Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara mewaspadai potensi kenaikan harga pangan di tengah kondisi kekeringan yang bisa mempengaruhi produksi.
Hal ini menjadi perhatian pemerintah menyusul inflasi tahunan pada Oktober 2026 yang mencapai 3,23 persen.
Suahasil menilai tingkat inflasi tersebut masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia (BI). Namun, katanya, pemerintah tetap perlu mencermati pergerakan komponen inflasi, terutama harga pangan atau volatile food.
“Inflasi kan 3,2 dan itu ada di dalam range. Dan kemudian kita lihat komponen-komponennya, yang perlu semua administered price oke, kalau inflasi inti juga oke,” kata Suahasil saat ditemui di Mahkamah Agung, Jakarta, Selasa (3/11).
Menurut Suahasil, komponen yang perlu diwaspadai adalah volatile food karena kondisi kekeringan berpotensi mempengaruhi produksi pangan. Karena itu, pemerintah bakal terus berkoordinasi untuk memastikan ketersediaan pasokan.
“Lalu kemudian yang perlu kita waspadai adalah volatile food karena sedang dalam kekeringan. Jadi memang harus kita waspadai terus ke depannya, seperti apa produksi barang-barang kita. Kita tingkatkan, kita koordinasi terus di pemerintah memastikan ketersediaan pangan,” ujarnya.
Suahasil melanjutkan, harga pangan akan terus dipantau agar ketersediaannya tetap terjaga di tengah tantangan produksi.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Oktober 2026 mengalami inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 3,23 persen.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan inflasi Oktober 2026 lebih rendah dibandingkan September 2026 maupun periode yang sama tahun sebelumnya.
“Terjadi inflasi di Oktober 2026 yang lebih rendah daripada bulan September 2026 dan bulan yang sama di tahun lalu,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (2/11).
Adapun inflasi tahun kalender atau year-to-date (ytd) hingga Oktober 2026 tercatat sebesar 2,40 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar, dengan inflasi sebesar 0,51 persen dan andil terhadap inflasi mencapai 0,15 persen.
Komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,09 persen, dengan andil inflasi 0,02 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah tarif angkutan udara.
Kemudian, komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,77 persen, dengan andil inflasi 0,13 persen. Komoditas penyumbang adalah cabai merah, cabai rawit, tomat, sawi hijau, labu siam dan sawi putih.






Komentar (0)