Ketidakstabilan Kondisi Global Pukul Kinerja MICE

kompas.id
58 menit lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Kegiatan pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran atau MICE terpukul karena ketidakstabilan geopolitik dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

Adapun, pemangkasan anggaran pemerintah juga memukul keras industri ini, tetapi para pengusaha mulai beradaptasi seiring buka-tutup keran anggaran pemerintah terhadap perjalanan dinas aparatur sipil negara.

Kinerja pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran atau MICE pada 2026 diprediksi lebih baik ketimbang 2025. Pemangkasan anggaran pemerintah menjadi faktor yang memukul performa sepanjang 2025, tetapi kini, kondisinya perlahan membaik.

Baca JugaDampak Efisiensi Anggaran, Industri MICE Pangkas Pekerja hingga 70 Persen

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Hosea Andreas Runkat mengatakan, penghambat kinerja pada 2026 justru terutama disebabkan ketidakstabilan geopolitik, sehingga perekonomian makin lesu.

Perang Timur Tengah yang pecah sejak akhir Februari 2026 berdampak pada kenaikan harga minyak dunia, ditambah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang melemah. Hampir seluruh aspek barang dan jasa mengalami kenaikan harga.

“Belanja korporasi, event memang agak berkurang atau mengecil karena korporasi-korporasi sekarang lagi sulit dengan kondisinya. Pihak swasta itu benar-benar melihat, pemasukan enggak bagus, masa mau spending?” tuturnya saat dihubungi di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Berkaca dari 2025, saat itu pemangkasan anggaran begitu ketat, khususnya penyelenggaraan MICE. Acara-acara tidak dihelat, seluruh pelaku industri berteriak. Relaksasi baru dirasakan sejak Agustus saat Kementerian Keuangan masih dipimpin Sri Mulyani.

Tahun 2026 diprediksi kinerja MICE tetap akan lebih baik dibandingkan 2025. Namun, kondisi politik yang tidak stabil, dampaknya tetap tak terelakkan.

Ketika ditanya soal perbandingan kinerja secara statistik, Andreas melanjutkan, secara bisnis geliatnya hanya 50 persen dari kondisi normal. Sebab, selama semester I-2025, pemerintah menahan belanja MICE. Pada 2026, ada kenaikan kinerja sekitar 30 persen dibanding tahun lalu.

“Tetapi (kinerja) enggak bisa 100 persen karena kondisi enggak bagus juga. Kenaikan 30 persen ini tetap terimbas dari pengurangan kondisi geopolitik. Jika kondisi geopolitik stabil, maka kenaikan bisa sampai sekitar 40 persen,” ujar Andreas.

Baca JugaKonser dan Pameran Terimbas Perang, Bintang Tamu Absen hingga Acara Dijadwal Ulang

Dalam kondisi sehat, idealnya kinerja bisa mencapai 90 persen. Angka ini selalu menjadi patokan yang terjadi saat sebelum Covid-19 mewabah, khususnya sekitar 2018-2019.

Para pengusaha kini menyiasati kondisi dengan melakukan diversifikasi bisnis. Acara-acara akhirnya diciptakan secara mandiri dengan risiko yang rendah dan tidak bergantung pada anggaran pemerintah.

Pemerintah saat ini sedang menghemat anggaran besar-besaran, tetapi masih dapat membantu dengan memberi dukungan (endorsement) agar pelaku industri berpartisipasi pada acara yang dibuat. Dengan cara ini, pembuat acara dapat lebih mudah mengantongi permodalan. Kegiatan-kegiatan berisiko rendah saat ini menjadi solusi untuk MICE. Sebaliknya, acara berisiko besar, seperti konser musik, dikurangi sementara waktu.

Terlepas siasat yang sudah dilakukan, Andreas berharap, pemerintah lebih realistis. Pihaknya tidak serta-merta memotong anggaran, tetapi lebih mengontrol belanja agar lebih efisien dan efektif.

Nusantara International Convention Exhibition Pantai Indah Kapuk (NICE PIK) 2, Banten juga lebih bergeliat pada 2026 ketimbang 2025. Tahun lalu, tempat acara itu hanya beroperasi sekitar empat bulan, sebaliknya tahun ini, penyelenggaraan kegiatan berlangsung selama setahun penuh.

Baca JugaBiaya Konser Musik Bengkak, ”The Show Must Go On”

Director Commercial, Convention & Exhibition Agung Sedayu Group dan Managing Director NICE PIK 2 Ryan Adrian mengemukakan, hanya terdapat 21 kegiatan selama empat bulan pada 2025. Pada 2026, total hampir 80 kegiatan dilaksanakan selama setahun, sehingga kinerja MICE lebih baik.

“Cuma memang beberapa event banyak mengurangi skalanya, jadi mengecil. Awalnya booking empat kegiatan jadi tiga kegiatan, tiga kegiatan jadi dua kegiatan. Beberapa terjadi karena tekanan ekonomi dan geopolitik. Sponsor dan lain-lain agak melemah ya. Acara dijalankan dengan lebih hati-hati,” tutur Ryan.

Sektor MICE yang mengalami pengurangan skala ini utamanya merupakan kegiatan pameran. Namun, Ryan berpendapat, kegiatan risiko tinggi dan risiko rendah tidak begitu berpengaruh asal dapat menargetkan acara sesuai segmentasi pasarnya.

Konser Andrea Bocelli bertajuk Romanza 30th Anniversary World Tour Indonesia yang dilaksanakan di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, misalnya, masih tetap berjalan baik. Konser maestro kondang itu menyasar kalangan menengah atas.

Baca JugaAndrea Bocelli Janjikan Penampilan Terbaiknya

Dalam penilaiannya, kegiatan yang dikemas dengan hiburan justru dapat menarik lebih banyak pengunjung. Sebab, MICE banyak berhasil saat bercampur dengan aspek hiburan, ada aspek business to consumer (B2C) dan business to business (B2B).

“Event-event itu enggak masalah kalau dia punya pangsa pasar yang tepat. Event enggak ada masalah selama punya produk yang pas dengan pangsa pasar yang dituju, pas,” kata Ryan.

Saat-saat seperti ini semestinya pameran perlu lebih banyak digelar untuk mendekatkan produk ke masyarakat. Dengan begitu, ada tuntutan inovasi juga untuk menarik lebih banyak kerumunan.

Meski demikian, Ryan memproyeksikan pada 2027 performa akan lebih baik. Sebab, NICE PIK 2 banyak mengakomodasi kontrak-kontrak jangka panjang 3-5 tahun. Untuk tahun depan, jumlah pesanan juga terbilang baik. Situasi perlu dijaga kondusif, agar kegiatan-kegiatan ini dapat terus berjalan baik. Acara internasional perlu digalakkan untuk mendorong pertumbuhan nasional MICE, menjaga performa tetap baik.

“Belanja pemerintah pada sektor MICE juga perlu ditingkatkan karena ini sudah berkurang sangat jauh guna mendorong dinamika industri. Kalau regulasi saja itu sudah banyak, yang mesti dilihat itu sesuatu yang riil, dananya digelontorkan di situ untuk mendorong industri menggeliat,” ujar Ryan.

Strategi bertahan

Kementerian Keuangan menginstruksikan penghematan anggaran pada triwulan IV-2026. Kementerian/Lembaga perlu menghemat pelaksanaan kegiatan perjalanan dinas sebesar 30 persen dari pagu perjalanan dinas yang belum direalisasikan, khususnya berlaku pada belum disampaikannya pengajuan Surat Perintah Membayar (SPM) sampai 8 Oktober 2026.

Bentuk penghematannya berupa optimalisasi pertemuan secara daring, pembatasan perjalanan yang tidak prioritas, serta efisiensi jumlah dan frekuensi perjalanan dinas. Kelancaran pelaksanaan tugas dan program prioritas perlu tetap dijaga.

Selain pelaku industri MICE, sektor hotel dan restoran terdampak pemangkasan anggaran serupa yang dilakukan pemerintah sejak 2025. Kondisi ini mendorong mereka bersiasat untuk bertahan.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, kini para pengusaha fokus menggarap penjualan kamar, alih-alih bertumpu pada kegiatan MICE. Setelah aktivitas menyusut drastis karena pemangkasan anggaran pemerintah, okupansi kamar berkontribusi besar terhadap pemasukan hotel dan restoran.

“Sebenarnya sudah mulai adaptasi sejak pemerintah itu mengeluarkan instruksi efisiensi. Kami kehilangan market MICE, pasar MICE turun drastis, hampir dibilang enggak ada. Cukup banyak, sekitar 20-30 persen dibanding kondisi normal. Kebanyakan income makanan dan minuman melalui aktivitas di ballroom,” ujarnya.

Baca JugaBergeser dari Pemasaran ”Ballroom”, Pengusaha Hotel Kini Berorientasi Jual Kamar

Secara terpisah, pakar pariwisata, Sapta Nirwandar, mengatakan, pemerintah tetap dapat mendorong industri MICE bergeliat dengan mengadakan konferensi. Sebab, kegiatan itu dinilai tidak membutuhkan modal terlalu banyak, tetapi ketika tamu undangan berdatangan, secara tidak langsung, modal akan kembali. Efek pengganda dapat dirasakan ke sektor-sektor lain.

“Tetapi memang harus kerja keras untuk meyakinkan klien-klien kita. Itu yang perlu kita dorong, memberikan stimulus, rangsangan agar orang-orang datang. Ada fasilitas yang memudahkan orang nyaman ke Indonesia,” tuturnya.

Sapta menilai, pemerintah dapat mengurangi anggaran untuk perjalanan dinas dan melakukan kegiatan MICE. Namun, tidak serta-merta seluruh anggaran dihilangkan.

“Menurut saya, boleh saja pemotongan, penghematan (anggaran). Jangan sapu jagat, semua sama. Butuh kerja sama, termasuk menghadiri konferensi-konferensi yang bisa bawa orang ke Indonesia. Guna memfasilitasi kegiatan domestik agar tetap jadi acuan, maka konektivitas transportasi jadi kunci,” ujarnya.

Pemerintah perlu mendorong industri dengan keberpihakan. Kemudahan bisa difasilitasi melalui promosi, fasilitas-fasilitas pertemuan bisnis. Hal itu merangsang industri memenuhi target-targetnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
AllianzGI Ungkap Reksa Dana Pasar Uang dan Pendapatan Tetap Masih Diminati Investor di Tengah Tekanan Pasar
• 15 jam lalu
0
thumb
12 Korban Ditabrak Truk di Bekasi Baru Pulang Kondangan dan Silaturahmi
• 28 menit lalu
0
thumb
Waspada, Ini Modus Hoaks yang Paling Banyak Ditemukan di Jakarta
• 7 jam lalu
0
thumb
Siapkan Payung dan Mantel, BMKG Prediksi Bandung Raya Diguyur Hujan Sepekan ke Depan
• 15 jam lalu
0
thumb
Tanpa panjat tebing, Indonesia kehilangan peluang emas SEA Games 2027
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.