jpnn.com, JAKARTA - Menteri Sosial Saifullah Yusuf alias Gus Ipul mengajak seluruh elemen bangsa meneruskan warisan perjuangan para pahlawan.
Salah satu warisan penting para pahlawan adalah konstitusi, khususnya tiga pasal yang menjadi jantung konstitusi Indonesia, yakni Pasal 31, Pasal 33, dan Pasal 34 UUD 1945.
BACA JUGA: Papua Tengah Usulkan 2 Titik Sekolah Rakyat, Gus Ipul: Wilayah 3T Jadi Prioritas
Pasal 31 mengamanatkan hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan.
Sementara itu, Pasal 33 mengatur pengelolaan kekayaan negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
BACA JUGA: Capaian di Atas Rata-rata Nasional, Ribuan Agen Perlinsos Banyumas Diapresiasi Gus Ipul
Adapun Pasal 34 menjadi landasan negara dalam memberikan perlindungan kepada fakir miskin, anak-anak terlantar, serta masyarakat yang membutuhkan jaminan dan rehabilitasi sosial.
“Dari Undang-Undang Dasar itu dapat dlihat dengan nyata bahwa para pahlawan tidak berpikir untuk dirinya sendiri. Mereka berpikir untuk bangsa Indonesia, khususnya generasi yang akan datang,” jelasnya.
BACA JUGA: 1 Tahun Sekolah Rakyat, Gus Ipul: Negara Hadir Memutus Rantai Kemiskinan
Hal tersebut disampaikan Gus Ipul pada Malam Peringatan Hari Pahlawan yang digelar di Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (2/11).
Acara ini mengangkat tema, "Pahlawanku Teladanku, Melangkah Bersama Melanjutkan Perjuangan".
Landasan konstitusi di atas, menurut Gus Ipul, secara nyata diterjemahkan Presiden Prabowo Subianto melalui arahan agar Kementerian Sosial (Kemensos) bekerja cepat mewujudkan amanat Pasal 34, dimulai dengan menghadirkan data yang akurat.
Dengan data yang tepat, bantuan pemerintah diharapkan benar-benar diterima oleh masyarakat yang paling membutuhkan.
“Kami ngin datanya akurat, sasarannya tepat, sehingga bantuan pemerintah diterima oleh mereka yang paling membutuhkan,” tegasnya.
Selain data akurat, salah satu upaya konkret untuk menjalankan amanat tersebut adalah melalui Program Sekolah Rakyat.
Gus Ipul menjelaskan, program yang merupakan gagasan langsung Presiden Prabowo Subianto ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga paling tidak mampu, khususnya mereka yang putus sekolah atau berisiko tidak dapat melanjutkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi keluarga.
“Hadirnya Sekolah Rakyat ini untuk menjangkau mereka yang tertera dalam Pasal 34, yaitu fakir miskin dan anak-anak terlantar. Mereka berasal dari keluarga-keluarga paling tidak mampu yang sebelumnya tidak memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan secara layak,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Ipul juga memaparkan ada empat nilai utama yang dapat diteladani dari para pahlawan, yakni keberanian, ketulusan, rela berkorban, dan kedisiplinan. Keempat nilai tersebut merupakan warisan perjuangan yang perlu terus dihidupkan oleh generasi penerus bangsa.
“Para pahlawan memiliki keberanian luar biasa, tetapi keberanian itu bukan tanpa tujuan. Mereka berani untuk memerdekakan bangsa ini,” kata Gus Ipul di hadapan para murid Sekolah Rakyat dan keluarga pahlawan nasional Indonesia yang hadir di lokasi.
Dia menegaskan, keberanian para pahlawan bukanlah keberanian untuk memusuhi sesama anak bangsa, melainkan keberanian menghadapi penjajahan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Nilai tersebut perlu menjadi inspirasi agar masyarakat berani memperjuangkan kebaikan dan kepentingan bangsa. Nilai kedua adalah ketulusan.
Menurut Gus Ipul, para pahlawan telah menunjukkan ketulusan dalam memperjuangkan Indonesia tanpa mengutamakan kepentingan pribadi maupun keluarga.
Keteladanan itu juga tercermin dari keluarga dan keturunan para pahlawan yang tetap berkontribusi secara sukarela dalam berbagai kegiatan kenegaraan dan sosial tanpa meminta keistimewaan.
"Maka itu, kita doakan mudah-mudahan seluruh keluarga pahlawan diberi kekuatan untuk meneruskan perjuangan para leluhurnya. Inilah ketulusan yang harus kita tiru. Ketulusan yang harus kita catat karena sesungguhnya pahlawan memang memperjuangkan untuk kepentingan Indonesia, tidak untuk kepentingan dirinya sendiri maupun keluarganya," tegasnya.
Selanjutnya, Gus Ipul juga mengajak meneladani sikap rela berkorban para pahlawan.
Gus Ipul menjelaskan, setelah Indonesia merdeka, banyak pahlawan tidak mengejar kekayaan maupun jabatan.
Sebagian dari mereka bahkan kembali menjalani profesi semula sebagai petani, nelayan, maupun pelayan masyarakat di daerah masing-masing.
Tak kalah penting, nilai kedisiplinan para pahlawan juga harus diteladani.
Gus Ipul mengatakan kedisiplinan para pahlawan tidak hanya terlihat dari ketepatan waktu atau kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga dari sikap menjaga amanah dan membedakan kepentingan negara dengan kepentingan pribadi.
“Para pahlawan juga disiplin dalam menjaga harta mereka. Mereka memisahkan mana harta negara dan mana harta pribadi. Itulah luar biasanya para pahlawan kita,” ungkapnya.
Ajakan meneladani nilai-nilai yang diwariskan juga datang dari Ketua Umum Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Prof Meutia Farida Hatta Swasono.
Dia berharap generasi muda tidak sekadar mengenal pahlawan nasional melalui catatan sejarah, tetapi juga memahami dan meneruskan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan.
Menurutnya, setiap pahlawan nasional memiliki peran dan perjuangan masing-masing dalam berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, pertahanan, sosial budaya, kemasyarakatan, hukum, hingga pendidikan.
Meski memiliki latar belakang perjuangan yang berbeda, mereka dipersatukan oleh semangat pengabdian serta kecintaan terhadap bangsa dan tanah air Indonesia.
“Kami sebagai keluarga mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh orang tua dan leluhur kami. Kecintaan mereka kepada rakyat dan tanah air Indonesia menjadi nilai-nilai yang kami catat, kami tulis dalam memorabilia, dan kami simpan agar cita-cita, semangat, serta perasaan cinta tanah air dan bangsa tetap terjaga,” ujar Meutia.
Putri proklamator Indonesia, Mohammad Hatta ini menjelaskan, salah satu upaya IKPNI dalam memperkenalkan warisan perjuangan tersebut dilakukan melalui pameran yang menampilkan buku-buku dan berbagai memorabilia peninggalan para pahlawan nasional.
Pameran ini menjadi sarana edukasi agar masyarakat, terutama anak-anak muda dan siswa Sekolah Rakyat agar dapat mengenal lebih dekat sejarah sekaligus nilai-nilai perjuangan para pahlawan.
Meutia menegaskan, kepahlawanan tidak semata-mata berbicara tentang sosok yang tercatat dalam buku sejarah.
Lebih dari itu, hal terpenting adalah memahami semangat, pengorbanan, keberanian, dan kecintaan mereka terhadap Indonesia yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan saat ini.
“Pahlawan itu tidak hanya ada di dalam sejarah, tetapi yang lebih penting adalah nilai-nilai dan semangat yang ada pada diri mereka masing-masing. Itu bisa dibaca melalui buku, tetapi juga akan terus kami sosialisasikan,” tuturnya.
Acara Malam Peringatan Hari Pahlawan diisi dengan berbagai penampilan.
Mulai dari grup angklung IKPNI, hingga drama musikal siswa-siswi Sekolah Rakyat yang berkolaborasi dengan aktor Aryo Wahab serta IKPNI.
Gus Ipul dan seluruh tamu yang hadir tampak terpukau dan bangga dengan penampilan para murid dalam drama musikal itu.
Ia bahkan sampai mengacungkan jempolnya sebagai bentuk pujian.
Tak hanya itu, Anggota Komisi VIII DPR Sigit Purnomo (Pasha) yang hadir dalam acara tersebut juga ikut menghibur para tamu dengan menyumbangkan suara merdunya bersama sang istri Adelia Wilhelmina.
Ia membawakan tiga lagu dan sempat menyapa siswa-siswi Sekolah Rakyat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Penasihat DWP Kemensos Fatma Saifullah Yusuf, Wakil Penasihat DWP Kemensos Intan Agus Jabo, Sekjen Kemensos M Hasan Chabibie, Dirjen Dayasos Kemensos Mira Riyati, Dirjen Rehsos Kemensos Supomo, serta keluarga para pahlawan yang tergabung dalam IKPNI. (mrk/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Gus Ipul Kumpulkan Kepala Sekolah Rakyat se-Indonesia, Konsolidasi Hadapi Banyak Tantangan
Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi





Komentar (0)