UKI Toraja dan UHO Olah Limbah Kelapa Jadi Produk Bernilai Ekonomi

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, LUWU — Universitas Kristen Indonesia (UKI) Toraja bersama Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari mendampingi masyarakat Desa Tampa, Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu, mengolah limbah kelapa menjadi produk bernilai ekonomi.

Melalui Program Kosabangsa 2026, kolaborasi dua perguruan tinggi ini mengembangkan pengolahan air kelapa menjadi nata de coco dan tempurung kelapa menjadi briket arang. Program tersebut sekaligus mendorong pembibitan kelapa unggul berbasis biofertilizer.

Selama ini, sebagian besar petani di Desa Tampa masih menjual kelapa dalam bentuk bahan baku. Sementara air kelapa dan tempurung yang merupakan hasil sampingan pengolahan belum dimanfaatkan secara optimal.

Program bertajuk “Integrasi Bio Fertilizer pada Pendederan Kelapa Unggul dan Valorisasi Limbah Terpadu Bernilai Ekonomis untuk Pemberdayaan Gapoktan di Kabupaten Luwu” ini diketuai Formanto Pailing dari UKI Toraja.

Tim pelaksana terdiri atas Althon K. Pongtuluran yang menangani bidang manajemen dan pemasaran serta Sefrin Siang Tangke Arung di bidang pendidikan, literasi digital, dan pemberdayaan masyarakat. Pelaksanaan program juga melibatkan mahasiswa lintas disiplin.

Sementara tim pendamping dari UHO diketuai RH. Fitri Faradilla dari bidang Teknologi Pangan, bersama Prof. Dr. Ir. Muhammad Taufik, M.Si. (Proteksi Tanaman) dan Dr. Nini Mila Rahni (Agroteknologi/Budidaya Pertanian).

Program ini melibatkan dua kelompok mitra, yakni Kelompok Tani Bungalaow Tampa yang diketuai Kaharuddin dan Kelompok Wanita Tani Sipakatuo yang diketuai Erni. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan Pemerintah Desa Tampa di bawah kepemimpinan Muh. Tahir serta Koperasi Desa Merah Putih yang diketuai Anni Puji Dwi Astuti.

Kembangkan Pembibitan Kelapa Unggul

Selain pengolahan limbah, program ini menyasar peningkatan kualitas pembibitan kelapa. Selama ini, petani masih mengandalkan kecambah alami tanpa melalui seleksi pohon induk.

Melalui pendampingan tersebut, tim membangun demplot pembibitan kelapa dengan menerapkan seleksi benih dan penggunaan biofertilizer berbasis mikroba indigenus.

Teknologi ini diharapkan menghasilkan bibit yang lebih seragam, sehat, dan tahan terhadap penyakit.

“Kami mendorong petani mampu memproduksi bibit unggul secara mandiri, sehingga tidak terus bergantung pada pasokan dari luar daerah,” ujar Formanto, Selasa (3/11).

Air Kelapa Jadi Nata de Coco

Pada sektor hilir, Kelompok Wanita Tani Sipakatuo mendapatkan pelatihan pengolahan air kelapa menjadi nata de coco dan tempurung kelapa menjadi briket arang.

Kedua produk tersebut ditargetkan dapat diproduksi secara rutin dua kali dalam sebulan. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.

Pendampingan tidak hanya berfokus pada proses produksi, tetapi juga mencakup penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), pengurusan legalitas produk, pengembangan kemasan dan merek, hingga pemasaran digital.

“Selama ini tempurung dan air kelapa hanya menjadi limbah. Kini keduanya bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi ibu-ibu,” kata RH. Fitri Faradilla.

Libatkan Pemerintah dan Koperasi

Keberlanjutan program turut diperkuat melalui dukungan pemerintah desa dan kelembagaan ekonomi masyarakat. Pemerintah Desa Tampa memberikan dukungan, termasuk dana padanan sebesar Rp10 juta.

Koperasi Desa Merah Putih juga dilibatkan sebagai mitra pemasaran sekaligus penguatan kelembagaan usaha kelompok masyarakat.

Kepala Desa Tampa, Muh. Tahir, mengatakan program tersebut sejalan dengan arah pembangunan desa, khususnya dalam mendorong hilirisasi komoditas unggulan.

“Program ini sejalan dengan arah pembangunan desa kami, khususnya hilirisasi komoditas unggulan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (3/11).

Mengusung semangat ekonomi sirkular dan ekonomi hijau, program ini juga mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), antara lain pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, pekerjaan layak, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Dengan pendekatan Participatory Technology Development, masyarakat dilibatkan secara aktif dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, evaluasi, hingga penyusunan rencana keberlanjutan.

Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat ini diharapkan menjadikan Desa Tampa sebagai salah satu model pengembangan agrobisnis kelapa terpadu yang mandiri dan berkelanjutan di Kabupaten Luwu. (edy/*)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Cuaca BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem di Sumatra hingga Papua pada 3-5 November
• 9 jam lalu
0
thumb
Proses Pencarian 2 Wisatawan Tertimpa Longsor di Badung Bali
• 4 jam lalu
0
thumb
Ubed dan Richie Siap Hadapi Tantangan Baru di Korea Open 2026
• 2 jam lalu
0
thumb
Misi An Se Young Menyamai Rekor Juara di Korea Open 2026
• 2 menit lalu
0
thumb
Polri Bongkar Modus TPPO WNI jadi Tentara Bayaran Rusia
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.