presiden.

Perbedaan prioritas antara Gedung Putih dan mayoritas baru di House berpotensi memperpanjang negosiasi mengenai alokasi belanja maupun kebijakan penerimaan negara.

Baca Juga: AS Tambah 9.000 Pasukan Timur Tengah, Trump AS: Perang AS-Iran Berakhir Usai Pemilu Sela | SAPA PAGI

Namun, kemenangan Demokrat di House tidak otomatis membatalkan kebijakan ekonomi yang sudah berlaku. Perubahan melalui undang-undang tetap memerlukan proses legislasi dan keterlibatan Senat serta presiden.

Dorongan Demokrat untuk mengubah arah kebijakan bertumpu pada kekecewaan pemilih terhadap mahalnya kebutuhan sehari-hari.

Survei terbaru Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research yang dikutip AP menunjukkan hanya 25 persen orang dewasa AS menyetujui cara Trump menangani perekonomian.

Sementara itu, persetujuan terhadap kinerjanya sebagai presiden secara keseluruhan mencapai 35 persen. Sekitar tujuh dari 10 orang dewasa AS menilai negara mereka bergerak ke arah yang salah.

Baca Juga: [FULL] BREAKING NEWS! Jenderal Polisi Listyo Sigit Jadi Tersangka Kasus Penyadapan Presiden Prabowo

“Rakyat Amerika marah. Mereka menginginkan perubahan,” kata anggota House Suzan DelBene, Ketua Komite Kampanye Kongres Demokrat. 

Keluhan terkait biaya hidup salah satunya datang dari James Moore, pustakawan berusia 57 tahun di Raleigh, North Carolina.

Ia mengatakan memilih Demokrat untuk menentang undang-undang Trump yang memuat pemotongan pajak besar-besaran dan pengurangan belanja pemerintah.

“Saya membayar pajak lebih besar. Saya membayar lebih mahal untuk layanan kesehatan. Saya membayar lebih mahal untuk semuanya,” tutur Moore.

Baca Juga: Ledakan Beruntun! AS Serang Pulau Qeshm di Iran dekat Selat Hormuz | SAPA MALAM

“Kita membutuhkan lebih banyak wakil di Kongres yang berani melawan Trump,” ucapnya. 

Selain memengaruhi pembahasan kebijakan ekonomi, kemenangan Demokrat di House akan membuka jalan bagi penyelidikan lebih luas terhadap pemerintahan Trump.

Penguasaan setidaknya satu kamar Kongres dapat memicu gelombang penyelidikan dan kemungkinan proses pemakzulan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth serta mantan penasihat utama Trump, Elon Musk, termasuk tokoh yang berpotensi menjadi sasaran pengawasan.

Adapun hasil pemilihan Senat akan ikut menentukan ruang gerak pemerintahan. Jika Republik mempertahankan mayoritas, Senat dapat menjadi benteng bagi prioritas Trump. 

Baca Juga: Trump Sebut AS Bisa Serang Fasilitas Nuklir Iran dalam 10 Menit

Sebaliknya, Demokrat dapat menggunakan kendali Senat untuk menghalangi calon pejabat yang diajukan presiden.

Trump sendiri tetap optimistis terhadap peluang partainya, meski menghadapi ketidakpuasan pemilih mengenai biaya hidup.

“Saya kira hasilnya akan lebih baik daripada yang Anda bayangkan,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News Channel pada Selasa, sebagaimana dilaporkan AP.

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti

Sumber : AP

Tag
  • pemilu sela as
  • pemilu amerika serikat
  • donald trump
  • dpr as
  • house of representatives
  • kongres as
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
TNI AD soal Penebalan Pasukan di Jakarta: Kami Harus Selalu Siap
• 2 jam lalu
0
thumb
Listyo Sigit Dicopot, Letjen Ariyo Windutomo Jadi Plt KSP
• 3 jam lalu
0
thumb
Istana Minta Masyarakat Tak Khawatir soal Penyadapan: Diatur dalam UU
• 42 menit lalu
0
thumb
Wamendagri Ribka Haluk Dorong Pembangunan yang Inklusif dan Berkelanjutan di Tanah Papua
• 21 jam lalu
0
thumb
Catat Sejarah, Abdul El-Sayed Jadi Muslim Pertama yang Duduk di Senat AS
• 42 menit lalu
0
Berhasil disimpan.